Tampilkan postingan dengan label Laporan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Laporan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 Oktober 2010

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)

LEMBAR PENGESAHAN



KEPALA DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA
DAN TIM PENYUSUNAN KURIKULUM
SDN XXX



TELAH MENGESAHKAN DAN MEMBERLAKUKAN
KURIKULUM SDN XXX
TAHUN PELAJARAN 2010-2011




DISAHKAN DI : XXX
PADA TANGGAL : 12 Juli 2010

Ketua Komite Sekolah Kepala Sekolah




Xxxxxxxxxx Xxxxxxxxxx
NIP: XXX



a.n.KEPALA DINAS PENDIDIKAN PEMUDA
DAN OLAHRAGA
KABUPATEN LAMPUNG TIMUR
KEPALA BIDANG PENDIDIKAN DASAR




XXXXXXXXXXXXXXXX
NIP. XXXXXXXXXX





KATA PENGANTAR


Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat, inayah dan hidayah-Nya kepada kita semua sehingga kita masih bisa melakukan tugas dengan baik dalam menyusun KTSP untuk meningkatkan mutu prndidikan.

Penyusunan Kurikulum Sekolah Dasar Negeri XXX, sebagai bentuk Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dimaksudkan sebagai kurikulum operasional dalam pembelajaran baik yang diselenggarakan di dalam kelas maupun di luar kelas. Untuk menyusun Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) di sekolah, sangat diperlukan semangat, kemampuan, kemauan, dan kerja sama dari komponen pelaksana pendidikan terutama kepala sekolah, guru, komite sekolah, maupun nara sumber (konselor). Dalam penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) khusus dikoordinasi dan disupervisi oleh Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Lampung Timur yang berpedoman pada Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL).

Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) di Sekolah Dasar Negeri XXX masih jauh dari kesempurnaan, maka dari itu kami memerlukan binaan, bimbingan, serta masukan dari berbagai pihak. Oleh karena itu kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu tersusunnya KTSP Sekolah Dasar Negeri XXX Kecamatan labuhan Maringgai Kabupaten Lampung Timur untuk Tahun Pelajaran 2010-2011.

XXX, 12 Juli 2010
Kepala Sekolah




Xxxxxxxxxx
NIP: XXX




DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL 0
LEMBAR PENGESAHAN 1
KATA PENGANTAR 2
DAFTAR ISI 3
BAB I. PENDAHULUAN 4
A. Latar Belakang 4
B. Landasan 4
C. Tujuan Penyusunan Kurikulum 4
D. Prinsip Pengembangan Kulrikulum 5
Bab II. VISI, MISI DAN TUJUAN PENDIDIKAN 7
A. Visi 7
B. Misi 8
C. Tujuan Sekolah 8

BAB III. STRUKTUR DAN MUATAN KURIKULUM 11
A. Struktur Kurikulum 11
B. Muatan Kurikulum 11
1. Mata Pelajaran 11
2. Muatan Lokal 17
3. Pengembangan Diri 19
4. Kegiatan Pembiasaan 20
5. Pengaturan Beban Belajar 20
6. Standar Ketuntasan Belajar Minimal 21
7. Kriteria Kenaikan Kelas dan Kelulusan 22
8. Pendidikan Kecakapan Hidup
9. Pendidikan Budaya Dan Karakter Bangsa 22
10. Pendidikan Berbasis Keunggulan Global dan Lokal 23

BAB IV. KALENDER PENDIDIKAN 24
BAB V. PENUTUP 26
LAMPIRAN-LAMPIRAN ……………………………………………………


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dari perubahan paradigma penyelenggaraan pendidikan dari sentralisasi kedesentralisasi mendorong terjadinya perubahan dan pembaharuan pada beberapa asfek pendidikan termasuk kurikulum. Dalam kaitan ini kurikulum sekolah dasar pun menjadi perhatian dan pemikiran-pemikiran baru sehingga mengalami perubahan-perubahan kebijakan.

Kurikulum adalah seperangkat rencana proses pembelajaran dan pengaturan mengenai ujian, isi, dan bahan pelajaran untuk mencapai tujuan yang telah direncanakan.

Untuk menyikapi tantangan dan harapan ini, maka SDN XXX dengan sungguh-sungguh menciptakan pengelolaan pendidikan dengan diawali membuat atau menyusun kurikulum yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi lingkungan sekolah.

Hal ini selaras dengan apa yang disaratkan dalam Undang-Undang No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 36 Ayat (2) yang ditegaskan bahwa Kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik. Atas dasar pemikiran itu maka dikembangkan apa yang dinamakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)

B. Landasan

Kurikulum SDN XXX dilandasi beberapa ketentuan dengan tata urutan antara lain sebagai berikut :
1. UUD 1945 Pasal 31
2. UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
3. PP Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
4. PP Nomor 74 tahun 2008 tentangt Guru
5. Kepmendiknas Nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi.
6. Kepmendiknas Nomor 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan.
7. Kepmendiknas Nomor 24 tahun 2006 tentang Pelaksanaan Kepmendiknas
Nomor 22 dan 23.
8. Permen Diknas Nomor 19 tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan
Pendidikan oleh satuan pendidikan dasar dan menengah.
9. Permen Diknas Nomor 41 tahun 2007 tentang Standar Proses untuk satuan
pendidikan dasar dan menengah.
10. Inpres Nomor 1 tahun 2010 tentang RPJM 2010 – 2014
11. Proghram 100 hari Kementrian Pendidikan Nasional tentang penyempurnaan
Kurikulum dan Metodologi Pembelajaran Aktif berdasarkan Pendidikan
Budaya dan Karakter Bangsa.
C. Tujuan Penyusunan Kurikulum

Kurikulum SDN XXX disusun dengan maksud untuk dijadikan acuan bagi semua komponen yang terlibat dalam pengelolaan dan peningkatan mutu pendidikan SDN XXX dalam tahun pelajaran 2010-2011 yang sesuai dengan tugas pokok dan fungsi serta kedudukan setiap komponen yang terlibat di dalamnya.

Selain itu agar setiap komponen yang ada di SDN XXX memiliki persepsi yang sama dan sinergi dalam mewujudkan visi, misi yang telah menjadi kesepakatan bersama, sehingga peserta didik SDN XXX menjadi siswa yang berkompeten, terdidik, berbudaya, dan berakhlak mulia serta diakui keberadannya oleh masyarakat seiring dengan perkembangan pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas.

D. Prinsip Pengembangan Kurikulum

KTSP dikembangkan sesuai dengan relevansinya oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan di bawah kondisi dan supervisi dinas pendidikan atau kantor Departemen Agama Kabupaten/Kota untuk pendidikan dasar, dan provinsi untuk pendidikan menengah. Pengembangan KTSP mengacu pada Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dan berpedoman pada panduan penyusunan kurikulum yang disusun oleh BSNP, serta memperhatikan pertimbangan komite sekolah/madrasah. Penyususunan KTSP untuk pendidikan khusus dikoordinasi dan disupervisi oleh dinas pendidikan provinsi, dan berpedoman pada SI dan SKL serta panduan penyusunan kurikulum yang disusun oleh BSNP.

KTSP dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut :

1. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta
didik dan lingkungannya.

Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik memiliki posisi
sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman
dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu,
cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta
bertanggung jawab. Untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut pengembangan
kompetensi peserta didik disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan,
dan kepentingan peserta didik serta tuntutan lingkungan. Memiliki posisi sentral
berarti kegiatan pembelajaran berpusat pada peserta didik.

2. Beragam dan terpadu

Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan keragaman karakteristik peserta
didik, kondisi daerah, jenjang dan jenis pendidikan, serta menghargai dan tidak
diskriminatif terhadap perbedaan agama, suku, budaya, adat istiadat, status sosial
ekonomi, dan jender. Kurikulum meliputi substansi komponen muatan wajib
kurikulum, muatan lokal, dan pengembangan diri secara terpadu, serta disusun
dalam keterkaitan dan kesinambungan yang bermakna dan tepat antar substansi.

3. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, tehnologi, dan seni

Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pengetahuan, tehnologi
dan seni yang berkembang secara dinamis. Oleh karena itu, semangat dan isi
kurikulum memberikan pengalaman belajar peserta didik untuk mengikuti dan
memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan, tehnologi, dan seni.

4. Relevan dengan kebutuhan kehidupan

Pengembangan kurikulum dilakukan dengan melibatkan pemangku kepentingan
(stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan kehidupan,
Termasuk di dalamnya kehidupan kemasyarakatan, dunia usaha, dan dunia kerja.
Oleh karena itu, pengembangan ketrampilan pribadi, ketrampilan berpikir,
ketrampilan social, ketrampiulan akademik, dan ketrampilan vokasional
keniscayaan.

5. Menyeluruh dan berkesinambungan

Substansi kurikulum mencakup keseluruhan dimensi kompetensi, bidang kajian
keilmuan, dan mata pelajaran yang direncanakan dan disajikan secara
berkesinambungan antar semua jenjang pendidikan.

6. Belajar sepanjang hayat

Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan, pembudayaan, dan
pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Kurikulum
mencerminkan keterkaitan antara unsur-unsur pendidikan formal, non formal, dan
informal dengan memperhatikan kondisi dan tuntutan lingkungan yang selalu
berkembang serta arah pengembangan manusia seutuhnya.

7. Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah

Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan nasional dan
kepentingan daerah untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara. Kepentingan nasional dan kepentingan daerah harus saling mengisi dan
memberdayakan sejalan dengan motto Bhinneka Tunggal Ika dalam kerangka
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)











BAB II

VISI, MISI DAN TUJUAN PENDIDIKAN

A. VISI

Berdasarkan Visi Pemerintah Daerah Kabupaten Lampung Timur yaitu :
“ TERCIPTANYA KEHIDUPAN MASYARAKAT YANG MAMPU MEMENUHI KEBUTUHAN DASAR ( BASIC NEEDS ) BAGI SELURUH LAPISAN MASYARAKAT KABUPATEN LAMPUNG TIMUR SERTA MEMILIKI DAYA SAING YANG TINGGI DI BIDANG EKONOMI, SOSIAL BUDAYA, ILMU PENGETAHUAN, DAN TEHNOLOGI”

Serta mengacu pada Visi Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten
Lampung Timur yaitu :” MEWUJUDKAN APARATUR PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA YANG PROFESIONAL, YANG BERKUALITAS UNTUK MENCIPTAKAN SDM YANG CERDAS DAN KOMPETITIF,MENUJU MASYARAKAT MADANI DI BUMEI TUAH BEPADUN”

Serta mengacu pada Visi Koordinator Pelaksana Pendidikan Pemuda dan Olahraga
Kecamatan Labuhan Maringgai yaitu : ” TERWUJUDNYA SUMBER DAYA MANUSIA
YANG BERIMAN, BERTAQWA, CERDAS, TRAMPIL, DAN DAPAT MENGUASAI
ILMU PENGETAHUAN DAN TEHNOLOGI SERTA BERWAWASAN
KEBANGSAAN, MANDIRI DAPAT BERSAING DI ERA GLOBALISASI”

Maka Visi SDN XXX adalah sebagai berikut :
“TERWUJUDNYA PESERTA DIDIK YANG CERDAS DALAM BIDANG PENGETAHUAN DAN MENCIPTAKAN LINGKUNGAN PENDIDIKAN YANG POSITIF BAGI SISWA-SISWI SDN XXX, UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA YANG MEMILIKI KECERDASAN, PENGETAHUAN AKADEMIK, KETRAMPILAN ATAU KECAKAPAN, BERBUDI PEKERTI LUHUR, DAN BERAKHLAK MULIA”

Pada kalimat visi ini terdapat beberapa kata esensial yang perlu mendapat kejelasan
yaitu :

• Positif
• Cerdas
• Bidang pengetahuan
• Kecakapan hidup
• Berbudi pekerti
• Berakhlak mulia

Untuk menyamakan persepsi perlu dijelaskan makna kata esensial tersebut di atas sebagai berikut :




1. Positif
Dapat membuat peserta didik aman dan nyaman berada di lingkungan
sekolah sehingga dapat mendorong terciptanya pelaksanaan proses belajar mengajar baik.
2. Cerdas
Kemampuan peserta didik dalam mengaktualisasikan potensinya ketika
menghadapi berbagai tantangan kehidupan sehari - hari serta mampu
memecahkan berbagai permasalahan yang sedang dihadapinya.

3. Bidang pengetahuan
Kemampuan peserta didik dalam menyerap informasi akademis berdasarkan
kompetensi dasar yang terdapat dalam standar isi, dan pengembangannya
sesuai dengan kondisi lingkungan setempat.

4. Kecakapan hidup
Kemampuan peserta didik dalam mengaktualisasikan dirinya sehingga mampu
berinteraksi dengan orang lain dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

5. Berbudi pekerti
Kemampuan peserta didik dalam bertindak dan berprilaku yang bersumber
pada norma-norma dan aturan yang berlaku di masyarakat. Sehingga dalam pergaulan dengan siapapun dan dimanapun dapat beradaptasi dan bertata krama yang dihargai orang lain, serta dapat membedakan hak dan kewajiban dalam kehidupan sehari-hari.

6. Berakhlak mulia
Perwujudan dari berakhlak mulia adalah peserta didik mempunyai kemampuan berfikir, bertutur kata, dan bertindak yang sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku dalam kehidupan berkeluarga, bertetangga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

7. Berbudaya
Budaya diartikan sebagai keseluruhan sistem berfkir, nilai, moral, norma dan keyakinan (belief) manusia yang dihasilkan masyarakat. Sistem berfikir, keyakinan itu adalah hasil dari interaksi manusia dengan sesamanya dan lingkungan alamnya yang digunakan dalam kehidupan manusia makhluk sosial.

8. Berkarakter Bangsa
Karakter adalah watak, tabiat, akhlak atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil interaksi berbagai kebijakan (vitues) yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berfikir, bersikap, dan bertindak.



B. MISI

Dalam rangka mewujudkan visi di atas, maka yang akan diemban oleh SD Negeri XXX adalah sebagai berikut :

1. Meningkatkan minat baca, tulis, dan berhitung serta pengetahuan sosial berdasarkan pada kompetensi dasar dan pengembangannya.
2. Mewujudkan pembelajaran yang aktif, inofatif, kreatif, efektif, dan bermagna.
3. Membiasakan perilaku yang baik sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku di
4. Masyarakat seperti : sikap saling tolong-menolong, dan saling menghormati.
5. Meningkatkan mutu lulusan yang siap bersaing di jenjang pendidikan berikutnya.
6. Membiasakan untuk berfikir aktif, kreatif fan menjunjung tinggi nilai-nilai budaya dan karakter bangsa.
7. Membiasakan siswa untuk berwira usaha dan berekonomi kreatif dalam prilaku kehidupan sehari-hari.



C. Tujuan Pendidikan

1. Tujuan Umum
Tujuan Pendidikan Dasar yang tercantum pada peraturan pemerintah nomor
19 tahun 2005 sebagai berikut :
“Meletakan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian akhlak mulia serta
ketrampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut”.

2. Tujuan Khusus
Upaya untuk mencapai keberhasilan visi dan misi pendidikan SD Negeri XXX maka tujuan khusus yang ingin dicapai sebagai berikut :
a. Peningkatan Minat Baca :
• Meningkatkan pengelolaan dan melengkapi sarana perpustakaan.
• Menjalin kemitraan dengan Koordinator Pelaksanaan Dinas Pendidikan (KPD) dan Perpustakaan Daerah.
• Mewajibkan peserta didik membiasakan membaca 20 menit sebelum pelajaran dimulai.
• Membiasakan menceritakan kembali isi buku.
• Mengadakan ajang kreatifitas siswa di bidang membaca.

b. Peningkatan Mutu Menulis :
• Menggalakan menulis halus pada buku garis tiga.
• Membiasakan menulis dengan rapi dan benar tanpa menimbulkan rasa takut salah pada diri siswa.
• Mengadakan ajang kreatifitas menulis (mengarang).



c. Peningkatan Mutu Berhitung :
• Memperbanyak latihan berhitung, diawali dari perkalian, pembagian, penjumlahan, dan pengurangan.
• Pemahaman dan ketrampilan konsep lebih ditingkatkan.
• Mencongak lebih ditingkatkan.
• Pekerjaan rumah tentang berhitung lebih digalakan.
• Mengadaka ajang kreatifitas di bidang berhitung.
• Mengikuti lomba Olympiade matematika.

d. Peningkatan Mutu Pelajaran IPA :
• Memanfatkan lingkungan sebagai sumber belajar.
• Meningkatkan fungsi KIT IPA.
• Mengikuti Olympiade IPA.
• Mengikuti ajang kreatifitas bidang Ilmu Pengetahuan Alam.
• Meningkatkan ketrampilan proses dalam pelajaran IPA.

e. Peningkatan Mutu Pengetahuan Sosial :
• Memperbanyak contoh-contoh kdalam kehidupan social.
• Meningkatan penguasaan Peta Wilayah Indonesia.
• Meningkatkan pemahaman tentang sejarah Indonesia.
• Pembiasaan nilai rela berkorban, persatuan, kerja sama, harga menghargai, dan cinta tanah air.

f. Peningkatan Mutu IMTAQ :
• Peningkatan pemahaman mushola untuk praktik ibadah.
• Mengintegrasikan PAI dalam semua mata pelajaran.
• Meningkatkan prekuensi praktik mata pelajaran PAI dalam kehidupan sehari-hari.
• Memanfaatkan bulan Romadhon untuk kegiatan sholat.
• Mengikuti ajang kreatifitas bidang agama Islam.
• Meningkatkan kebiasaan peserta didik dalam, membaca Al-Qur’an, sholat berjamaah, dan menutupi aurot dengan baik dan benar.
• Membiasakan berdo’a sebelum dan sesudah belajar.

g. Peningkatan Mutu Muatan Lokal :

1. Mulok Wajib : Bahasa Lampung
• Peserta didik setiap jam mulok bahasa Lampung diwajibkan berkomunikasi menggunakan bahasa Lampung.
• Meningkatkan peserta didik untuk berani berkomunikasi dengan bahasa Lampung sesuai kaidah yang berlaku.
• Mengadakan dikte bahasa Lampung.
• Meningkatkan minat baca bahasa Lampung.
• Meningkatkan kesadaran dan pemahaman terhadap penggunaan bahasa Lampung.

