Jumat, 04 Mei 2012

Berkomitmen dalam Hubungan Percintaan

Cinta adalah sebentuk emosi. Sebagaimana bentuk emosi lain, sulit untuk bisa bertahan sangat lama. Padahal orang selalu berharap untuk memiliki cinta selamanya. Nah, oleh karena itu harus ada komitmen untuk melanggengkan cinta. Jika cinta surut, bisa dikuatkan kembali dengan adanya komitmen. Adanya komitmen inilah yang menjamin keberlanjutan hubungan cinta. Jika tidak ada komitmen, maka pada saat cinta surut hubungan akan bubar. Mereka-mereka yang kawin-cerai berkali-kali biasanya hanya memiliki cinta tapi tidak memiliki komitmen.

Lalu apa sesungguhnya komitmen? Komitmen diartikan sebagai keadaan psikologis dimana seseorang merasa terikat atau terhubung dengan seseorang, dan secara langsung mempengaruhi keputusan seseorang untuk melanjutkan atau mengakhiri hubungan. Jika Anda memiliki komitmen tinggi, maka Anda merasa sangat terikat dengan pasangan dan tidak akan mengakhiri hubungan. Jika hubungan rusak, Anda akan berupaya memperbaikinya. Sebaliknya jika Anda memiliki komitmen rendah, maka Anda kurang terikat dengan pasangan. Boleh jadi Anda akan selingkuh atau malah berniat mengakhiri hubungan. Sedangkan jika Anda mengakhiri hubungan sama sekali, tentu saja Anda akan disebut tidak berkomitmen.

Komitmen lebih sering merupakan hasil dari suatu proses, ketimbang muncul tiba-tiba. Dan yang harus di garis bawahi biasanya komitmen akan muncul jika kepuasan dalam hubungan meningkat, semakin langkanya alternatif hubungan (misalnya sulit mendapatkan kekasih baru), dan telah sedemikian besar investasi yang ditanam dalam hubungan (misalnya pengalaman menjalani kesulitan bersama).
Secara umum komitmen bisa dibagi ke dalam 2 kategori berdasarkan motivasinya, yakni komitmen mendekat dan komitmen menjauh. Jenis komitmen mendekat adalah komitmen yang ditandai dengan keinginan melanjutkan hubungan karena bisa mendapatkan sesuatu yang positif. Misalnya percaya bahwa jika berkomitmen akan membuat hidupnya lebih bahagia. Sedangkan jenis komitmen menghindar ditandai dengan keinginan melanjutkan hubungan karena khawatir dampak negatif jika hubungan bubar. Misalnya was-was bakal sulit mendapatkan pengganti sepadan, takut kehilangan sumber finansial, takut dikecam keluarga dan lainnya. Orang yang memiliki tipe komitmen menghindar ini pada umumnya memiliki kepuasan hidup yang rendah.

Kamis, 03 Mei 2012

Pegang Tangan Pasangan Mengobati Stress!

Kehadiran pasangan tentunya memiliki banyak makna untuk Anda. Menurut penelitian terbaru, pasangan Anda bisa membantu menghilangkan stress dengan mudah.
Banyak cara mengungkapkan kasih sayang dengan pasangan. Salah satu yang sering dilakukan adalah dengan berpegangan tangan.
Ternyata berpegangan tangan tak hanya meningkatkan kemesraan. Aksi sederhana tersebut dengan pasangan juga bisa menjadi solusi menghilangkan stress.
Hal ini terungkap dari sebuah studi oleh psikolog Dr. James Coan dari Universitas Virginia. Penelitian tersebut menunjukkan efek pegangan tangan ternyata tak hanya ditimbulkan oleh jari tapi juga oleh otak.
Penelitian ini melibatkan 16 wanita dalam pernikahan bahagia yang sedang mengalami stres. Selama studi, peneliti memantau aktivitas otak menggunakan sebuah mesin khusus untuk melihat tingkat stres wanita.
Coan mengukur aktivitas yang dihasilkan pada respon stres otak mereka. Dia menggunakan sengatan listrik ketika peserta memegang tangan orang lain dan sekali lagi diberi sengatan listrik ketika mereka memegang tangan suaminya.
Hasil menunjukkan bahwa respon stres di otak menurun ketika wanita memegang tangan orang lain dan tingkat stres semakin berkurang ketika mereka menggenggam tangan suaminya.
Perasaan aman ketika berada dalam genggaman orang tercinta sepertinya mampu menurunkan level stress. Genggaman tangan sebagai hal yang sederhana dalam sebuah hubungan ternyata memiliki manfaat yang luar biasa.
Menurut artikel dari New York Times, dapat diasumsikan bahwa kebahagiaan perkawinan mengarah ke kesehatan yang lebih baik. Nah, ketika pasangan Anda sedang marah untuk alasan apapun, tak ada salahnya mencoba mengenggam tangan untuk menenangkan dan membuatnya merasa lebih baik.
Bergandengan tangan tak hanya wajib dilakukan pada saat bermasalah. Sehari-hari ketika beraktivitas bersama, tak ada salahnya menggenggam tangan pasangan untuk membuat hubungan lebih bahagia. Selamat mencoba!

Bisakah Menolak Jatuh Cinta?





Bisa dibilang memang cinta itu penuh misteri, kita tak bisa menebak kapan kita jatuh cinta dan kapan tepatnya kita bertemu seseorang yang membuat kita jatuh cinta.

Tak jarang pula setelah beberapa saat putus cinta, tiba-tiba ada orang baru yang masuk ke dalam hidup kita dan membuat kita merasa nyaman. Ada yang berpikir bahwa hal tersebut bisa jadi adalah pelarian semata, namun siapa sih yang bisa menolak jatuh cinta?

Ketahui benar perasaan Anda

Kenali dan tanyakan sekali lagi pada hati kecil Anda, apakah ini memang benar perasaan suka? Dan, sebenarnya bukanlah hal yang tidak mungkin bila seseorang menyukai lebih dari satu orang sekaligus. Terutama bila berkaitan dengan ketertarikan secara fisik.

Rasa suka tak bisa ditolak

Ketika Anda menyukai sesuatu, Anda tak akan bisa menolaknya. Seperti halnya saat Anda makan ice cream, Anda suka rasanya, Anda tentu tak bisa menolak kelezatannya kan?

Itu bukan pelarian

Ketahuilah bahwa jatuh cinta bukanlah sebuah pelarian, jatuh cinta lebih pada perasaan suka dan tertarik pada seseorang. Selanjutnya bisa disebut pelarian bila memang Anda memaksakan diri untuk selalu dekat dan suka padanya.

Anda bisa menolak komitmen

Saat Anda jatuh cinta pada seseorang dan merasa bahwa semua yang ada pada dia membuat Anda nyaman, Anda tak bisa menolaknya. Satu-satunya hal yang bisa Anda tolak adalah komitmen.

Jadi, mengapa Anda harus menolak untuk jatuh cinta pada seseorang? Tak ada ruginya kok Anda jatuh cinta dan merasa suka, yang harus Anda pikirkan adalah langkah yang akan Anda tempuh kemudian. Apakah akan memberikan banyak kabar baik atau malah membuat Anda atau orang lain kecewa.

Sumber : http://metrotvnews.com/read/news/2011/10/18/68537/Bisakah-Menolak-Jatuh-Cinta

Theme For Nokia S60 3rd

Comments