2. Mulok Pilihan
a. Bahasa Inggris (Kelas III-Kelas VI)
• Meningkatkan kemampuan percakapan bahasa Inggris.
• Membiasakan penulisan bahasa Inggris.
• Meningkatkan latihan penyususnan kalimat dalam bahasa Inggris.
• Mengikuti ajang kreatifitas bahasa Inggris.


b. Ketrampilan Baca Tulis Al-Qur’an
• Mengenalkan tulisan Arab sebagai bahasa Al-Qur’an.
• Mengenalkan bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur’an.
• Meningkatkan ketrampilan siswa dalam menulis dan membaca Al-Qur’an.



g. Peningkatan Mutu Muatan Lokal :
• Pengembangan : Pengembangan potensi peserta didik untuk menjadi pribadi berprilaku baik; ini bagi pesetta didik yang telah memiliki sikap dan prilaku yang mencerminkan budaya dan karakter bangsa.
• Perbaikan : memperkuat kiprah pendidikan nasional untuk bertanggung jawab dalam pengembangan potensi peserta didik yang lebih bermartabat; dan
• Penyaring : untuk menyaring budaya bangsa sendiri dan bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya dan budaya karakter bangsa yang bermartabat.




BAB III

STRUKTUR DAN MUATAN KURIKULUM

A. Struktur Kurikulum


No
Komponen Alokasi Waktu
Kelas
1 2 3 4 5 6
A Mata Pelajaran


T
E
M
A
T
I
K


T
E
M
A
T
I
K


T
E
M
A
T
I
K
1 Pendidikan Agama 3 3 3
2 Pendidikan Kewarganegaraan 2 2 2
3 Bahasa Indonesia 5 5 5
4 Matematika 5 5 5
5 Ilmu Pengetahuan Alam 4 4 4
6 Ilmu Pengetahuan Sosial 3 3 3
7 Seni Budaya dan Keterampilan 4 4 4
8 Pendidikan Jasmani, Olahraga, Kesehatan 4 4 4
B Mulok:
a. Bahasa Lampung 2 2 2
b. Bahasa Inggris 2 2 2
c. Baca Tulis Alqu’an 2 2 2
d. Komputer 2
Jumlah 29 30 32 36 36 38

C Pengembangan Diri 2*) 2*) 2*) 2*) 2*) 2*)
D Pembiasaan 2*) 2*) 2*) 2*) 2*) 2*)
E Pendidikan budaya dan karakter Bangsa 2*) 2*) 2*) 2*) 2*) 2*)

*) Ekuivalen 2 jam pembelajaran
Keterangan :
1. 1 (satu) jam pelajaran Alokasi Waktu 35 menit
2. Kelas 1, 2, dan 3 pendekatan Tematik
3. Kelas 4, 5 dan 6 pendekatan mata pelajaran .
4. Sekolah dapat memasukan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal dan global yang merupakan bagian dari mata pelajaran yang diunggulkan dan sesuai karakteristik daerah yaitu pertanian, peternakan, dan perikanan.

B. Muatan Kurikulum

1. MATA PELAJARAN

A. Pendidikan Agama Islam
1. Tujuan:
Pendidikan Agama Islam di SDN XXX bertujuan untuk :
• Menumbuhkembangkan akidah melalui pemberian, pemupukan, dan pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengalaman, pembiasaan, serta pengalaman peserta didik tentang agama islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang keimanan dan ketaqwaannya kepada kepada Allah SWT.
• Mewujudkan manusia Indonesia yang taat beragama dan berakhlak mulia yaitu manusia yang berpengetahuan, rajin beribadah, cerdas, produktif, jujur, adil, etis, berdisiplin, bertoleransi (tasamuh), menjaga keharmonisan secara personal dan sosial serta mengembangkan budaya agama dalam komunitas sekolah.

2. Ruang Lingkup
Ruang lingkup pendidikan agama Islam meliputi :
• Al-Qur’an dan Hadist.
• Akidah
• Akhlak
• Tarikh dan kebudayaan islam.

3. Standar Isi
Kelengkapan Standar Isi dapat dilihat dalam Permendiknas Nomor 22
tahun 2006 yang telah dikodipikasikan.


B. Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan
1. Tujuan:
Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan bertujuan agar peserta didik
memiliki kemampuan sebagai berikut :
• Berpikir secara kritis, rasional, dan kretif dalam menanggapi isu kewarganegaraan
• Berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab, dan bertindak secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, serta anti-korupsi
• Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan karakter-karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsa-bangsa lainnya
• Berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia secara langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.

2. Ruang Lingkup :
Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan meliputi asfek-asfek antara lain sebagai berikut :
• Persatuan dan kesatuan bangsa meliputi : hidup rukun dalam perbedaan cinta lingkungan, merasa bangga sebagai bangsa Indonesia, sumpah pemuda, Keutuhan Negara Kesatuan Indonesia, parttisipasi dalam pembelaan Negara, sikap positip terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia, keterbukaan dan jaminan keadilan.
• Norma-norma untuk mencapai suatu keadilan yang berlaku dalam system hokum Negara Kesatuan Republik Indonesia maupun norma-norma di dunia internasionalbisa dijunjung tinggi, dihormati dan dilaksanakan.
• Hak asasi manusia menjadi hak dan kewajiban anak, hak dan kewajiban masyarakat, instrument nasional dan internasional HAM, pemajuan, penghormatan, dan perlindungan HAM.

3. Standar Isi
Kelengkapan Standar Isi dapat dilihat dalam Permendiknas Nomor 22
tahun 2006 yang telah dikodipikasikan.


C. Mata Pelajaran Bahasa Indonesia

1. Tujuan:
Mata Pelajaran Bahasa Indonesia bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut :
• Berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tertulis
• Menghargai dan bangga menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan negara
 Memahami Bahasa Indonesia dan menggunakannyaa dengan tepat dan kretif untuk berbagai tujuan
 Memahami Bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan social
 Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperluas budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa
 Menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai Khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia


2. Ruang Lingkup
Ruang lingkup mata pelajaran Bahasa Indonesia meliputi komponen
kemampuan berbahasa, dan kemampuan bersastra yang meliputi aspek-
aspek sebagai berikuit :
• Mendengarkan
• Berbicara
• Membaca
• Menulis
Pada akhirnya di SDN XXX, peserta didik telah membaca sekurang-kurangnya sembilan buku sastra dan non sastra.

3. Standar Isi
Kelengkapan Standar Isi dapat dilihat dalam Permendiknas Nomor 22
tahun 2006 yang telah dikodipikasikan.
D. Mata Pelajaran Matematika
1. Tujuan:
Mata Pelajaran Matematika bertujuan agar peserta didik memiliki
kemampuan sebagai berikut :
 Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep
dan mengaplikasikan konsep atau alogaritma, secara luwes, akurat,
efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah
 Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika
 Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh
 Mengomunikasikan gagasan dengan symbol, tabel, diagram lain, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah
 Memiliki sifat menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.

2. Ruang Lingkup
Mata Matematika pada satuan pendidikan SD/MI meliputi aspek-aspek
sebagai berikut :
• Bilangan
• Geometrid an pengukuran
• Pengolahan data

3. Standar Isi
Kelengkapan Standar Isi dapat dilihat dalam Permendiknas Nomor 22
tahun 2006 yang telah dikodipikasikan.


E. Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam

1. Tujuan:
Mata Pelajaran IPA di SDN XXX bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut :
• Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Ynag Maha Esa berdasarkan keberadaan, keindahan dan keteraturan alam ciptaan-Nya
• Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari
• Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif dan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi dan masyarakat.
• Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan
• Meningkatkan kesadaran untuk berperanserta dalam memelihara, menjaga dan melestarikan lingkungan alam
 Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan
• Memperoleh bekal pengetahuan, konsep dan keterampilan IPA sebagai dasar untuk melanjutkan pendidikan ke SMP/MTs

2. Ruang lingkup
Mata Pelajaran untuk SD meliputi aspek-aspek sebagai berikut :
• Makhluk hidup dan proses kehidupan, yaitu manusia, hewan, tumbuhan, dan interaksinya dengan lingkungan serta kesehatan.
• Benda/materi, sifat-sifat dan kegunaannya meliputi : cair, padat, dan gas.
• Energi dan perubahannya meliputi : gaya, bunyi, panas, megnet, listrik, cahaya, dan pesawat sederhana.
• Bumi dan alam semesta meliputi : tanah, tata surya, dan benda-benda langit lainnya..

3. Standar Isi
Kelengkapan Standar Isi dapat dilihat dalam Permendiknas Nomor 22
tahun 2006 yang telah dikodipikasikan.

F.Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial

1. Tujuan:
Mata Pelajaran IPS bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan
sebagai berikut :
• Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya
• Memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan sosial
• Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan
• Memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, di tingkat lokal, nasional, dan global.

2. Ruang Lingkup
Mata Pelajaran IPS meliputi aspek-aspek sebagai berikut :
• Manusia, tempat, dan lingkungan
• Waktu, keberlanjutan, dan perubahan
• Sistem sosial dan budaya
• Perilaku ekonomi dan kesejahteraan

3. Standar Isi
Kelengkapan Standar Isi dapat dilihat dalam Permendiknas Nomor 22
tahun 2006 yang telah dikodipikasikan.
G. Mata Pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan
1. Tujuan:
Mata Pelajaran seni budaya dan ketrampilan bertujuan agar peserta didik
memiliki kemampuan sebagai berikut :
• Memahami konsep dan pentingnya seni budaya dan keterampilan
• Menampilkan sikap apresiasi terhadap seni budaya dan keterampilan
• Menampilkan kreativitas melalui seni budaya dan keterampilan
• Menampilkan peran serta dalam seni budaya dan keterampilan dalam tingkat lokal, regional, maupun global

2. Ruang Lingkup
Mata Pelajaran seni budaya dan ketrampilan meliputi aspek-aspek sebagai
berikut :
• Seni rupa, mencakup pengetahuan, ketrampilan, dan nilai dalam
menghasilkan karya seni berupa lukisan, patung, ukiran, cetak-mencetak, dansebagainya.
• Seni musik, mencakup kemampuan untuk mnguasai olah vokal,
memainkan alat musik, apresiasi karya musik.
• Senu tari, mencakup ketrampilan gerak berdasarkan olah tubuh tanpa
rangsangan bunyi, apresiasi terhadap gerak tari.
• Seni drama, mencakup ketrampilan pementasan dengan memadukan
seni musik, seni tari dan peran.
• Ketrampilan, mencakup segala aspek kecakapan hidup (life skils) yang
meliputi ketrampilan personal, ketrampilan sosial, ketrampilan vokasional, dan ketrampilan akademik.

3. Standar Isi
Kelengkapan Standar Isi dapat dilihat dalam Permendiknas Nomor 22
tahun 2006 yang telah dikodipikasikan.


H. Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan
1. Tujuan:
Pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan bertujua agar perseta didik
memiliki kemampuan sebagai berikut :
• Mengembangkan keterampilan pengelolaan diri dalam upaya
pengembangan dan pemeliharaan kebugaran jasmani serta pola hidup
sehat melalui berbagai aktivitas jasmani dan olahraga yang terpilih
• Meningkatkan pertumbuhan fisik dan pengembangan psikis yang lebih
baik
• Meningkatkan kemampuan dan keterampilan gerak dasar
• Meletakkan landasan karakter moral yang kuat melalui internalisasi
nilai-nilai yang terkandung di dalam pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan
• Mengembangkan sikap sportif, jujur, disiplin, bertanggungjawab,
kerjasama, percaya diri dan demokratis
• Mengembangkan keterampilan untuk menjaga keselamatan diri
sendiri, orang lain dan lingkungan
• Memahami konsep aktivitas jasmani dan olahraga di lingkungan yang
bersih sebagai infortmasi untuk mencapai pertumbuhan fisik yang sempurna, pola hidup sehat dan kebugaran, terampil, serta memiliki sikap yang positif

2. Ruang Lingkup
Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan meliputi aspek-aspek sebagai berikut :
• Permainan dan olahraga, meliputi : Olahraga tradisional, permainan
eksplorasi gerak, ketrampilan lokomotor, non lokomotor dan manipulatip, atletik, kasti, rondes, kipperes, sepak bola, bola basket, bola voly, tennis meja, tennis lapangan, bulu tangkis dan bela diri, serta aktivitas lainnya.
• Aktivitas pengembangan meliputi : mekanika sikap tubuh komponen
kebugaran jasmani dan bentuk postur tubuh serta aktivitas lainnya.
• Aktivitas senam meliputi : ketangkasan sederhana, ketangkasan tanpa
alat, ketangkasan dengan alat, dan senam lantai, serta aktivitas lainnya.
• Aktivitas ritmik meliputi : gerak bebas, senam pagi, SKJ, dan senam
aerobic, serta aktivitas lainnya.
• Aktivitas air meliputi : permainan di air, keselamatan air, ketrampilan
bergerak di air, renangn serta aktivitas lainnya.
• Pendidikan luar kelas meliputi : karya wisata, pengenalan lingkungan,
berkemah, menjelajah, dan menfdakli gunung.
• Kesehatan meliputi penanaman budaya hidup sehat dalam kehidupan
sehari-hari, khususnya yang terkait dengan perawatan tubuh agar tetap sehat, merawat lingkungan yang sehat, memilih makanan dan minuman yang sehat, mencegah dan merawat cedera, mengatur waktu istirahat yang tepat, dan berperan aktip dalam kegiatan P3K dan UKS. Aspek kesehatan merupakan aspek tersendiri dan secara inplisit masuk ke dalam semua aspek.

3. Standar Isi
Kelengkapan Standar Isi dapat dilihat dalam Permendiknas Nomor 22
tahun 2006 yang telah dikodipikasikan.



2. MUATAN LOKAL

1. Mulok Wajib : Bahasa Lampung

a. Tujuan:
Mata Pelajaran Bahasa Lampung bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut :
• Berkomonikasi efektif dan efisien sesuai dengan etika / tata krama yang berlaku baik secara lisan maupun tulisan.
• Menghargai dan bangga menggunakan bahasa Lampung sebagai bahasa daerah sendiri.
• Memahami bahasa Lampung dan menggunakannya dengan tepat dan kreatip serta tidak merasa malu menggunakan bahasa daerahnya sendiri.
• Menggunakan Bahasa Lampung untuk meningkatkan kemampuan intelektual serta kematangan emosional dan sosial.
• Menikmati dan memanfatkan karya sastra Lampung untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti karena bahasa Lampung merupakan bahasa rasa. Serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa.
• Menghargai dan membanggakan sastra Lampung sebagai hasanah budaya dan intelektual orang Lampung.

b. Ruang Lingkup
Mata Pelajaran Bahasa Lampung Mencakup komponen kemampuan berbahasa dan kemampuan bersastra yang meliputi aspek-aspek sebagai berikut :
• Mendengarkan ( ndengai)
• Berbicara (bebalah)
• Membaca (membaco)
• Menulis (menulis)
• Apresiasi Sastra

Pada akhirnya pendidikan di sekolah dasar peserta didik telah membaca sekurang-kurangnya 3-5 buku sastra dan non sastra.


2. Muatan Lokal Pilihan
a. Mata Pelajaran Bahasa Inggris

1. Tujuan:
Mata Pelajaran Bahasa Inggris di SDN XXX diberikan
bertujuan agar siswa memiliki kemampuan sebagai berikut :
• Mengembangkan kompetensi berkomonikasi dalam bentuk lisan secara terbatas untuk mengiringi tindakan dalam kontek sekolah.
• Memiliki kesadaran pentingnya Bahasa Inggris untuk meningkatkan daya saing antar bangsa dalam masyarakat global.

2. Ruang Lingkup
Mata Pelajaran Bahasa Inggris di SDN XXX mencakup :
kemampuan berkomunikasi lisan secara terbatas dalam kontek sekolah,
yang meliputi aspek-aspek sebagai berikut :
• Mendengarkan (listening)
• Berbicara (speaking)
• Membaca (reading)
• Menulis (writing)
Ketrampilan menulis dan membaca diarahkan untuk menunjang pembelajaran komunikasi lisan.

b. Ketrampilan Komputer

1. Tujuan:
• Meningkatkan pemahaman simbol-simbol program window dan excel
• Meningkatkan ketrampilan mengetik dengan excel Microsoft word dan power point
• Mengikuti ajang kreatifitas ketrampilan computer
• Mengenal sejak dini teknologi Informasi dan Komunikasi.
• Membekali siswa agar dapat biasa bersaing di masa yang akan datang.
• Memberikan bekal dasar agar memiliki kompetensi dalam bidang komputer.
• Membekali kecakapan hidup peserta didik agar memiliki kemampuan dalam bidang komputer.

2. Ruang Lingkup
Muatan lokal keterampilan computer di SDN XXX mencakup kemampuan dasar tentang computer dalam kehidupan sehari-hari yang meliputi :
• Perangkat computer dan fungsinya.
• Pemahaman konsep, pengetahuan dan operasi dasar.
• Pengolahan Informasi untuk produktifitas.
• Pemecahan masalah eksplorasi dan komunikasi.
Keterampilan computer ini diarahkan untuk menunjang pembelajaran Bahasa dalam Informasi dan komunikasi secara tertulis.

c. Bahasa Arab/ Baca Tulis Al-Qur’an

1. Tujuan:
• Mengenalkan tulisan arab sebagai tulisan Al-Qur’an
• Mengenalkan bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur’an
• Meningkatkan ketrampilan siswa dalam menulis dan membaca Al-Qur’an.


2. Ruang Lingkup



3. PENGEMBANGAN DIRI

1. Kegiatan Ekstrakurikuler
Kegiatan ini disesuaikan dengan minat dan bakat peserta didik, yang terdiri
atas :

a. Kewiraan meliputi :
• Pramuka
• UKS
• Pengelolaan warung sekolah

b. Olahraga terdiri dari :
• Volly bal
• Senam Irama
• Sepak bola
• Tolak peluru
• Lompat
• Bulu Tangkis

c. Seni
• Seni musik dan vocal
• Seni tari

2. Bimbingan dan Konseling
• Kelompok belajar
• Penyuluhan masalah sosial
• Bimbingan karir
• Pemberian layanan khusus yang berkaitan dengan minat dan bakat peserta didik.


4. KEGIATAN PEMBIASAAN

Merupakan proses pembentukan akhlaq dan penanaman/ pengamalan ajaran agama Islam serta budi pekerti.
• Berbaris dan periksa kuku sebelum masuk kelas
• Berdo’a bersama pada awal dan akhir pelajaran
• Senandung sholawat Nabi
• Peringatan hari-hari besar Islam
• Pesantren Ramadhan
• Sholat berjama’ah
• Membudayakan pengucapan salam Islami
• Membudayakan cium tangan kepada orang tua/guru
• Makan atau minum tidak dengan berdiri
• Penanamaan disiplin waktu dan berpakaian
• Pembentukan kesadaran nasional dengan upacara bendera setiap hari Senin.
• Menjaga kebersihan lingkungan


Kegiatan Contoh
Rutin, yaitu kegiatan yang dilakukan terjadual - Piket Kelas
- Ibadah
- Berdo’a sebelum dan sesudah pemebelajaran di kelas
- Bakti Sosial
Spontan, adalah kegiatan tidak terjadual dalam kejadian khusus - Memberi dan menjawab salam
- Meminta maaf
- Berterima kasih
- Mengunjungi orang yang sakit
- Membuang sampah pada tempatnya
- Menolong orang yang sedang dalam kesusahan
- Melerai pertengkaran
Ketaladanan, adalah kegiatan dakam prilaku sehari-hari - Penugasan peserta didik secara bergilir
- Menaati tatatertib (disiplin, taat waktu, taat pada peraturan)
- Berpakaian rapih dan bersih
- Menepati janji
- Pengendalian diri yang baik
- Memuji pada orang yang jujur
- Mengakui kebenaran orang lain
- Mengakui kesalahan diri sendiri
- Berani mengambil keputusan
- Berani berkata benar
- Melindungi kaum yang lemah
- Membantu kaum yang fakir
- Membela kehormatan bangsa
- Mengembalikan barang yang bukan miliknya.


5. PENDIDIKAN BUDAYA DAN KARAKTER BANGSA

Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa dilakukan melalui pendidikan nilai-nilai atau kebijakan yang menjadi nilai dasar budaya dan karakter bangsa. Kebijakan yang menjadi atribut suatu karakter pada dasarnya adalah nilai. Oleh karena itu pendidikan budaya dan karakter bangsa pada dasarnya adalah pengembangan nilai-nilai yang berasal dari pandangan hidup atau idiologi bangsa Indonesia, agama, budaya, dan nilai-nilai yang terumuskan dalam tujuan pendidikan nasional.

1. Tujuan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa adalah :

1. mengembangkan potensi kalbu/nurani/afektif peserta didik sebagai manusia dan warga negara yang memiliki nilai-nilai budaya dan karakter bangsa;
2. mengembangkan kebiasaan dan prilaku peserta didik yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang relegius;
3. menanamkan jiwa kepmimpinan dan tanggungjawab peserta didik sebagai generasi penerus bangsa,
4. mengembangkan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang mandiri, kreatif, berwawasan kebangsaan; dan
5. mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas, dan persahabatan, serta dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan (dignity).

2. Ruang Lingkup Materi :
- Agama : nilai-nilai pendidikan budaya dan karakter bangsa harus didasarkan pada nilai-nilai dan kaidah yang berasal dari agama.
- Pancasila : Pendidikan budaya dan karakter bangsa bertujuan mempersiapkan peserta didik menjadi warga negara yang lebih baik, yaitu warga negara yang memiliki kemampuan, kemauan, dan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sebagai warga negara.
- Budaya : tidak ada manusia hidup bermasyarakat yang tidak didasari oleh nilai-nilai budaya yang diakui masyarakat tersebut. Nilai-nilai budaya tersebut dijadikan dasar dalam memberi makna terhadap suatu konsep dan arti dalam kumunikasi antar anggota masyarakat tersebut.
- Tujuan Pendidikan Nasional : tujuan pendidikan adalah sumber yang paling operasional dalam mengembangkan pendidikan budaya dan karakter bangsa dibandingkan ketiga sumber yang disebutkan di atas.

Tabel 1 Nilai dan diskripsi Nilai Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa




NILAI DISKRIPSI
1. Relegius Sikap dan prilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.
2. Jujur Prilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan dan pekerjaan.
3. Toleransi Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.
4. Disiplin Tindakan yang menunjukan prilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
5. Kerja Keras Prilaku yang menunjukan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.
6. Kreatif Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.
7. Mandiri Sikap dan prilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam melaksanakan tugas-tugasnya.
8. Demokratis Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
9. Rasa Ingin Tahu Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarainya, dilihat, dan didengar.
10. Semangat
Kebangsaan Cara berfikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
11. Cinta Tanah Air Cara berfikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bangsa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, ekonomi dan politik bangsa.
12. Menghargai Prestasi Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
13. Bersahabat/
Komonikatif Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain
14. Cinta Damai Sikap, perkataan dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senagng dan aman atas kehadiran dirinya.
15. Gemar Membaca Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.
NILAI DISKRIPSI
16. Peduli Lingkungan Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.
17. Peduli Sosial Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.
18. Tanggung Jawab Sikap dan prilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, linbgkungan (alam, sosial, dan budaya), negara, dan Tuhan Yang Maha Esa.


6. PENGATURAN BEBAN BELAJAR

Beban belajar yang digunakan adalah sistem paket sebagaimana tertera dalam struktur kurikulum, yaitu:

Kelas Satu jam pembelajaran Tatap muka / menit Jumlah Jam Pembelajaran Per-minggu Minggu Efektif Per-Tahun Pelajaran Waktu Pembelajaran
Per-Tahun Jumlah Jam Pertahun
@ 60 menit
1 35 29 38 1102/38570 643
2 35 30 38 1140/39900 665
3 35 32 38 1216/42560 709
4 35 36 38 1444/50540 842
5 35 36 38 1444/50540 842
6 35 36 28 1444/50540 842

Pengaturan Jadual kegiatan pembelajaran diatur sebagai berikut:

Hari Kegiatan Waktu
Senin Upacara
Kegiatan belajar mengajar 07.00-07.30
07.30-12.05
Selasa Kegiatan belajar mengajar 07.30-12.05
Rabu Kegiatan belajar mengajar 07.30-12.05
Kamis Kegiatan belajar mengajar 07.30-12.05
Jum’at Senam pagi Indonesia
Kegiatan belajar mengajar 07.00-07.30
07.30-10.40
Sabtu Kegiatan Belajar Mengajar
Ekstra Kurikuler pengembangan diri 07.30-10.40
10.55-12.05



7. STANDAR KRETERIA KETUNTASAN MINIMAL (KKM)

Jika tingkat ketuntasan minimal permata pelajaran untuk tiap kelas tidak sama maka tabelnya sebagai berikut :

NO KOMPONEN Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)
I II III IV V VI

A









B





C
Mata Pelajaran
1. Pendidikan Agama
2. Pendidikan Kewarganegaraan
3. Bahasa Indonesia
4. Matematika
5. Ilmu Pengetahuan Alam
6. Ilmu Pengetahuan Sosial
7. Seni Budaya dan Ketrampilan
8. Pejas Olahraga dan Kesehatan

Muatan Lokal
1. Bahasa Lampung
2. Bahasa Inggris
3. Ketrampilan Komputer
4. Baca Tulis Al-Qur’an

Pengembangan Diri
1. Pramuka
2. Seni Budaya
3. Olahraga


70 %
65 %
70 %
60 %
65 %
60 %
70 %
70 %


70 %
-
-
-


70 %
65 %
70 %
60 %
65 %
60 %
70 %
70 %


70 %
-
-
-


70 %
65 %
65 %
60 %
65 %
60 %
70 %
70 %


70 %
-
-
-


70 %
65 %
65 %
60 %
65 %
60 %
70 %
70 %


70 %
60 %
60 %
65 %


70 %
65 %
65 %
60 %
65 %
60 %
70 %
70 %


70 %
60 %
60 %
65 %


75 %
65 %
60 %
60 %
65 %
60 %
70 %
70 %


70 %
60 %
60 %
65 %





8. KRTERIA KENAIKAN KELAS dan KELULUSAN

a. Kriteria Kenaikan Kelas:
Kenaikan kelas dilaksanakan pada setiap akhir tahun pelajaran.

Kriteria kenaikan kelas sebagai berikut :
• Siswa dinyatakan naik kelas setelah menyelesaikan seluruh program pembelajaran pada dua semester di kelas yang diikuti.
• Nilai raport diambil dari nilai pengamatan, nilai harian, nilai tugas/PR, nilai tes tengah semester, dan nilai tes akhir semester dijumlahkan untuk untuk mencari nilai rata-rata setiap siswa dalam satu mata pelajaran, dan telah mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) pada semua indikator, KD dan SK pada semua mata pelajaran.
• Pada Semester dua, tidak mempunyai nilai prestasi kurang dari KKM yang ditetapkan oleh sekolah.
• Rata-rata nilai kepribadian B (baik) atau A (baik sekali)

b. Kriteria Kelulusan
Mengacu pada standar penilaian yang dikembangkan oleh BSNP PP 19/2005 Pasal 72 Ayat 1 dan standar penilaian sekolah, yaitu peserta didik dinyatakan lulus apabila :
• Menyeleseaikan seluruh program pembelajaran,
• Memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran estetika, dan kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan.
• Lulus ujian sekolah/madrasah untuk kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan tehnologi, dan
• Lulus Ujian Nasional.

9. PENDIDIKAN KECAKAPAN HIDUP

Pendidikan kecapan hidup dalam pengembangannya terintegrasi dengan semua mata pelajaran. Aspek kecakapan hidup yang dikembangnkan meliputi :
Kecakapan kepribadian, kecakapan sosial, kecakapan akademik, dan kecakapan vokasional.

Rincian aspek kecakapan hidup yang dikembangkan antara lain :

a. Kecakapan Pribadi ( personal )

• Memberi salam dan bersalaman kepada teman dan guru,
• Membaca do’a sebelum dan sesudah belajar,
• Membaca Al-Qur’an surat-surat pendek pilihan,
• Praktik sholat berjamaah,
• Absensi setiap hari sebelum masuk sekolah.

b. Kecakapan Sosial

• Menyumbangkan hasil infak peserta didik kepada fakir miskin,
• Menjenguk teman yang sedang sakit,
• Mengadakan kerja bakti membersihkan sampah,
• Menghargai pendapat teman dalam kegiatan belajar di kelas,
• Mengadakan kunjungan ke panti asuhan /panti jompo.

c. Kecakapan Akademik

• Meningkatkan lomba-lomba siswa berprestasi,
• Mengikuti Olimpiyade,
• Mengikuti PORSENI,
• Mengadakan wajib membaca buku 10 menit sebelum belajar,
• Menerapkan pembelajaran aktif dan bermakna.

10. PENDIDIKAN BERBASIS KEUNGGULAN GLOBAL DAN LOKAL

a. Pendidikan Berbasis Keunggulan Global
Menyikapi tantangan era globalisasi yang semakin besar, arus informasi semakin
cepat dan persainag semakin kuat. Kiranya perlu SDN XXX mempersiapkan sejak dini berbagai kegiatan yang ikut bersaing dalam era tersebut.

Kegiatan tersebut antara lain :
• Pembelajaran bahasa Inggris lebih ditingkatkan,
• Peningkatan pemahaman arti Al-Qur’an surat-surat pendek kelas 1-6,
• Memberikan pemahaman dampak informasi dari media.

b. Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal
Wilayah Kabupaten Lampung Timur merupakan daerah pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan, juga termasuk daerah wisata. Maka untuk menyikapi tantangan yang dihadapi saat ini serta perlu melestarikan keunggulan daerah, peserta didik dituntut untuk memiliki kemampuan pendidikan berwawasan lokal diantaranya :
• Bidang pertanian yang menjadi ciri khas SDN XXX akan diusahakan semaksimal mungkin menjadi media pembelajaran di berbagai mata pelajaran,
• Seni daerah dilatihkan kepada peserta didik dalam kegiatan ekstra kurikuler,
• Bahasa Lampung sebagai bahasa ibu dijadikan mata pelajaran tersendiri dalam intrakurikuler,
• SDN XXX sebagai daerah relegius, maka peserta didik diwajibkan mampu membaca dan menulis Al-Qur’an.
• Teknologi Komputer sebagai media informasi dan komunikasi, maka peserta didik diwajibkan untuk mampu mengoperasionalkan.
BAB IV

KALENDER PENDIDIKAN SDN XXX
TAHUN PELAJARAN 2010-2011

Kalender Pendidikan adalah pengaturan waktu untuk kegiatan pembelajaran peserta didik selama satu tahun pelajaran. Kalender Pendidikan mencakup permulaan tahun pelajaran, minggu efektif belajar, waktu pembelajaran efektif, efektif fakultatif, dan hari libur.

A. SEMESTER I

BULAN SEMESTER I SENIN SELASA RABU KAMIS JUM’AT SABTU JUMLAH KEGIATAN
JULI 2 2 2 3 3 3 15 12-14 Juli MOS Kelas I
AGUSTUS 4 3 3 4 4 4 22 9-11 Agst awal Romadhon 1431
SEPTEMBER 2 2 3 3 2 3 15 6-17 Sept libur hari raya 1431 H
OKTOBER 4 4 4 4 5 5 26 4-9 Oktb UTS Semester I
NOVEMBER 5 5 3 4 4 4 25 -
DESEMBER 2 1 3 3 3 3 15 6-11 Desb UAS I 18 Dsb Bgi Rpt I
JUMLAH 19 17 18 21 21 22 118

SEMESTER II

BULAN SEMESTER II SENIN SELASA RABU KAMIS JUM’AT SABTU JUMLAH KEGIATAN
JANUARI 5 4 4 4 4 4 25 -
FEBRUARI 4 4 3 3 4 4 22 -
MARET 4 5 5 5 4 3 26 21-26 Mrt UTS smt 2
APRIL 4 4 4 3 4 5 24 18-23 Apr LUAS
25-30 Uji Praktik
MEI 5 4 4 4 4 4 25 2-7 Mei UASBN
JUNI 2 2 3 2 3 3 15 6-11 Juni UKK 2
18 Juni Bgi Raprt
JUMLAH 24 23 23 21 23 23 137


BAB V

PENUTUP


Dari uraian di atas diharapkan pelaksanaan Kurikulum SDN XXX ini bisa menciptakan suasanan pembelajaran di sekolah yang bersifat mendidik, mencerdaskan, membangkitkan kreativitas anak, efektif, demokratis, menantang, dan menyenangkan serta mengasikkan. Dengan semangat itulah Kurikulum SD Negeri XXX ini akan menjadi pedoman yang dinamis bagi penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran di Sekolah Dasar Negeri XXX Kecamatan Labuhan Maringgai Kabupaten Lampung Timur.

Kurikulum SDN XXX ini masih banyak kekurangan, sekolah akan mengevaluasi dan merevisi setiap tahun serta diharapkan kritik dan saran dari berbagai pihak demi perbaikan di masa yang akan datang.

Harapan kami mudah-mudahan Kurikulum SD Negeri XXX Kecamatan Labuhan Maringgai dapat dimanfaatkan sebagai pedoman pengembangan pendidikan umumnya di Kabupaten Lampung Timur.


XXX, 12 Juli 2010
Kepala Sekolah




Xxxxxxxxxx
NIP: XXX

Kamis, 03 Juni 2010

LAPORAN HASIL PENELITIAN BAHAN KOSMETIK

LAPORAN HASIL PENELITIAN

HATI-HATI DALAM MEMILIH KOSMETIK
UNTUK KULIT SENSITIF















DISUSUN OLEH

Kelompok I
Anggota:
1. Amelia Cosneta
2. Emi Novita
3. Wayudi
4. Yosep Zaini



SMAN 1 PESISIR SELATAN
KABUPATEN LAMPUNG BARAT
TAHUN PELAJARAN 2008/2009





KATA PENGANTAR


Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, berkat rahmat dan hidayahnya kami telah menyelesaikan tugas penelitian kami yang berjudul “Hati-hati Dalam Memilih Kosmetik Untuk Kulit Sensitif”. Dengan adanya tugas penelitian ini semoga bisa menambah pengetahuan pembaca.
Kami berharap penelitian yang kami buat bisa bermanfaat terutama pada kalangan pelajar dan penelitian ini sesuai dengan hasil lapangan.
Penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca agar kami bisa memperbaiki hasil penilitian kami selanjutnya.

Penulis




DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ………………………………………………………… i
KATA PENGANTAR ……………………………………………………….. ii
DAFTAR ISI …………………………………………………………………. iii
BAB I
PENDAHULUAN ………………………………………………………….. 1
1.1 Latar Belakang …………………………………………………… 1
1.2 Rumusan Masalah ………………………………………………. 1
1.3 Pembatasan Masalah ……………………………………………. 2
1.4 Tujuan Penelitian ………………………………………………… 2
BAB II
KERANGKA TEORI ……………………………………………………….. 3
BAB III
METODE PENELITIAN ……………………………………………………. 4
3.1 Waktu Penelitian …………………………………………………. 4
3.2 Subjek Penelitian …………………………………………………. 4
3.3 Instrumen Penelitian ……………………………………………. 4
BAB IV
PEMBAHASAN ATAU HASIL PENELITIAN …………………………… 5
BAB V
PENUTUP …………………………………………………………………….. 7
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………. 8




BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Setiap orang menginginkan kulit wajah yang cantik bersih terutama wanita. Bagi wanita, wajah adalah bagian terpenting dan perlu perawatan ekstra. Mereka selalu ingin memakai kosmetik apa saja, tanpa mereka pikir bahwa kosmetik itu cocok atau tidaknya untuk jenis kulit orang berbeda-beda, ada yang jenis kulitnya biasa saja dan ada jenis kulit yang sensitif.
Kulit sensitive dapat diartikan sebagai kulit yang tipis, mudah luka dan kadang kala berwarna kemerahan. Kulit sensitif juga dapat diartikan sebagai suatu kondisi yang sangat peka atau sangat mudah bereaksi apabila terjadi kontak, baik disebabkan oleh kosmetik atau oleh suatu rangsangan dari lingkungan, seperti debu atau polusi udara. Kondisi kulit sensitif ini akan meradang apabila dalam aktivitas sehari-hari, terjadi ketidakpekaan pemakaian kosmetik atau terjadi kesalahan dalam perawatan.
Jadi kulit sensitif adalah kondisi kulit yang mudah peka terhadap lingkungan dan mudah luka, tipis serta kemerahan, untuk kulit yang sensitif harus memakai kosmetik yang sesuai dengan jenis kulit dan lingkungan alam Indonesia yang beriklim tropis.

1.2 Rumusan Masalah
Dari masalah di atas penulis merumuskan masalah:
1. Apa penyebab kulit sensitif?
2. Apa tanda-tanda kulit sensitif?
3. Bagaimana memilih produk kosmetik yang baik untuk kulit sensitif?
4. Bagaimana cara merawat kulit sensitif?

1.3 Pembatasan Masalah
Dari rumusan masalah di atas, penulis tidak membatasi masalah.

1.4 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian antara lain:
1. Agar kita berhati-hati dalam pemakaian kosmetik
2. Supaya kita tahu cara merawat kulit dengan baik
3. Agar kita tahu mengenai kulit sensitif dan penyebab sensitif
4. Supaya kita tahu Produk kosmetik yang cook untuk jenis kulit.






BAB II
KERANGKA TEORI

2.1 Berdasarkan dari majalah Genie edisi 30,25-30 Desember 2006, kulit yang sensitif adalah kulit yang tipis mudah luka dan kadang berwarna kemerahan.
2.2 Berdasarkan dari majalah Femina 2-8 Desember 2004, wajah merupakan bagian terpenting dan perlu perawatan ekstra.





BAB III
METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian eksperimen.
3.1 Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada tanggal 28 Februari sampai 8 Maret 2009 dan diambil dari berbagai sumber.
3.2 Subjek Penelitian
Metode eksperimen ini diambil dari majalah Genie dan majalah Femina.
3.3 Instrumen Penelitian
Instrumen berupa penelitian kosmetik. Ternyata dalam kosmetik banyak mengandung bahan kimia, antara lain:
1. Niacin (B3)
2. PABA (Para Amino Benzoece Acid)
3. Merkuri
4. Air
5. Alkohol
6. Parfum dan lain-lain

Komposisi kimia kosmetik Pond’s adalah sebagai berikut.

No Komponen Dalam %
1 Air 10 %
2 Niacin (B3) 5%
3 PABA 5%
4 Merkuri 15%
5 Alkohol 0,5%
6 Parfum 10%
7 Lain-lain 50%





BAB IV
PEMBAHASAN ATAU HASIL PENELITIAN

Penyebab kulit sensitif dikarenakan ketidaktepatan kosmetik misalnya, kandungan kosmetiknya sudah baik, aman bagi kulit, tetapi tidak tepat guna, seperti kosmetik yang tidak sesuai dengan lingkungan alam Indonesia yang beriklim tropis. Selain itu, pemakaian kosmetik yang tidak sesuai jenis kulit pemakaian pemutih yang tidak aman, jenis perawatan kulit yang mengalami proses pengelupasan yang menggunakan bahan-bahan keasamannya tidak sesuai dengan, keasaman jenis kulit juga akan menyebabkan infeksi. Selain itu penyebab terjadinya kulit sensitif sendiri sebetulnya disebabkan oleh faktor genetik (keturunan) dan faktor dari luar (pemakaian kosmetik/alat kosmetik yang salah) serta bisa disebabkan karena alergi oleh makanan.
Orang yang memiliki kulit sensitif, bisa dilihat dan diagnosa dengan kondisi dimana pembuluh darah (kapiler) dan ujung saraf terletak dekat kepermukaan kulitnya. Itulah sebabnya mengapa orang yang berkulit sensitif, lebih mudah kulitnya menjadi merah. Orang yang berkulit sensitif, juga lebih mudah mengalami masalah kulit melalui makanan yang dikonsumsi. Seperti, makanan pedas, kafein (kopi), nikotin (rokok) dan Niacin (B3). Hal ini disebabkan karena makanan-makanan atau rokok tersebut memperbanyak aliran darah kepermukaan kulit, sehingga kulit menjadi merah. Secara fisik, Jenis kulit sensitif gampang dikenali karena biasanya kulit yang sensitif akan tampak kemerahan, tipis, dan pembuluh-pembuluh darah dibawa kulit terlihat jelas. Apabila terkena sinar matahari kulit akan kelihatan memerah. Gejala lainnya, terjadi iritasi pada kulit seperti gatal-gatal dan kulit akan menjadi merah, apabila memakai kosmetik tertentu.
Carilah produk kosmetik yang mengandung bahan-bahan kosmetik yang dapat mengurangi iritasi kulit dengan pH diatas 40. Hindari produk dengan bahan-bahan kosmetik PABA (Para Amino Benzoece Acid), hindari makanan yang pedas atau panas, udara panas, sinar matahari, alkohol, kopi dan sauna. Pilihlah kosmetik yang tidak menggunakan pewangi, karena pewangi bisa memperparah kulit sensitif. Pilihlah kosmetik yang telah mengikuti uji klinis termasuk tes iritasi. Bagi kulit yang sensitif, sebaiknya memilih produk kosmetik dengan pH yang mendekati pH kulit, sekitar 4,5.
Pada dasarnya, perawatan jenis kulit sensitif sama dengan jenis kulit lainnya. Akan tetapi perlu diperhatikan penggunaan kosmetik yang sesuai dengan kondisi kulit. Penggunaan kosmetik yang salah, lebih besar resikonya terhadap iritasi kulit dan akan memperburuk kondisi kulit sensitif, karena dalam kosmetik banyak menggunakan bahan pewarna dan parfum yang mengandung bahan yang tidak aman bagi kulit sensitif. Pilihlah kosmetik yang tidak menggunakan bahan atau oksidan dan kenali dahulu bahan yang tertera pada kemasan kosmetik.
Jadi penyebab kulit sensitif bukan hanya dari ketidaktepatan kosmetik, tapi bisa juga dari makanan yang pedas dan dari faktor keturunan. Secara fisik kulit sensitif dapat dilihat dari wajahnya yang akan tampak kemerah-merahan, tipis, dan pembuluh terlihat dengan jelas. Bagi kulit yang sensitif sebaiknya memilih produk yang sesuai dengan pH kulit.




BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Kulit yang sensitif adalah kulit yang mudah luka dan sering terlihat kemerahan. Penyebab kulit sensitif dikarenakan ketidaktepatan dalam pemakaian kosmetik dan bisa juga disebabkan oleh makanan, seperti makanan pedas, kafein (kopi), nikotin rokok dan lain-lain. Kulit yang sensitif bisa dilihat dengan kondisi dimana pembuluh darah (kapiler) dan ujung saraf terletak dekat permukaan pembuluh kulitnya. Untuk memilih produk kosmetik yang baik untuk kulit yang sensitif carilah kosmetik yang mengandung bahan-bahan kosmetik yang dapat mengurangi iritasi kulit dan hindari makanan pedas dan panas.
Mempunyai kulit sensitif bukanlah suatu halangan untuk tetap tampil cantik dan mempesona. Dengan melakukan perawatan yang benar dan aman, masalah tersebut teratasi secara tuntas.

5.2 Saran
Dari hasil penelitian kami, jika ada kesalahan dalam tulisan maupun bacaannya kritik dan saran sangat kami harapkan untuk perbaikan pada penelitian berikutnya.




DAFTAR PUSTAKA


Fatimah, Petty S. 2004. “Kulit Wajah”. Femina. (2-8 Desember). Jakarta.
Purwanto,Andre.2006. “Kulit Sensitif ”. Genie. (25-30 Desember 30). Jakarta.

LAPORAN HASIL PENELITIAN LANDAK LAUT








LAPORAN HASIL PENELITIAN

LANDAK LAUT

(Arbacia punctulata)









DISUSUN OLEH
KELOMPOK 9


ANGGOTA:
INTAN NUR FADILAH
WAYAN SUARDANE
MEDA PUWI EFRINI
YETI GUSTINA




SMAN 1 PESISIR SELATAN
KABUPATEN LAMPUNG BARAT
TAHUN PELAJARAN 2008/2009







BAB I
PENDAHULUAN



1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki wilayah laut yang cukup luas. Salain itu Indonesia juga memiliki taman laut yang begitu indah dan berjuta-juta ragam spesies laut yang hidup di daerah perairan Indonesia. Salah satunya adalah landak laut yang akan kami teliti lebih mendalam dalam rangka memenuhi tugas bahasa Indonesia. Selesai itu juga kami ingin mengkaji lebih dalam mengenai Landak Laut yang hidup di perairan laut Pantai Karang Nyimbor.

1.2 Rumusan Masalah
1. Termasuk Hewan apakah Landak laut?
2. Zat apakah yang terkandung di dalam tubuhnya?
3. Bagaimanakah sistem reproduksi landak laut?
4. Bagaimana sistem gerak dan sistem pernafasan pada Landak Laut?
5. Ada berapa jenis Landak Laut yang Anda temui di pantai Karang Nyimbor?
6. Apakah Landak laut dapat dikonsumsi oleh manusia?
7. Bagaimana cara mengetahui bendungan protein dari Landak Laut?
8. Apakah kegunaan Landak Laut bagi tubuh?
1.3 Pembatasan Masalah
Dari butir-butir rumusan masalah di atas, penulis tidak membatasi masalah.

1.4 Tujuan Penelitian
1. Mengkaji lebih dalam
2. Untuk menambah wawasan atau pengetahuan tentang landak Laut (Arbacia punctula)
3. Untuk memahami segala sesuatu yang ada di dalam laut terutama pada Landak Laut (Arbacia punctula) serta ingin tahu kegunaan atau kandungan yang ada pada Landak Laut (Arbacia punctula).







BAB II
KERANGKA TEORI

2.1 Menurut para parkar kesehatan, protein sangat penting bagi tubuh karena protein sangat penting dalam pertumbuhan sel-sel di dalam tubuh. Selain itu protein juga berperan penting dalam perkembangan otak, termasuk dalam darah.


2.2 Dalam ilmu biologi setiap hewan yang termasuk ke dalam Filum Echinodermata habitatnya di laut.






BAB III
METODE PENELITIAN


Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode eksperimen dengan melalui penelitian dan percobaan.






BAB IV
PEMBAHASAN

Landak laut termasuk kedalam filum Echinodermata yaitu merupakan hewan berduri. Hal ini sesuai dengan morfologi tubuhnya, yaitu pada permukaan tubuh dipenuhi duri yang tersusun oleh kalsium. Landak Laut tergolong hewan triplobastik badan tubuhnya bertipe simetri radial, tetapi ketika masih menjadi larva bertipe simetri bilateral. Rangka tubuhnya bertipe simetri bilateral. Rangka tubuhnya tersusun oleh zat kapur yang terdapat dipermukaan bawah kulit. Pada umumnya, mereka mempunyai kemampuan regenerasi yang cukup tinggi sehingga dapat menyembuhkan dan menumbuhkan bagian yang tidak utuh dengan cepat. Ciri yang menarik adalah sistem pembuluh air dan susunan alat tubuh yang berkelipatan lima.
Sistem pencernaan Landak Laut memiliki saluran pencernaan yang sederhana. Sistem reproduksi bersifat gonokorsis. Reproduksi dilakukan dengan cara seksual
Dan terjadi pembuahan eksternal (di luar tubuh). Pembuahan tersebut menghasilkan zigot yang berkembang menjadi larva bipinaria yang dapat berenang bebas.
Alat gerak pada landak laut berupa kaki amburakral (kaki pembuluh) atau sistem pembuluh air. Air laut yang masuk kedalam sistem saluran ini digunakan untuk menjulurkan kaki tabung yang berjumlah banyak. Kaki tabung terdapat ada saluran latera. Pada ujung luarnya terdapat kaki (cakram) penghisap, sedangkan bagian dalamnya berupa Ampula yang berbentuk mirip bola. Cakram penghisap berfungsi untuk melekatkan ke Substat dan memegang makanan. Landak Laut berjalan dengan cara meraya. Sistem saraf Landak Laut terdiri atas cincin dan tali saraf, cincin saraf terdapat di sekeliling mulut, sedangkan tali saraf mengarah ke tiap kaki amburakral.
Sedangkan sistem pernafasan Landak laut berlangsung melalui permukaan tubuh. Diantara duri dan insangnya terdapat tonjolan seperti catut (Pediselaria) yang berguna untuk membersihkan benda-benda yang menutup lubang pernafasan. Pediselaria tersebut terbentuk dari hasil modifikasi duri. Selain untuk membersihkan kulit, alat ini juga untuk menangkap makanan dan pertahanan tubuh.
Ada dua jenis Landak Laut yang kami temukan di daerah pantai Karang Nyimbor, yaitu Landak Laut berduri panjang yang berwarna hitam atau belang-belang dan jenis Landak Laut yang berduri pendek dan berwana putih. Landak Laut berduri pendek atau lebih lazim disebut Munil oleh masyarakat daerah sekitar, lebih banyak dikonsumsi dari pada landak laut yang berbulu panjang. Karena Landak berduri panjang jika terkena bagian tubuh akan terasa sakit dan berdarah. Namun setelah diteliti Landak Laut berduri pandang memiliki kandungan protein yang dua kali lipat lebih banyak dibanding Landak Laut berduri pendek.
Untuk mengetahui kandungan protein dari Landak laut biuret atau larutan Millon dengan cara mengambil bagian lambung yang berwarna kuning, karena bagian lambung itu yang bisa dikonsumsi, kemudian hancurkan dan tetesi dengan biuret. Setelah ditetesi dengan larutan biuret maka warnanya akan berubah menjadi ungu, ini menandakan bahwa bagian itu mengandung protein.
Bagian Lambung dari Landak Laut sangat baik dikonsumsi oleh manusia, meskipun ukurannya tidak begitu besar tetapi nutrisinya cukup banyak. Ini berguna untuk melancarkan peredaran darah, menjaga kekebalan tubuh dan menjaga stamina.






BAB V
PENUTUP


5.1 Kesimpulan
Dari hasil penilaian kami, Landak Laut termasuk hewan berduri yang hidup di laut selain untuk menjaga keseimbangan ekosistem laut juga dapat dikonsumsi dalam jumlah banyak. Karena Landak Laut cukup mudah didapat di daerah pantai yang berkarang dan populasinya cukup banyak.

5.2 Saran
Kepada para pembaca kami sangat mengharapkan kritikan dan saran yang membangun, karena kami menyadari masih terdapat banyak kesalahan dalam penulisan laporan hasil penelitian ini.





DAFTAR PUSTAKA

Loyana, Tepi dkk. 2007. Biologi SMA Keas X. Jakarta: CV Nadia Sarana Utama
Pribadi, Arif dan Tri Silawati. 2007. Biologi SMA Kelas X. Jakarta: Yudhistira.

ZAT DAN MANFAAT YANG TERKANDUNG DALAM TANAMAN BAYAM

TUGAS BAHASA INDONESIA
LAPORAN PENELITIAN

ZAT DAN MANFAAT YANG TERKANDUNG DALAM TANAMAN BAYAM












OLEH KELOMPOK IV

NOVITASARI Z.
SINDI VULIYASTRI
ARMIASIH
SOFYAN RIYANTO


SMAN 1 PESISIR SELATAN
KECAMATAN PESISIR SELATAN KABUPATEN LAMPUNG BARAT
TAHUN PELAJARAN 2008/2009




BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Setiap orang pasti memerlukan kesehatannya selalu terjaga, dan untuk menjaga kesehatan tersebut, setiap orang harus rajin berolahraga, makan-makanan yang sehat dan bergizi serta lingkungan yang bersih. Jika kita tidak bisa menjaga kesehatan tubuh, maka kondisi dan ketahanan tubuh akan menurun dan akan mudah terserang penyakit. Untuk mencegah agar kita tidak mudah terserang penyakit, salah satunya dengan cara mengkonsumsi makanan yang bergizi seperti sayur-sayuran yang mengandung vitamin yang berguna bagi daya tahan tubuh. Contohnya sayuran itu adalah Bayam, selain bergizi dan bervitamin, tubuh kita sangat memerlukannya, terlebih lagi Bayam dapat kita jumpai di perkebunan. Mungkin bayam adalah makanan yang sangat sederhana, tetapi dibalik kesederhanaannya, Bayam banyak sekali manfaat dan kegunaannya bagi tubuh kita.
1.2 Rumusan Masalah/Masalah penelitian
Dari penulisan dapat merumuskan masalah, yaitu sebagai berikut:
1. Vitamin apa yang terkandung di dalam sayur bayam ?
2. Bagaimana jika seseorang kekurangan vitamin B ?
3. Apa kegunaan dan manfaat dari bayam ?
4. Bagaimana cara mencegah agar kita tidak kekurangan vitamin B, dan jika kita kekurangan vitamin B, apakah ada penyakit yang datang akibat kurangnya mengkonsumsi bayam ?
5. Apakah bayam sangat dibutuhkan Bagi tubuh ?
1.3 Pembatasan masalah
Dari rumusan masalah di atas penulis tidak membatasi masalah.
1.4 Tujuan Penelitian
1. Agar kita bisa mengetahui kegunaan dan manfaat dari sayur bayam ?
2. Untuk mengetahui Vitamin apa yang terkandung dalam sayuran bayam ?








BAB II
KERANGKA TEORI

Dengan Menggunakan kerangka teori Deskriptif (Melalui Pengamatan)







BAB III
METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Deskriptif dengan melalui
penelitian dan pengamatan.







BAB IV
PEMBAHASAN

Bayam mengandung Vitamin B yang berguna bagi kesehatan tubuh, karena bayam adalah salah satu zat besi yang sangat bermanfaat, terlebih lagi bagi orang yang sangat kekurangan serat dalam tubuh.
Jika seseorang kekurangan zat yang terkandung dari bayam yaitu vitamin B, seseorang akan terkena penyakit, yaitu penyakit beri-beri yang dapat timbul akibat kekurangan vitamin B.
Kegunaan dari bayam adalah sebagai zat besi dan memiliki serat yang kegunaannya sangat penting bagi kekebalan tubuh, bayam sangat bermanfaat bagi yang tidak lancar dalam buang air besar, karena bayam mengandung serat yang dapat dicerna dalam tubuh.
Cara mencegah agar tidak kekurangan Vitamin B, Salah satunya mengkonsumsi bayam dengan cara satu minggu sekali, dan penyakit yang akan timbul akibat kekurangan vitamin B adalah beri-beri, sedangkan kekurangan serat akan membuat wasir terhambat.
Bayam sangat bermanfaat karena bayam salah satu ayur-sayuran yang bergizi dan diperlukan bagi tubuh, selain itu bayam juga bisa memberikan kesegaran dalam tubuh dan terasa lezat jika dikonsumsi.







BAB V
KESIMPULAN

Bayam mengandung Vitamin B yang tinggi dan sangat bermanfaat bagi tubuh karena bayam adalah salah satu zat besi yang sangat bermanfaat dan memang sangat banyak manfaatnya bagi tubuh kita.


Pesan : Jika ada kesalahan dari penyampaian, mohon dimaafkan.

Selasa, 11 Mei 2010

Laporan Ilmiah

Laporan Hasil Penelitian

“Ngapain ke Candi?”
Penggunaan Peninggalan-peninggalan Purbakala di Jawa Timur

Oleh Christopher Mark Campbell






Universitas Muhammadiyah Malang
kerjasama dengan
Australian Consortium for In-country Indonesian Studies

2002

“Apakah di desa atau di dalam hutan, di tempat yang rendah atau di atas bukit, di mana pun Para Suci berdiam, maka tempat itu sungguh menyenangkan.” - Dharmapada Arahanta Vagga (Arahat) 9

“Selain Allah tidak ada Tuhan, selain aku tidak ada Kamu.”
– Pak Makutarama

Abstraksi

“Apakah di desa atau di dalam hutan, di tempat yang rendah atau di atas bukit, dimana pun Para Suci berdiam, maka tempat itu sungguh menyenangkan.” – Dharmapada Arahanta Vagga 9

“Selain Allah tidak ada Tuhan, selain aku tidak ada Kamu.”
– Pak Makutarama

“Trowulan…adalah tempat terjadinya kerajaan Jawa yang paling kuat, Majapahit. Didirikan pada akhir abad ke-13, patihnya tang terkenal, Gajah Mada, menuntut kekuasan raja atas daerah yang lebih besar daripada Indonesia modern. Demikian dia sebetulnya ialah pemimpin pertama yang menentukan konsep Indonesia yang bersatu dengan identitas Indonesia.” – John Miksic


Pendahuluan

Latar Belakang

Dari bangunan-bangunan zaman purba di Jatim, yang kini masih tertinggal, hanya yang terbuat dari batu dan bata. Bangunan ini semua memiliki hubungan erat dengan keagamaan. Sebagai pusat bagi tiga kerajaan agung pada masa dahulu (Kediri, Singosari dan Majapahit) Jawa Timur sangat kaya dengan peninggalan purbakala. Walaupun dalam mulut rakyat bangunan-bangunan tersebut biasanya disebut candi, ada berbagai macam candi yang memiliki wujud dan fungsi tersendiri:

• Candi adalah bangunan tempat menyimpan abu jenazah seorang raja dan orang-orang terkemuka dan memuliakan rohnya yang telah bersatu dengan Dewata penitisnya. Selain itu candi juga merupakan tempat penghormatan dan pemujaan Dewata atau para arwah nenek moyang.
• Bangunan suci punden berundak telah berkembang pada zaman prasejarah dan berorientasi kepada puncak gunung yang dianggap sebagai tempat tinggal para arwah leluhur yang kedudukannya dianggap sama dengan Dewata.
• Petirtaan adalah pemandian yang disucikan oleh pemeluk Budha dan Hindu.
• Terdapat dua jenis gapura di Jatim. Jenis pertama berfungsi sebagai pintu untuk keluar masuk dan dalam tubuhnya terdapat lubang pintu. Jenis gapura kedua disebut candi bentar dan berupa seperti bangunan candi yang dibelah dua untuk meluangkan jalan keluar masuk.
• Stupa adalah bangunan yang bersifat Budha dan merupakan tempat merayakan orang yang telah mencapai nirwana serta menghormati kehidupan Sang Budha yang sebelumnya. Tersimpan di dalamnya adalah abu jenazah para biksu dan biksuni yang terkemuka.
• Bagi umat Islam yang cenderung kepada kepercayaan asli (agami Jawa) dan umat Hindu, baik Jawa maupun Bali, bangunan-bangunan purbakala merupakan tempat kediaman para arwah leluhur dan roh-roh lain yang dianggap dapat mendatangkan kebahagiaan dan kesejahteraan di samping penderitaan dan kesengsaraan.
• Bagi umat Hindu candi dianggap sebagai tempat di mana para Dewata berdiam selama suatu upacara dilakukan. Dewata itu muncul dan bersentuhan dengan orang di dalam upacara ketika sajen diberi kepadanya.
• Umat Budha berziarah ke bangunan suci sebagai tanda kehormatan kepada orang-orang yang telah mencapai nirwana dan untuk bermeditasi. Peninggalan purbakala melayani umat Budha baik para Biksu dan Biksuni maupun kaum awam.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bermaksud untuk menjelaskan cerita, persepsi dan penggunaan terhadap peninggalan purbakala yang terdapat di Jatim. Pula menjelaskan isu-isu yang muncul oleh karena perbedaan dan persamaan dalam penggunaan dan persepsi itu.

Metodologi

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pendekatan tersebut dilakukan dengan metode wawancara, pengamatan dan dokumentasi. Wawancara itu bersifat tidak terstruktur dengan menggunakan pedoman wawancara yang berkembang sesuai kebutuhan di lapangan. Pengamatan yang dilakukan bersifat non-partisipatif. Dokumentasi didapatkan dari literatur tertulis dan di internet.

Beberapa Contoh Penggunaan Peninggalan Purbakala

• Candi Penataran (Blitar) merupakan tempat yang keramat bagi umat Hindu dan orang Islam Jawa.
• Candi Wringin Branjang (Blitar) sering digunakan untuk meditasi yang berkaitan dengan agama Budha. Tidak hanya orang yang beragama Budha yang belajar tentang meditasi di sana.
• Setiap Hari Waisak Candi Boyolangu (Tulungagung) dikunjungi umat Budha dan Hindu untuk merayakan kehidupan Sang Budha bersama-sama.
• Dekat Candi Singosari (Malang) terdapat Petirtaan Watugede. Beberapa bintang filem dari Jakarta datang ke sana sebelum mereka “syuting”.
• Setiap tahun anak-anak muda dari wilyah di sekitar Candi Jabung (Probolinggo) membuat pesta dengan api unggun di tempat. Ini dilakukan sebagai upacara tamat sekolah.
• Orang desa yang mengelilingi Candi Gunung Gangsir (Pasuruan) mengadakan selamatan yang berkatian dengan Nyi Srigati – seorang yang muncul dalam cerita rakyat setempat.
• Air dari di Candi Belahan (Pasuruan) dianggap minuman Dewata oleh orang setempat.
• Situs-situs di lereng timur Gunung Arjuna memiliki arti yang sangat penting bagi orang Jawa yang percaya bahwa nenek-moyangnya dan Dewata berdiam di sana.











Isu yang Muncul oleh karena Pengunaan Purbakala

Ada berapa isu yang muncul oleh karena perbedaan dan persamaan dalam penggunaan peninggalan-peninggalan purbakala. Ada yang melihat bangunan-bangunan itu sebagai tempat suci dan ada yang melihatnya dalam arti yang tidak spiritual.

• Peninggalan purbakala sebagai tempat yang menyesatkan.
• Persepi kaum mudah.
• Perbedaan antara umat Hindu khususnya dalam filsafatnya.

Kesimpulan

• Kita dapat melihat bahwa peninggalan purbakala memeiliki arti yang sangat penting bagi beberapa golongan dalam masyarakat Jawa dan Bali.
• Bangunan tersebut merupakan sumber perbedaan dan persamaan bagi orang memanfaatkannya baik dalam arti keagamaan dan arti yang tidak spiritual.

Kata Pengantar

Setelah saya baru pindah ke Malang dari Yogyakarta ada seorang muda yang bertanya tentang rencana saya di Malang. Saya menjawab bahwa saya tertarik pada candinya yang terdapat di sekitar Malang dan dia bertanya lagi: “Ngapain ke Candi?” Sering ada orang Jawa Timur yang tidak tahu tentang warisan benda sejarahnya sendiri. Menurut saya, hal ini sangat menarik dan saya memutuskan untuk meneliti penggunaan dan persepsi terhadap peninggalan-peninggalan purbakala di Jatim.

Saya ingin mengucapkan terima kasih banyak kepada semua orang yang telah memberi bantuan dalam penelitian saya semester ini akan tetapi tidak mungkin bahwa semua orang dapat disebut satu oleh satu. Pada khususnya saya harus mengucapkan terima kasih kepada:

• Dr. H.A. Habib dan Dr Gerry van Klinken – pengurus program ACICIS di Malang;
• Dra. Hj. Su’adah – pembimbing saya di UMM;
• Hadih dan keluarganya di Sidoarjo;
• Andi dan semua teman-teman saya di Blitar;
• pegawai perpustakaan di Vihara Batu;
• Dede untuk pengeditan;
• Mas Yantoni – seorang yang lebih ramah tidak pernah akan saya ketemui; dan
• Zahra – untuk judulnya (maaf tentang mobilnya); dan
• setiap penziarah yang saya ketemui di Jatim.

Saya mengakui bahwa ada banyak kekurangan dalam penelitian ini akan tetapi mudah-mudahan penelitian ini dapat dimanfaatkan. Pengalaman saya di Jatim tidak ternilai.

Christopher Campbell
Malang 2002

Sabbe Satta Bhavatu Sukhitata
Semoga semua mahluk berbahagia
Sadhu-sadhu-sadhu

Daftar Isi


ABSTRAKSI ……………………………………………………………………………………… i

KATA PENGANTAR ……………………………………………………………………………. iii

DAFTAR ISI ……………………………………………………………………………………… iv

DAFTAR GAMBAR ……………………………………………………………………………... v

BAB I: PENDAHULUAN ………………………………………………………………………... 1

Latar Belakang …………………………………………………………………………… 1
Rumusan Masalah ………………………………………………………………………... 3
Tujuan Penelitian ………………………………………………………………………… 4
Kegunaan Penelitian ……………………………………………………………………... 4
Jadwal Penelitian …………………………………………………………………………. 4
Metodologi ……………………………………………………………………………….. 4

BAB II: PENGGUNAAN PENINGGALAN PURBAKALA DI JATIM ……………………... 5

Kabupaten Blitar …………………………………………………………………………. 5
Kabupaten Kediri ………………………………………………………………………… 13
Kabupaten Tulungagung …………………………………………………………………. 15
Kabupaten Nganjuk ………………………………………………………………………. 19
Kabupaten Malang ……………………………………………………………………….. 20
Kabupaten Probolinggo …………………………………………………………………... 24
Kabupaten Pasuruan ……………………………………………………………………… 25
Kabupaten Sidoarjo ………………………………………………………………………. 31
Kabupaten Jombang ……………………………………………………………………… 33
Kabupaten Mojokerto ……………………………………………………………………. 34

BAB III: ISU-ISU YANG MUNCUL …………………………………………………………… 42

Agama Islam ……………………………………………………………………………... 42
Agama Hindu …………………………………………………………………………….. 43
Agama Budha …………………………………………………………………………….. 44

BAB IV: KESIMPULAN ………………………………………………………………………… 46

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………………………….. 47

LAMPIRAN A: Situs-situs Purbakala di Jatim ………………………………………………... 49

LAMPIRAN B: Candi Berantakan ………………………………………………………………. 50

LAMPIRAN C: Padahal jadi Jugaan Tokoh dan Artis untuk Mandi Suci …………………….. 51

LAMPIRAN D: Surat Undangan Hari Waisak ………………………………………………… 52

LAMPIRAN E: Arus Informasi dan Globalisasi Menumbuhkan Fanatisisme Sempit ………... 53

LAMPIRAN F: Bentuk Petinya Ikuti Postur Mudra ……………………………………………. 54

LAMPIRAN G: Surat Ijin Penelitian …………………………………………………………… 55


Bab I: Pendahuluan

Latar Belakang

Dari bangunan-bangunan zaman purba di Jatim, yang kini masih tertinggal, hanya yang terbuat dari batu dan bata. Bangunan ini semua memiliki hubungan erat dengan keagamaan. Sebagai pusat bagi tiga kerajaan agung pada masa dahulu (Kediri, Singosari dan Majapahit) Jatim sangat kaya dengan peninggalan purbakala. Peninggalan ini, yang berupa berbagai macam bangunan, memiliki arti yang luas bagi masyarakat pada masa tersebut. Misalnya, masyarakat Majapahit memegang berbagai aliran agama dan kepercayaan secara bersampingan yaitu agama Siwa-Budha, kepercayaan asli dan agama Islam. Jelas bahwa bangunan suci memiliki arti yang berbeda bagi tiga agama dan kepercayaan tersebut.

Peninggalan purbakala biasanya disebut candi. Perkataan candi berhubungan dengan kata Candika sebagai salah satu nama Dewi Durga (Dewi Maut) dalam agama Siwa. Candi adalah bangunan tempat menyimpan abu jenazah seorang raja dan orang-orang terkemuka dan memuliakan rohnya yang telah bersatu dengan Dewata penitisnya. Selain itu candi juga merupakan tempat penghormatan dan pemujaan Dewata atau dengan perkataan lain tempat memuja nenek moyang.

Ada bangunan lain di Jatim yang biasanya disebut candi pula tetapi memiliki wujud dan fungsi tersendiri termasuk punden berundak, petirtaan, gapura dan stupa. Bangunan suci punden berundak telah berkembang pada zaman prasejarah dan berorientasi kepada puncak gunung yang dianggap sebagai tempat tinggal para arwah leluhur yang kedudukannya dianggap sama dengan Dewata. Bangunannya disusun di atas teras-teras, makin ke belakang makin tinggi dan di atas teras yang tertinggi dibangun sebuah altar yang dianggap paling suci. Petirtaan adalah pemandian yang disucikan oleh pemeluk Budha dan Hindu. Terdapat dua jenis gapura di Jatim. Jenis pertama berfungsi sebagai pintu untuk keluar masuk dan dalam tubuhnya terdapat lubang pintu. Jenis gapura kedua berupa seperti bangunan candi yang dibelah dua untuk meluangkan jalan keluar masuk. Gapura semacam ini disebut candi bentar. Stupa adalah bangunan bersifat Budha dan merupakan tempat merayakan orang yang telah mencapai nirwana serta menghormati kehidupan Sang Budha yang sebelumnya. Tersimpan di dalamnya adalah abu jenazah para Biksu yang terkemuka.

Menurut ahli anthropologi Indonesia Clifford Geertz, “It is particularly true that in describing the religion of such a complex civilisation as the Javanese any simple unitary view is certain to be inadequate…”, dan terdapat banyak variasi dalam ritual, perbedaan dalam kepercayaan, dan perselisihan nilai-nilai dalam masyarakat yang disebut sebagai pulau yang lebih dari 90 persen Islam. Ada dua golongan Islam utama dalam masyarakat Jawa yaitu golongan santri dan golongan yang cenderung kepada kepercayaan Jawa asli. Sampai baru-baru ini saja, tempat keramatlah dan bukan mesjid yang merupakan pusat ritual di daerah perdesaan. Perselisihan antara orang santri dan orang yang lebih cenderung kepada kepercayaan asli adalah tema yang berulang sepanjang sejarah Islam di Jawa. Sering di kalangan rakyat umum kepercayaan Jawa aslilah yang dominan sedang agama Islam ortodoks merupakan suatu selubung di luar saja. Yang berperan adalah para arwah leluhur dan roh-roh lain. Roh dan makhluk tersebut dianggap dapat mendatangkan kebahagiaan dan kesejahteraan di samping penderitaan dan kesengsaraan. Dewata Hindu dan Budha juga dimasukkan ke dalam kepercayaan Jawa asli misalnya Dewi Sri (Dewi Padi) yang dianggap dapat mempengaruhi kesuburan. Ada dua upacara yang berkaitan dengan kepercayaan terhadap makhluk halus yaitu upacara selametan dan upacara sesajen. Sering upacara tersebut diadakan di tempat-tempat kediaman makhluk halus termasuk peninggalan purbakala. Puncak gunung-gunung yang tertutup hutan dianggap sebagai tempat kediaman para Dewata dan para arwah leluhur. Bangunan purbakala yang terletak di gunung merupakan tempat penziarahan bagi orang yang memeluk kepercayaan asli Jawa.

Ritual Hindu harus mematuhi tiga prisip yaitu tatwa (filsafat), susila (moralitas) dan upakara (upacara). Dalam agama Hindu upacara yadnya (pemujaan) biasanya disebut lima jenis:

• Dewa-yadnya: pemujaan kepada Dewata;
• Pitra-yadnya: pemujaan kepada arwah nenek moyang;
• Manusa-yadnya: upacara yang mendatangkan keselamatan kepada manusia;
• Buta-yadnya: sajen kepada buta dan kala (roh jahat yang suka menggangu); dan
• Rsi-yadnya: pemujaan kepada pedanda (pendeta).

Bagi umat Hindu candi dianggap sebagai tempat di mana Dewata berdiam selama suatu upacara dilakukan. Dewata itu muncul dan bersentuhan dengan orang di dalam upacara ketika sajen diberi kepadaNya. Menurut kepercayaan Hindu bangunan candi melambangkan alam semesta dengan tiga bagiannya: kakinya adalah dunia nafsu; tubuhnya adalah dunia bentuk; dan atapnya adalah dunia tanpa bentuk. Peninggalan purbakala di Jatim memiliki dua fungsi penting bagi umat Hindu baik Jawa maupun Bali. Pertama sebagai tempat pemujaan kepada arwah nenek moyang dan kedua sebagai tempat pemujaan kepada Dewata. Seperti kepercayaan asli Jawa orang Hindu juga percaya bahwa puncak gunung adalah tempat kediaman para Dewata dan para arwah leluhur. Di lereng gunung-gunung di Jatim terdapat bangunan suci yang merupakan tempat penziarahan umat Hindu. Maka peninggalan purbakala memiliki arti yang penting bagi umat Hindu dalam menjalankan kehidupan keagamaannya.

Salah satu prinsip universal agama Budha adalah: “Meditasi – karena pikiran itu yang tertinggi, ia harus dikenal dan diasah sebelum dapat dibebaskan, dan satu-satunya cara untuk melakukan hal ini adalah melalui berbagai metode meditasi.” Para pengikut Sang Budha diajarkan tentang tidak adanya Dewata yang harus mereka puja atau mohon agar ikut campur dalam kehidupan mereka. Namun, kebiasaan memuja dan berdoa telah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam tradisi budaya Indonesia. Umat Buddha memperbolehkan persentuhan antara Dharma (ajaran agama Budha) dengan animisme pribumi. Daripada menghancurkan suatu kebudayaan agama Budha berjalan harmonis dengannya: “Jika itu yang Engkau percaya, dan jika itulah caramu melihat hidup ini, ayo kita mulai dari sana!” Umat Budha berziarah ke bangunan suci sebagai tanda kehormatan. Peninggalan purbakala melayani umat Budha baik para Biksu dan Biksuni maupun kaum awam.

Sepanjang sejarah peninggalan-peninggalan purbakala memiliki arti yang luas dan tidak hanya dalam lingkungan keagamaan. Kapten George Baker, yang diberi tugas meneliti peninggalan purbakala oleh Gubernor Raffles, mengatakan (setelah pertama kali melihat Candi Sewu): “In the whole course of my life I have never met with such stupendous and finished specimens of human labour, and of the science and age of ages long since forgot…”. Seorang nasionalis atau sejarahwan mungkin akan menganggap bangunan-bangunan itu sebagai bukti adanya konsep ‘negara’ Indonesia pada masa dahulu. Dalam buku-buku sejarah Gajah Mada digambarkan sebagai seorang negarawan yang mengibarkan panji-panji Majapahit di seluruh kepulauan Indonesia. Menurut John Miksic, “Trowulan…adalah tempat terjadinya kerajaan Jawa yang paling kuat, Majapahit. Didirikan pada akhir abad ke-13, patihnya tang terkenal, Gajah Mada, menuntut kekuasan raja atas daerah yang lebih besar daripada Indonesia modern. Demikian dia sebetulnya ialah pemimpin pertama yang menentukan konsep Indonesia yang bersatu dengan identitas Indonesia.” Di sisi lain, peninggalan budaya ini memiliki daya tarik tersendiri sebagai objek yang ditawarkan ke wisatawan baik orang Indonesia maupun orang asing.






Rumusan Masalah

Penelitian ini menyoroti tiga permasalahan:

• Bagaimana penggunaan peninggalan purbakala pada zaman sekarang?
• Bagaimana persepsi masyarakat terhadap peninggalan purbakala?
• Isu-isu apa yang muncul dalam penggunaan peninggalan purbakala?

Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan cerita, persepsi dan penggunaan terhadap peninggalan purbakala yang terdapat di Jatim. Pula menjelaskan isu-isu yang muncul oleh karena perbedaan dan persamaan dalam penggunaan dan persepsi itu.

Kegunaan Penelitian

Penelitian tentang peninggalan purbakala di Jatim dan kepercayaan yang berkaitan dengannya sangat luas akan tetapi hampir semuanya menggambarkan kehidupan dan kepercayaan pada masa dahulu. Diharapkan kegunaan penelitian ini adalah sebagai salah satu literatur tentang penggunaan dan kepercayaan terhadap situs-situs purba pada zaman ini.

Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini adalah Jatim dan pada khususnya sepuluh kabupaten yaitu Blitar, Kediri, Tulungagung, Nganjuk, Malang, Probolinggo, Pasuruan, Sidoarjo, Jombang dan Mojokerto.

Jadwal Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan selama empat bulan dari Februari 2002 sampai Juni 2002 atas usaha Universitas Muhammadiyah Malang.

Metodologi

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pendekatan tersebut dilakukan dengan metode wawancara, pengamatan dan dokumentasi. Wawancara bersifat tidak terstruktur dengan menggunakan pedoman wawancara yang berkembang sesuai kebutuhan di lapangan. Pengamatan yang dilakukan bersifat non-partisipatif. Dokumentasi didapatkan dari literatur tertulis serta internet.



BAB II: Penggunaan Peninggalan Purbakala di Jawa Timur

Tersebar di seluruh Jatim adalah peninggalan purbakala yang tidak dapat dihitung. Ada yang terkenal, ada yang tidak terkenal dan hampir pasti ada yang belum ditemukan kembali. Ketika meneliti beberapa situs di sebelah utara Blitar saya melewati Desa Balekambang. Saya diajak mengopi oleh seorang penduduk desa setempat dan ketika saya memberitahunya bahwa saya sedang mencari situs purbakala dia berkata bahwa ada yang dekat rumahnya. Saya diantar ke tengah ladang di mana terdapat bangunan (disebut orang setempat Candi Balekambang) yang belum digali and hanya atapnya yang dapat dilihat. Dua bulan kemudian teman saya, yang mengantar waktu itu, diminta membantu temannya dari Fakultas Arkeologi Universitas Gadjah Mada (UGM) mencari situs-situs di Blitar. Ternyata salah satu situs yang dimaksudkan adalah Candi Balekambang yang sekarang mau digali oleh mahasiswa UGM. Semananjung Blambangan, yang dahulu merupakan daerah kerajaan Hindu terakhir di Jawa, adalah daerah arkeologi yang belum dijelajahi. Ada pula candi yang disebut dalam kitab-kitab Majapahit tetapi sampai sekarang tidak dapat diketahui lokasinya. Ada pula tokoh-tokoh penting dan sampai sekarang tempat pemuliaannya tidak diketahui misalnya Gajah Mada.

Tiga kerajaan besar yang berdiri di Jatim yakni Majapahit, Singosari dan Kediri, meninggalkan banyak warisan benda sejarah. Ada yang masih terawat dengan baik dan ada yang kondisinya memprihatinkan.

Kabupaten Blitar

Banyak candi di Blitar yang agak runtuh tetapi hal ini tidak terlalu mengejutkan oleh karena kebanyakan candi itu terletak di lereng Gunung Kelud (lihat Gambar II-31). Walaupun tingginya hanya 1731m Gunung Kelud adalah salah satu gunung api yang paling berbahaya di Jatim. Pada tahun 1919 gunung itu meyebabkan kematian ribuan orang desa sejauh tepi sungai Brantas dan pada tahun 1951 meledak lagi menyebabkan Jawa Tengah ditutupi abu-abu.

Candi Penataran

Candi ini terletak di lereng barat daya Gunung Kelud di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, berjarak 10km di sebelah utara Blitar dan adalah kompleks candi yang terbesar di Jatim. Candi Penataran merupakan candi yang terpenting dalam Kerajaan Majapahit dan Gajah Mada mengunjunginya beberapa kali. Di belakang situs ini terdapat sawah dan pohon-pohon kelapa.

Kompleks ini dapat dibagi menjadi tiga halaman gedung yang dikelilingi oleh tembok. Sebuah patung besar menjaga halaman pertama. Dalam halaman ini terdapat dua teras, salah satunya dihiasi dengan relief-relief dan juga ada Candi Angka Tahun dengan arca Ganesa di dalamnya. Bangunan utama di halaman kedua adalah Candi Naga. Bangunan yang paling besar terdapat di halaman ketiga yaitu Candi Induk (lihat Gambar II-1). Kakinya bersusun tiga tingkat akan tetapi atapnya telah runtuh dan hilang. Teras-teras di bawah menggambarkan cerita Ramayana. Apabila melewati tembok timur, di pojok tenggara, terdapat pemandian yang dihiasi dengan relief-relief.

Menurut juru kuncinya Candi Penataran merupakan candi yang paling sering dikunjungi di Jatim akan tetapi hal ini mengakibatkan dampak baik positif maupun negatif. Dana untuk pemeliharaan yang ada di sana jauh lebih banyak kalau dibandingkan dengan candi lain di Jatim akan tetapi suasana di candi ini dipengaruhi oleh karena adanya warung-warung dan penjual di sekitarnya.
Bagi umat Hindu Candi Penataran memiliki arti yang penting. Mereka menganggapnya sebagai bagunan pemujaan leluhur dan tempat melakukan upacara bersama, antara keluarga dan kerabat Sang Raja dengan rakyat. Yang disembah di Candi Penataran ialah roh suci leluhur yang telah disucikan. Tempat pemandian digunakan oleh umat Hindu untuk mengambil air yang digunakan dalam upacaranya.

Di Blitar ada seorang paranormal yang menceritakan makhluk tuyul yang berwujud seorang bayi. Makhluk itu mendiami tempat-tempat yang angker seperti Candi Penataran. Apabila seorang ingin memiliki pesugihan tuyul, mereka dapat mengunjungi Candi Penataran. Sebelum menaklukkan tuyul itu, seorang harus menjalankan laku tapa ngluweng (mengubur diri). Setelah itu tercapai, maka penguasa gaib di wilayah Candi Penataran akan mengadakan perjanjian saling menguntungkan. Mahluk tuyul tersebut tidak langsung dapat disuruh mencuri, tetapi harus dilatih terlebih dahulu oleh majikannya. Setelah mengerti apa yang harus dilakukan, mereka akan melaksanakan perintah pemiliknya tersebut setelah lepas sembahyang isya.

Candi Sumberjati

Candi Sumberjati (disebut Candi Simping orang setempat) berjarak di sebelah barat daya Blitar di Desa Sumberrejo, Kecamatan Suruhwadang (lihat Gambar II-2). Raja Kertarajasa dicandikan dalam arca Siwa yang terdapat di Candi Sumberjati. Walaupun candi ini telah runtuh sekarang, Sumberjati menunjukkan contoh relief yang sangat baik. Bangunan utama dikira mirip dengan macam candi Kidal (Malang) dan Sawentar (Blitar). Sekarang yang tinggal hanya batu-batu dan arca-arca. Lokasi ini dikelilingi sawah dan hutan serta ada pemandangan bukit di belakang.

Menurut orang setempat situs ini tidak lagi digunakan oleh orang setempat dalam arti keagamaan. Akan tetapi orang Hindu mengadakan upacara di sana. Katanya umat Hindu biasanya datang dalam rombongan, pada hari yang tidak tertentu, dan bersembahyang dibawah “imam”nya. Mereka tinggal sebentar saja sebelum pergi lagi.

Candi Boro

Sebetulnya situs ini yang terletak di Desa Tulis Kriyo, Kecamatan Sanan Kulon, tidak merupakan candi melainkan arca Ganesa (lihat Gambar II-3). Berjarak dekat dengan Candi Sumberjati di sebelah barat daya Blitar. Arca-arca Ganesa seperti itu sering ditempatkan dekat penyeberangan sungai - mungkin disebabkan oleh sifat Ganesa sebagai Dewa yang memberbolehkan penggemarnya mengatasi semua rintangan.

Tingginya candi ini tiga meter. Di belakang kepalanya terdapat muka kala besar. Dewa gadjah ini memegang sapu kecil dan kapak kayu. Hiasan yang melintang pada kaki arca ini adalah gading-gading dan tengorak-tengkorak. Arca ini ditutupi dengan atap dan dikelilingi oleh rumah-rumah. Di belakangnya terdapat pohon-pohon tinggi.

Juru kunci candi ini ialah Ibu Sanangulon dan dia sangat senang bercerita tentang pengalamannya dan sejarah arca itu. Dia telah tinggal di sebelah arca selama 60 tahun dan dilahirkan tidak jauh dari lokasinya. Pada tahun 1940 dia merantau ke Surabaya untuk berkerja sebagai pembantu. Dua tahun kemudian dia pulang dan membeli rumah dengan pintu belakang yang keluar kira-kira lima meter dari arca itu.

Katanya, pada tahun 1940 arca ini ditutupi pasir oleh pejabat Belanda oleh karena mereka takut arca itu akan kena bom dari serangan Jepang. Ketika orang Jepang menjajah Indonesia dan masuk wilayah Blitar arca dibongkar lagi. Kata beliau orang Jepang menggunakan arca itu untuk bersembahyang sesuai dengan kepercayaannya.

Setelah kemerdekaan Ibu menikah dengan seorang tentarawan. Tidak lama setelah peristiwa ’65 (dan ketegangan antara agama mulai muncul) ada orang yang datang ke arca itu malam-malam sekali. Suami Ibu (yang telah wafat sekarang) memberitahunya bahwa dia yakin orang itu adalah prajurit. Akan tetapi Ibu sendiri menyebutkannya sebagai oknum. Mereka datang dengan membawa beliung dan menetaki muka arca. Ketika ditanya tentang alasan serangan itu Ibu mengatakan bahwa mungkin tempat ini dianggap tempat yang menyesatkan oleh orang-orang yang beragama Islam ortodoks. Menurut Ibu, akhirnya orang-orang itu yang merusakkan arca itu mendapatkan hukuman sendiri karena ada jatuh sakit dan ada yang mati.

Di depan arca itu ada dupa dan daun bunga dan Ibu mengatakan bahwa setiap hari ada orang yang bersembahyang di tempat (agamanya Hindu dan Islam). Katanya orang Islam pun masih percaya pada adanya Dewa di sana. Dia juga mengatakan bahwa ada orang asing yang datang untuk bersembahyang khususnya dari Jepang – tetapi dia tidak yakin kalau ini berkaitan dengan masa penjajahan Jepang.

Candi Kalicilik

Situs ini terletak di belakang halaman di tengah rumah-rumah di Desa Candirejo, Kecamatan Ponggok (lihat II-6). Agak sulit untuk mencapai ke candi ini oleh karena kekurangan tanda penunjuk jalan. Suasana di situs ini sepi dan di belakangnya terdapat pohon-pohon dan rupanya halamannya dirawati.

Ketika mengunjungi lokasinya juru kunci tidak ada di rumah sehingga saya harus melompat pagar setelah minta ijin dari orang setempat. Katanya candi ini kadang-kadang digunakan orang setempat untuk mengadakan selamatan. Ada pula orang Hindu yang mengadakan upacara sembahyang di sana.

Candi Sumbernanas

Candi ini terletak di Desa Rejoso, Kecamatan Ponggok (lihat Gambar II-7). Situs ini dikelilingi ladang dan hutan. Sekarang ini hanya puing yang tertinggal. Atap dan tubuh telah hilang dan hanya kaki yang dapat dilihat. Menurut orang setempat keadaan candi yang kurang baik disebabkan oleh Gunung Kelud yang mengakibatkan kerusakan di wilayah itu kalau meledak.

Orang setempat berkata bahwa mereka kadang-kadang mengadakan selamatan di halaman candi. Ketika saya mengunjungi situsnya masih ada dupa dan sebotol minyak wangi di depan candinya. Selamatan yang diadakan di sana memuja Allah dan sebuah danyang yang mendiami desa yang terletak dekat. Mereka menggunakan campuran bahasa Jawa dan Arab dalam upacaranya. Menurut orangnya jarang ada orang Hindu yang bersembahyang di sana dan sebenarnya jarang sekali ada wisatawan oleh karena keadaan bangunan yang tidak terlalu menyenangkan kalau dibandingkan dengan candi lain di Blitar.

Candi Gambar Wetan

Candi ini terletak di sebelah palung sungai lahar Gunung Kelud berjarak dua kilometer di sebelah utara Desa Candisewu, Kecamatan Nglegok (lihat Gambar II-8). Candi ini dapat dikaitkan dengan dua prasasti yang berangka tahun 1410 dan 1438. Perjalanan mencapai ke candi ini melewati bekas perkebunan kopi. Apabila tidak diantar oleh seorang setempat mungkin agak kesulitan. Pemandangan Gunung Kelud sangat mengesankan. Candi ini ditutupi pohon-pohon dan memiliki suasana yang tenang dan sepi. Terdapat pos penjaga akan tetapi juru kunci jarang sekali berada di sana oleh karena jauh dari desanya dan jarang sekali ada pengunjung.

Seorang muda dari desa Candisewu membertitahu tentang alasan-alasan candi mengalami kerusakan dan memang ceritanya menarik dan menunjukkan berapa pengaruh dan tegangan yang dialami orang setempat. Menurutnya, ada tiga alasan mengapa candi ini dalam keadaan yang kurang baik. Pertama, candi ini dekat dengan Gunung Kelud yang sering meledak. Sangat jelas bahwa wilayah ini dipengaruhi oleh Gunung Kelud oleh karena tidak jauh dari tempatnya ada sungai lahar yang sangat besar.

Kedua, hubungan antara kepercayaan dahulu dan kepercayaan sekarang masih ketat sekali di daerah ini. Orang itu sendiri mengatakan bahwa dia sama sekali tidak percaya pada apa yang dipercayai orang “tua” itu. Katanya, orang muda tidak lagi mau percaya pada kepercayaan itu. Dia pernah belajar di sekolah agama dekat Jombang yang mungkin mempengaruhi pandangannya. Dari konversasi jelas bahwa dia sendiri adalah seorang Islam yang ortodoks. Rupanya bahwa dia menghormati orang tua setempat dan dia tidak menentang jalan mereka. Katanya, orang itu mengadakan selamatan di candi setiap minggi pada malam Jumat dan memuja roh-roh yang dipercaya berdiam di sana. Selamatan juga diadakan kalau ada kejadian seperti sunatan atau perkawinan supaya tidak ada hambatan. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa dan Islam. Orangnya percaya bahwa roh-roh yang berdiam di sana berkaitan dengan aktivitas Gunung Kelud. Ada pula orang yang bertapa dan bersemadi. Pernah ada orang yang menganggap kepercayaan itu sebagai sesuatu yang melawan Allah sampai mereka datang dan mengambil patung serta merusakkan bangunannya. Akan tetapi kepercayaan orangnya kuat dan tidak hanya tergantung pada bangunan fisik.

Ketiga, tanah di sekitar candi merupakan bekas perkebunan kopi. Di daerah ini (dan beberapa daerah lain di Jatim) telah muncul perselisihan tanah. Ternyata bahwa orang perkebunan yang disalahkan atas kehilangan patung dari candinya. Orang pun yang tidak memiliki hubungan dengan candi (dalam arti keagamaan), sangat tersinggung oleh karena pencurian itu. Walaupun tidak pernah dibuktikan bahwa itu orang perkebunan yang bersalah “kebenaran” itu tidak begitu penting. Yang penting adalah apa yang disangka orang. Ada kemungkinan bahwa sangkaan itu memiliki peran dalam peselisihan tanah yang terjadi di sekitar Desa Candisewu.

Candi Bacem

Candi Bacem terletak di belakang SD di Desa Bacem, Kecamatan Sutojayan (lihat Gambar II-9). Situs ini ditutupi pohon dan dikelilingi rumah. Tidak jauh dari situsnya ada bukit yang memisahkan wilayah Blitar dari wilayah pantai selatan. Di situs ini terdapat dua bangunan utama. Sekarang keadaannya kurang baik dan keduanya agak runtuh. Di atas bangunan pertama terdapat tiga altar. Suasana di Desa Bacem sangat sepi sehingga suasana di candi ini tenang. Bangunannya dibuat dari batu-bata dan agak kecil.
Setiap malam Jumat orang setempat mengadakan selamatan di sana. Kata orang yang tinggal di sebelah candi ada danyang yang mendiami candi dan selamatan itu juga berkaitan dengan arwah nenek-moyangnya. Bahasa yang digunakan adalah campur bahasa Jawa dan Arab.

Candi Sawentar

Terletak di Desa Sawentar, Kecamatan Kanigoro, di sebelah timur Blitar (lihat Gambar II-4). Candi Sawentar (disebit orang setempat Candi Cungkup) agak mirip dengan Candi Kidal (Malang) dan dibuat pada abad ke-13. Situs ini dikelilingi rumah dan pohon dan halamannya dirawati. Kakinya dikelilingi parit dan terletak beberapa meter bi bawah tanah, disebabkan oleh karena lokasi ini pernah di terpendam akibat lahar dari ledakan Gunung Kelud.

Juru kuncinya senang sekali membicarakan sejarah candi ini dan candi di sekitarnya. Candi ini sering dikunjungi umat Hindu. Biasanya orang itu datang dalam rombongan dan tinggal beberapa jam untuk mengadakan upacara. Orangnya duduk di depan pintu masuk dan bersembahyang.

Candi Kotes

Candi Kotes terletak di tengah Desa Kotas, Kecamatan Gandusari (lihat Gambar II-10). Di sebelahnya ada rumah-rumah dan di belakangnya terdapat hutan. Suasana di candi ini sepi dan ketika saya mengunjunginya juru kuncinya tidak ada akan tetapi orang setempat memperbolehkan saya masuk melewati lubang di pagar. Kaki Candi Kotes menunjukkan bahwa pada masa dahulu candi ini agak besar tetapi sekarang atapnya hilang dan hanya tinggal beberapa batu dari bagian atas. Ada beberapa patung dan batu-batu yang bercorak.

Menurut orang setempat candi ini jarang dikunjungi turis-turis dan sekarang tidak lagi digunakan dalam arti keagamaan. Menurut orang itu banyak patung pernah dicuri pada tahun 1960-an sebelum mulai masa penjagaan. Ketika menanyakan orang yang bertanggung jawab mereka berkata bahwa mereka tidak tahu dengan pasti.

Candi Wringin Branjang

Terletak di luar Desa Sumberagung, Kecamatan Gandusari (lihat Gambar II-11). Dalam perjalanan ke situs ini harus melewati ladang dengan menuju ke Gunung Gedang. Candi ini terdapat di dalam hutan cemara. Pemandangannya indah sekali dari situs ini dengan melihat tanah darat Blitar dan gunung-gunung di sekitarnya dan udaranya sejuk oleh karena ditutupi pohon. Situs ini sangat mengesankan.

Ada bangungan dekat candinya yang baru saja diketemukan kembali. Bangunan pertama terletak paling bawah dan dibuat dari batu besar. Tidak ada hiasan apapun dan menurut orang setempat ini merupakan tempat pertapaan pada zaman dahulu. Di dalam ruang ini ada dupa dan ruangnya masih digunakan untuk penyemadian. Terletak kira-kira 50m di belakang bangunan pertama ada ladang dan tiga bangunan lagi. Bangunan itu belum diberi nama. Di atas salah satunya dibangun ruang supaya pengunjung dapat bersemadi. Di dalam ruang ini terdapat tikar, lilin, dupa dan payung. Di sebelah situs ini ada bangunan kayu yang digunakan orang yang berziarah untuk masak dan tidur. Ada empat orang yang tetap tinggal di sana untuk menjaga situsnya.

Penggunaan bangunan ini menarik sekali dan sering digunakan untuk meditasi yang berkaitan dengan agama Budha. Ketika saya mengunjunginya ada rombongan berempat dari Yogyakarta. Mobilnya mewah sekali dan mereka datang dari Yogya khususnya untuk bersemadi di situs ini. Ketika saya sampai ke situs itu pada jam 10 pagi mereka baru saja keluar dari ruang meditasi (mulainya jam 10 malam).

Orang Yogyakarta mengatakan bahwa banyak teman-temannya telah pernah berlatih di tempat itu. Ketika ditanya tentang kepercayaannya dia menjawab agama Islam. Ternyata di Jatim ada banyak orang yang beragama Islam tetapi masih tetap belajar meditasi melalui agama Budha. Mereka juga datang untuk membicarakan “soal-soal” hidup dalam suasana yang sepi dan tenang. Ketika bertanya tentang cara meditasi dia mengatakan bahwa itu campuran Budha dan Jawa.

Rombongan itu dari Yogyakarta berkelas tinggi dan salah satunya bercerita tentang rencananya pergi ke Australia untuk membangun bisnis di sana. Menurutnya mereka berziarah untuk mendapat kelonggaran dari kota yang “full of stress”. Orang setempat berkata bahwa ada Biksu yang mengunjungi candi ini untuk mengajarkan Dharma dan meningkatan kesadaran tentang agama Budha. Di bawah satu situs disediakan tempat supaya orang-orang dapat duduk sambil diajarkan meditasi.

Candi Plumbangan

Terletak dekat Wlingi di tengah Desa Plumbangan, Kecamatan Doko (lihat Gambar II-5). Sebetulnya situs ini bukan candi melainkan gapura. Menurut juru kuncinya pernah ada wihara di tempat ini pada zaman dahulu. Situs ini dikelilingi rumah-rumah dan terletak tidak jauh dari jalan raya Malang-Blitar. Menurut juru kuncinya situs ini tidak lagi digunakan dalam arti keagamaan. Dia sangat senang ada pengunjung asing oleh karena jarang sekali ada pengunjung baik orang Indonesia maupun orang asing.

Candi Tepas

Tertelak di tengah pohon-pohon tidak jauh dari Kasembon di Desa Tepas, Kecamatan Kasembon (lihat Gambar II-12). Perjalanan mencapai ke situs ini sangat menyenangkan melewati sawah bertingkat-tingkat dan ada pemandangan bukit-bukit dan gunung-gunung ke arah utara. Suasana di candi ini tenang sekali oleh karena lokasinya di tengah hutan jauh dari jalan raya. Candi ini agak besar dan dibuat dengan batu besar yang kebanyakan halus pada khususnya di bagian atas. Keadaan candi ini masih baik akan tetapi telah mengalami kerusakan waktu. Tidak ada hiasan apapun.

Menurut orang setempat masih diadakan selamatan di mana orang memuja nenek moyangnya dan Allah. Selamatan itu menggunakan bahasa Jawa dan Arab akan tetapi hanya diadakan kalau ada keinginan yang spesifik misalnya pembangunan rumah baru atau pernikahan. Katanya tidak semua orang di desa mengikuti selamatan tersebut.

Kabupaten Kediri

Orang yang berbahasa Inggris dan mengunjungi Pare dengan niat melihat candi di sekitarnya tidak perlu kuatir. Sebabnya sekarang Pare telah berkembang sebagai pusat kursus bahasa Inggris. Apabila seorang asing berjalan di sana mereka akan diajak masuk rumah-rumah dan berbicara bahasa Inggris. Apabila mau mengunjungi candi-candi sorang asing hanya harus berkata begitu dan pasti ada seseorang yang akan mengantar dengan biaya latihan berbicara bahasa Inggris.

Tidak jauh dari kota Kediri ada gua meditasi Budha yang terlatak di bukit Klotok ke arah barat dari Kediri. Goa Selomangleng adalah goa alam yang terpahat di dinding berupa relief. Ada pengunjung yang secara periodik mengunjungi lokasi tersebut serangkaian dengan kegiatan berziarah.

Candi Surowono

Terletak di Desa Canggu, Kecamatan Pare, dua kilometer dari jalan raya ke Kediri (lihat Gambar II-13) dan dibangun pada abad ke-14. Candi ini dikililingi rumah dan ditutupi pohon. Di sebelah candi ada beberapa arca dan antaranya ada yang sangat indah.

Sekarang hanya kakinya yang tertinggal. Keadaan candi ini masih baik akan tetapi di depan candi ada jajaran konkret dan di atas jajaran ini ditempatkan batu-batu yang diketemukan di sekitar candinya. Batu-batu ini berjumlah ratusan yang menunjukkan bahwa dahulu candi ini jauh lebih besar.

Juru kuncinya senang bercerita tentang sejarah candi ini. Katanya setiap bulan Sura (tanggalan Jawa) ada orang Hindu yang datang untuk mengadakan upacara. Jumlah orang yang biasanya datang adalah empat sampai enam orang. Menurut juru kunci juga ada orang Budha yang mengunjungi candi ini. Katanya selama dasawarsa 1960-an ada banyak patung dan batu yang hilang. Baru tahun 1970 mulai ketat penjagaannya dan sejak itu tidak pernah ada yang hilang.

Candi Tegowangi

Candi Tegowangi terletak di desa Tegowangi Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri (lihat Gambar II-14). Candi ini terletak dalam taman rekreasi dan halamannya luas sekali. Di dalamnya ada pertenakan tawon sehingga ketika menaiki candinya terlihat banyak tawon. Ada dua bangunan utama. Yang tinggal sekarang adalah kaki saja. Relief yang terpahat di candi ini masih dalam keadaan baik dan mengambarkan legenda Sudamala.

Ibu juru kunci tahu banyak tentang sejarah candi dan dia sangat senang memperlihatkan buku tentang Candi Tegowangi. Menurutnya setiap tahun ada orang Hindu yang dari sejauh Jakarta dan Bali datang untuk bersembahyang. Biasanya mereka datang dalam rombongan yang sebesar 20 orang. Menarik juga bahwa orang yang berziarah ke sana biasanya memakai pakaian biasa dan hanya pemimpin yang memakai pakain adat. Mereka duduk di atas candi dan bersembahyang.

Ada pula para Biksu yang datang ke sana, biasanya dari Kediri. Akan tetapi menurut juru kuncinya mereka tidak datang pada hari tertentu. Kadang-kadang mereka duduk saja selama beberapa jam di atas atau di sebelah candi atau kadang-kadang mereka bersemadi sambil berjalan mengelilingi bangunan utama.

Kabupaten Tulungagung

Berjarak ke arah selatan kota Tulungagung terdapat Bukit Wajak Kidul (lihat Gambar II-15). Di sana terdapat tempat kepariwisataan Gua Selomangleng dan Gua Pasir. Suasana di Gua Pasir sangat sepi dan lokasi ini digunakan oleh orang yang berpacaran. Pemandangan dari dua gua ini luar biasa. Menurut juru kunci hal ini sengaja. Tempat pertapaan dibangun di tempat yang memiliki pemandangan indah supaya orang yang bertapa harus mengatasi keinginan untuk melihatnya.

Boyolangu

Candi Boyolangu (disebut Candi Gayatri orang setempat) terletak di Desa Boyolangu, Kecamatan Boyolangu (lihat Gambar II-16). Suasana di candi ini sangat sepi waluapun terletak di tengah desa. Halamannya ditutupi pohon-pohon. Ada tiga bangunan dan sebuah patung yang mungkin berupa bodhisavatta terletak di atas bangunan utama. Keadaan candi ini besar tetapi agak runtuh. Terdapat arca-arca Siwa di atas bangunan kecil dan di halaman.

Bapak juru kunci mengatakan bahwa sering ada orang yang mengunjungi situs ini dalam arti keagamaan. Setiap Hari Waisak ada orang dari Kediri yang berkunjung untuk merayakan kehidupan Sang Budha dan bersemadi. Mereka semua duduk di sekitar candinya dan bersemadi dan ada yang menunjukkan tari-tarian. Yang menarik, ada umat Hindu yang merayakan Hari Waisak bersama dengan orang Budha. Mereka membawa sajen yang berupa buah-buahan. Kebanyakan orang yang datang adalah orang pribumi tetapi juga ada orang Tionghoa. Para Biksu juga sering datang ke candi ini biasanya pada jam 6 pagi sampai jam 12 siang. Mereka duduk di depan tempok barat dan menghadapi arca Budha. Kata juru kunci mereka duduk diam saja.






Candi Dadi

Terletak di atas bukit dekat Desa Wajak Kidul, Kecamatan Boyolangu pada ketinggian 900m di atas permukaan laut (lihat Gambar II-17). Tahun pembangunan candi ini sampai sekarang tidak diketahui. Keindahan alam yang berada di puncak bukit kapur dapat dinikmati dari Candi Dadi dengan memandang pergunungan Wilis, kota Tulungagung dan tanah darat di sekitarnya. Untuk mencapai ke candi ini harus berjalan kaki selama setengah jam tetapi perjalanan ini sangat menyenangkan lewat perkebunan dan hutan alam. Candi ini dikelilingi perkebunan kacang tanah. Suasana di candi ini sangat alam oleh karena jauhnya dari rumah dan ada pemandangan unik. Sebetulnya, situs ini bukan candi melainkan stupa (salah satu dari dua stupa di Jatim). Keadaan candi ini baik sekali.

Ada cerita bahwa pohon “bonzai” pernah ditanam orang Jepang di bukit-bukit ini dan pohon itu masih dicari oleh orang setempat. Candi ini juga digunakan orang Jepang untuk bersembahyang. Ada rombongan pecinta alam dari Tulungagung yang sering mengunjuni Candi Dadi. Para Biksu juga mengunjungi candi ini untuk meditasi. Agak menarik bahwa seorang setempat mengatakan bahwa bangunan itu merupakan peninggalan Belanda. Selamatan juga kadang-kadang diadakan di Candi Dadi tetapi hanya kalau ada hajat yang spesifik.

Candi Penampian

Candi yang unik ini terletak di lerengan Gunung Wilis di tengah kebun teh di Desa Geger, Kecamatan Sendang (lihat Gambar II-18). Candi ini susah sekali dicapai oleh karena jalannya tidak diaspal dan sangat curam. Suasana sangat sepi dan ketika dan jarang ada orang melewati lokasinya. Udaranya sangat sejuk dan candinya ditutupi kabut. Menurut orang setempat kalau tidak kabut candi ini memiliki pemandangan gunung Wilis dan tanah datar di bawahnya yang spektakular. Di sebelah candi terdapat sungai kecil yang digunakan sebagai sumber air minum di desa Penampian.

Ada selamatan yang diadakan di sana untuk menyelamatkan desa di bawah dan supaya panennya baik. Menurut orang setempat selamatan ini mengingat nenek-moyangnya yang pernah tinggal di daerah itu. Selamatan itu menggunakan campuran bahasa Jawa dan Arab dan biasanya diadakan pada setiap malam Jumat. Jarang sekali ada wisatawan datang ke sana baik orang Indonsia maupun orang asing.

Candi Sanggrahan

Terletak di Desa Sanggrahan, Kecamatan Boyolangu candi ini disebut Candi Cungkup orang setempat (lihat Gambar II-19). Candi ini dikelilingi rumah dan hutan yang mengakibatkan suasana sepi dan tidak jauh darinya terlihat Bukit Wajak Kidul. Kaki candi ini luas sekali, tingginya dua meter dan di atas ada ruang yang ukurannya sama dengan seperempat lapangan sepak bola. Ada batu di sebelah tangga yang dahulu merupakan gapura. Bangunan utama agak runtuh tetapi masih mengesankan. Candi ini memiliki papan-papan tetapi tidak ada gambaran sama sekali.

Menurut juru kunci, yang tinggal di sebelah candi, dahulu sering ada orang yang datang untuk bersembahyang tetapi sekarang jarang sekali. Orang dari desa di sekitarnya kadang-kadang mengadakan selamatan di candi tetapi hanya kalau ada hajat. Mereka duduk di depan bangunan utama dan menggunakan campuran bahasa Arab dam Jawa.

Candi Mirigambar

Terletak di Desa Mirigambar, Kecamatan Sumbergempol (lihat Gambar II-20). Waulaupun agak sulit dicapai candi ini agak besar. Terletak di sebelah lapangan sepak bola dengan suasana yang tenang dan sepi. Keadaan bangunan ini agak runtuh dan dindingnya kemiringan. Masih ada relief-relief yang berkualitas tinggi.

Ketika saya sampai di sana ada Ibu yang sedang memanfaatkan lokasi candi untuk mencari rumput untuk makanan ternaknya. Kita dapat melihat bahwa aktivitas ini telah dilaporkan dalam Kompas. Menurutnya setiap malam Jumat dan Senin ada selamatan yang diadakan di lokasi ini. Kadang-kadang ada orang yang melek-melekan selama satu hari dan satu malam. Dalam meditasi itu setiap orang memiliki keinginan dan kepentingan yang berbeda. Menurut orang setempat candi ini berkatian dengan Angling Darma, seorang yang muncul dalam cerita rakyat setempat.

Candi Ngampel

Terletak di Desa Joho, Kecamatan Kalidawir (lihat Gambar II-21). Candi ini dikelilingi hutan dan suasananya sangat sepi. Dekat lokasi seorang dapat melihat bukit-bukit. Menurut orang setempat ini candi yang paling selatan di daerah ini sehingga memiliki arti tersendiri. Ada pohon yang menumbuh di atas candi. Bangungan utama yang dibuat dari batu-bata sekarang runtuh. Ada dua patung kecil dan altar di depan bangunan itu. Patung-patung ditutupi bangunan kayu dan bambu dan di depan patungnya terdapat lemping.

Ada selamatan setiap malam Jumat. Menurut orang setempat candi ini berkaitan dengan Joko Sindono (Banjisa Putra) seorang yang muncul dalam cerita rakyat setempat. Dalam selamatan mereka minta ijin kepada Joko Sindono supaya dia merelainya. Apabila ada hajat, orang dari desa di sekitarnya akan ke sana misalnya penikahan atau kalau ingin membangan atau merenovasi rumah. Doa yang dikatakan biasanya menggunakan campuran bahasa Arab dan Jawa. Ketika ditanya kalau seseorang dari desa pernah melihat Joko Sidono Bapak setempat mengatakan bahwa sering ada orang yang melihatnya. Akan tetapi kalau ada keinginan bertemu dengannya seorang harus datang ke lokasinya dan bertapa. Ketika dia muncul dia berdiri di atas candi akan tetapi hanya mereka yang telah bertapa dapat melihatnya.

Ada pula orang Hindu yang pernah mengunjungi candi ini tetapi biasanya hanya untuk sementara dan upacaranya tidak terlalu lama. Menurut orang setempat sumua patung-patung pernah dicuri dan dibawa ke Malang untuk dijual luar negeri. Dua patung tersebut dikembalikan ke lokasinya akan tetapi kebanyakan hilang.

Kabupaten Nganjuk

Candi Ngetos

Terletak di tengah Desa Ngetos, Kecamatan Ngetos (lihat Gambar II-22). Candi ini yang dikelilingi hutan dan gunung dikira merupakan tempat pemuliaan Raja Hayam Wuruk. Menarik bahwa di sebelah candi ada sekolah Islam. Atapnya telah hilang tetapi bangunan itu agak besar. Keadaannya baik dan dahulu ada proyek ronovasi.

Menurut orang yang tinggal di sebelahnya candi ini tidak digunakan dalam arti keagamaan oleh orang setempat. Ada orang Hindu yang datang untuk bersembahyang. Mereka datang sebagai rombongan tetapi biasanya tidak tinggal lama.

Candi Lor

Dikitari sawah petani, Candi Lor-yang terletak di Desa Candirejo, Kecamatan Loceret terlihat berdiri kukuh dan adalah salah satu dari beberapa situs arkeologi yang berasal dari masa Pu Sindok (lihat Gambar II-23). Candi ini, yang dikelilingi pagar kawat berduri, dipenuhi banyak pohon dan beberapa tanaman buah. Suasana Candi Lor itu benar-benar sepi. Candi Lor kini terancam roboh oleh pertumbuhan pohon, yang tumbuh di bagian belakang candi. Batu-bata di sisi kanan Candi Lor telah banyak yang hilang.

Menurut orang setempat Candi itu hanya ramai pada hari Minggu ketika didatangi anak-anak SMU. Apabila hari-hari biasa, paling hanya anak muda yang mau tidur di situs.

Kabupaten Malang

Menarik bahwa candi yang terletak dekat Malang tidak memiliki sifat keagamaan seperti candi lain di Jatim. Mungkin ini akibat lokasinya dekat kota besar. Candi yang dekat Malang lebih sering dikunjungi rombongan sekolah dan persatuan seperti Pramuka.



Candi Jago

Candi ini berjarak 22km timur Malang di Desa Tumpang, Kecamatan Tumpang (lihat Gambar II-24). Candi ini merupakan salah satu peninggalan agama Budha. Bangunan menghadap ke timur dan dari atapnya ada pemandangan Gunung Kawi, Pergunungan Tengger dan tanah datar Malang. Suasana sepi dan hanya ada suara dari sekolahnya yang terletak di sebelah candi. Ada banyak sekali patung-patung di halaman tetapi menurut seorang desa setempat patungnya dipenggal orang Belanda oleh karena dikira ada emas didalamnya.

Menurut orang setempat ada orang Budha dan orang Hindu yang mengunjungi candi akan tetapi sekarang ini tidak ada orang lokal yang menggunakan candi ini dalam arti keagamaan. Anak-anak dari rumah di sekitarnya menggunakan candi ini untuk bermain dengan layang-layangnya.

Candi Kidal

Candi ini terletak di Desa Rejokidal, Kecamatan Tumpang dan dibuat pada abad ke-13 (lihat Gambar II-26). Candi Kidal rindang dan dikelilingi pohon besar dan rumah-rumah di sebalahnya. Candi ini memiliki suasana yang tenang dan sepi.

Ada bukti bahwa candi ini masih sering digunakan sebagai tempat pemujaan oleh karena adanya batang dupa di dalamnya. Juru kuncinya mengatakan bahwa orang-orang dari komunitas-komunitas di sekitarnya sering datang untuk mengadakan upacara. Orang itu adalah baik umat Hindu maupun orang yang memegang kepercayaan asli. Saya juga mendengar cerita bahwa candi ini pernah di bom kira-kira 15 tahun yang lalu tetapi pelakunya tidak terungkap.




Candi Singosari

Terletak di Desa Candirenggo, Kecamatan Singosari kurang lebih 11km dari pusat kota Malang (lihat Gambar II-27). Rupanya halamannya dirawatkan akan tetapi candi ini dekelilingi rumah yang tidak terlalu menginspirasikan atau membuat suasana alam. Candi ini besar sekali dan di sekitarnya terdapat banyak patung Siwa dan Budha. Di sebelah barat Candi Singosari (kurang lebih 100 Meter) terdapat dua arca besar yang mempunyai tinggi 3.7m yang disebut sebagai penjaga.

Ada juru kunci yang tahu tentang sejarah candi. Menurutnya candi ini masih dikunjungi oleh orang Hindu. Dekat candi Singosai juga ada Petirtaan Watugede. Keadaan situs ini dilaporkan dalam Jawa Pos. Menurut artikel ini beberapa bintang filem dari Jakarta datang ke sana sebulm mereka “syuting”. Mereka mandi pada malam hari karena mereka meyakini bahwa air berfungsi untuk pensucian dan dengan mandi di sana jiwanya menjadi tenteram. Artikel ini juga menyebutkan beberapa masalah yang sekarang dihadapi penjaga peninggalan purbakala oleh karena kekurangan dana pemeliharaan.

Candi Sumberawan

Terletak di kaki Gunung Arjuna di luar Desa Toyomerto, Kecamatan Singosari, situs in dibuat pada akhir abad ke-14 (lihat Gambar II-25). Situs ini merupakan salah satu dari dua bangunan bermacam stupa yang ada di Jatim. Candi ini merupakan salah satu yang terindah di Jatim oleh karena lokasinya. Untuk mencapai ke candi ini harus berjalan melewati sawah dan sungai kecil. Pada zaman dahulu candi ini terletak di tengah-tengah telaga. Sekarang ini telaga yang jernih terdapat di selatan candi. Airnya digunakan untuk minum dan mengairi sawah penduduk. Airnya bersih dan segar sekali. Suasana di candi ini sangat sepi dan tidak ada orang selain beberapa orang desa yang memanfaatkan lokasinya untuk mencari rumput makanan bagi ternyaknya.

Ada seorang Budha yang tinggal di sebelah Viahara Batu, Malang. Pada suatu saat dia merasa ketegangan untuk masuk agama resmi sehingga dia menjadi orang Islam – tetapi menurut dia konversi ini hanya merupakan konversi KTP dan dia tidak mengerti atau menganut agama Islam. Sebelum itu dia menyebutkan kepercayaannya sebagai kepercayaan asli Jawa. Setelah itu ada Biksu Budha dari Thailand yang datang ke Indonesia untuk menyebarkan Dharma dan dia memutskan untuk masuk agama Budha. Setelah dia masuk agama Budha dia sering mengantar anaknya ke candi Sumerawan dengan alasan memperdalamkan kepercayaannya dan mempertunjukkan kepada anaknya bahwa agama Budha itu telah lama ada di Jawa. Dia juga ingin anaknya mengetahui sejarah agama Budha di Jawa dan khususnya Jatim. Ketika dia pergi ke Candi Sumberawan dia biasanya duduk dalam dan bersemadi bersama dengan anaknya.

Setiap Hari Waisak Candi Sumberawan dikunjungi umat Budha untuk merayakan kehidupan Sang Budha. Mereka biasanya datang pada sore hari dan bersemadi sesuai dengan kepercayaannya.

Candi Badut

Candi Badut terletak di Desa Karangbesuki, Kacamatan Dau (lihat Gambar II-28) tidak jauh dari pusat kota Malang. Terletak di tengah perumahan, tidak sulit membayangkan bahwa candi ini akan digunakan dalam strategi pemasaran pada masa depan. Walaupun dekat dengan pusat kota Malang suasananya tenang. Ada pemandangan gunung ke arah barat dan utara yang menyenangkan. Menurut Soekmono sebuah prasasti yang ditemukan dekat Candi Badut berangka tahun 760 M. dan merupakan pertama kalinya Jatim muncul dalam sejarah.

Anak-anak muda setempat bercerita tentang juru kuncinya. Ternyata kamar tamu dapat disewa per jam oleh pemuda-pemuda dari desa di sekitarnya. Biasanya jasa ini dimanfaatkan oleh remaja-remaja yang ingin mencari tempat sepi untuk berkencang. Selama dua jam di lokasi ada dua pasangan yang memanfaatkan jasa ini. Ini merupakan cara yang unik sekali untuk mencari dana. Candi ini juga digunakan oleh anak-anak muda setempat untuk bermain musik dan “ngongkrong”.

Menurut anak-anak setempat tidak lagi ada orang datang ke sana untuk selamatan. Mungkin ini akibat perumahan karena orang yang tinggal di dalamnya biasanya bukan orang lokal dan dari bentuk rumah-rumah rupanya mereka berasal dari kelas tengah dan di atas. Atau mungkin ini merupakan tanda bahwa orang muda sekarang ini tidak tertarik atau tidak diajar tentang aktivitas keagamaan yang dilakukan di candi itu.

Candi Songgoriti

Candi Songgoriti terletak dekat Desa Songgoriti, Kecamatan Batu, di lembah yang memisahkan lereng Gunung Arjuna dengan lerung Gunung Kawi (lihat Gambar II-29). Sekarang bangunan ada di dalam halaman Hotel Songgoriti. Lokasinya tidak terlalu mengesankan karena dikelilingi bungalo-bungalo akan tetapi halamannya dirawatkan dan ada pemandangan gunung-gunung yang mengelilingi lokasi ini. Udara di sana sejuk akan tetapi candi ini terletak di sebelah jalan utama yang menuju ke pusat Songgoriti. Candi Songgoriti dibangun di atas mata air panas. Yang tertinggal sekarang agak runtuh. Patung-patung hampir semua hilang tetapi masih ada beberapa arca Dewi. Candi berukuran 2 meter dan tidak memiliki tangga masuk seperti candi lain di Jatim.

Sekarang air panas disalurkan ke Hotel Songgoriti di mana terdapat permandian. Dahulu airnya keluar dari saluran yang terletak tepat di tengah ruangan candi. Menurut tukang kebun Hotel Songgorit candi ini tidak lagi digunakan dalam arti keagamaan. Paling candi ini merupakan tempat kepariwisataan terutama bagi orang yang mengunjungi Hotel Songgoriti.

Kabupaten Probolinggo

Kabupaten Probolinggo juga memiliki beberapa peninggalan purbakala. Tempat pariwisata Air Terjun Madakaripura dikira berkaitan dengan Gajah Mada yang memanfaatkan lokasinya sebagai tempat pertapaan.

Candi Jabung

Situs Budha ini terletak dekat jalan utama pantai di Desa Jabungcandi, Kecamatan Paiton (lihat Gambar II-30) dan dibangun pada tahun 1354. Waluapun dipisahkan oleh jalan situs ini memiliki suasana yang sepi dan tenang. Lokasinya dikelilingi berbagai macam pohon.

Ada dua bangunan yaitu Candi Induk dan Candi Sudut yang lebih kecil. Dibuat dari batu-bata merah, bangunan utama memiliki gaya yang unik dan mengesankan. Tingginya mencapai 16 meter. Candi ini dalam keadaan yang sangat baik.

Menurut juru kuncinya orang Hindu dan Budha menggunakan candinya dalam arti keagamaan. Kadang-kadang orang Bali mengunjungi candi ini biasanya ketika mereka datang dari Bali menuju Gunung Semeru atau candi lain di Jatim. Orang Hindu yang datang biasanya mengadakan upacara di mana mereka duduk dan bersembahyang.
Setiap tahun anak-anak muda setempat membuat pesta tamat sekolah dengan api unggun di candi. Ini dilakukan untuk merayakan akhir sekolah. Anak-anak kecil setempat juga senang main-main dalam halamannya dan ada yang mencari buah maja di pohon-pohon di sekitarnya.

Kabupaten Pasuruan

Terletak di Kabupaten Pasuruan adalah gunung-gunung yang dianggap penting oleh beberapa aliran agama dan kepercayaan di Jawa (Gambar II-31).

Candi Gunung Gangsir

Candi Gunung Gangsir terletak di Desa Gunung Gangsir, Kecamatan Beji, dikira dibangun pada abad ke-11 (lihat Gambar II-32). Candi ini terdapat di tengah desa dan halaman dikelilingi jalan dan rumah. Bangunannya agak besar tetapi lubang masuk sangat kecil sehingga tidak mungkin orang dewasa dapat masuk ruang di dalamnya. Keadaannya kurang baik dan orang setempat mengatakan bahwa banyak patung dicuri orang Jepang.

Orang desa setempat mengadakan selamatan sebulan sekali pada hari Jumat Legi. Selamatan ini disebut selamatan dusun oleh orang setempat dan diadakan di halaman depan candi yang agak luas. Menurut orang setempat yang mempunyai candi ini ialah Nyi Srigati (Mbok Rondo Dermo). Mereka meminta berkat supaya desa dijaga. Upacara itu tidak pernah dilewatkan kecuali selama Ramadhan ketika (menurut juru kuncinya) orang semua berpuasa. Kegiatannya mulai pada jam 10. Semua orang dari desa di sekitarnya berkumpul supaya “desa jadi satu” dan setiap pengikut membawa makanan sendiri. Mereka berdoa dalam campuran bahasa Jawa dan Arab. Kononnya Mbok Rondo Dermo masih dikira berdiam di candi. Baik laki-laki, perempuan dan anak-anak menghadari upacaranya.

Ada cerita rakyat tentang wanita itu dan dia dikira orang yang pernah tinggal di desa ini. Saya dengar cerita ini dari juru kuncinya. Dahulu sebelum manusia mengenal bercocak tanam kehidupan manusia selalu mengembara. Yang dimakan sebangsa adalah rumput-rumput. Pada suatu ketika datanglah perempuan, tidak diketahui dari mana asalnya, yang bernama Nyi Srigati. Dia mengajak penduduk minta penunjuk kepada Hyang Widi untuk mengatasi bahan makanan yang semakin berkurang. Suatu ketika datang burung-burung gelatik yang membawa padi-padian yang dijatuhkan berupa padi dan kulit. Padi dan kulit itu ditanam (di sebelah utara candi). Tanaman padi berbuah padi biasa dan tanaman kulit berbuah batu permata. Batu permata itu menyebabkan Nyi Srigati menjadi kaya raya dan akhirnya dia terkenal sebagai Mbok Rondo Dermo.

Oleh karena kekayaannya, pedagang dan para penduduk ingin menjual batu permata ke daerah lain. Di tengah jalan pedagang dan pedagang ingin menggelapkan barang dagangan di dalam prau. Karena kekuatan gaib Nyi Srigati prau tersebut tenggelam serta menjadi Gunung Prau (di lereng Gunung Penanggungan). Para penjahat juga ingin memiliki kekayaan tersebut. Pencuri itu gagal oleh karena kegagalannya minimbulkan nama-nama desa di sekitar candi, yang antara lain: Gunung Gangsir, Selo Tumpuk, Sumber Tumpuk, Selo Kambang, Dermo Keboncandi, Babat, Kedanton dll. Bangunan Gunung Gangsir dikira merupakan tugu peringatan keberhasilan Nyi Srigati dalam bercorak tanam oleh orang desa setempat.

Candi Jawi

Candi Jawi merupakan salah satu bangunan suci bagi umat Hindu dan Budha (lihat Gambar II-34). Candi ini terletak di Desa Candiwates, Kecamatan Prigen di tengah perjalanan antara Pandaan dan Prigen. Pemandangannya bagus sekali dengan memandang pergunungan dan tanah datar. Ketinggian candi ini sekitar 24 meter. Di sebelah utara ada runtuhan candi bentar dan bangunan-bangunan lain. Agak menarik bahwa ada relief-relief yang menunjukkan bentuk candi pada zaman dahulu ketika masih dalam keadaaan dahulu.

Menurut Bapak juru kunci sering ada rombongan Budha yang datang untuk bersemadi. Kadang-kadang mereka diikuti oleh para Biksu yang memimpin upacaranya. Katanya, rombongan-rombongan ini tidak hanya berasal dari Jatim tapi juga dari daerah yang sejauh Jakarta, Sulawesi dan Kalimantan. Biasanya mereka duduk atau mengelilingi candinya ketika bersemadi.

Petirtaan Belahan

Petirtaan Belahan dikira merupakan tempat makam Raja Airlangga dan terletak di ujung lembah dalam hutan lebat dekat Desa Wonosonyo, Kecamatan Gempol (lihat Gambar II-33). Lokasinya luar biasa akan tetapi tempat mandi berada di sebelah jalan. Ada pemandangan Surabaya dan tanah datar ke arah timur dan utara. Disebut orang setempat ‘Sumber Gamber’ atau Candi Tetek dengan alasan yang jelas oleh karena airnya keluar dari puting susu salah satu arca yang terdapat di sebelah permandian.

Airnya masih digunakan orang setempat untuk kehidupan sehari-hari dan irigasi. Mereka percaya bahwa air yang keluar di sana adalah minuman para Dewata. Ada bukti bahwa orang-orang masih memuja di sana oleh karena adanya dupa dan daun bunga. Yang menarik wanita tidak diperbolehkan mandi di dalam kolam utama. Orang Hindu juga datang ke sana kalau mereka berziarah ke Gunung Penanggungan yang memiliki arti penting dalam kepercayaan Hindu Jawa dan Bali. Para pendaki gunung yang dapat berjalan dari situs ini ke Petirtaan Jolotundu atau sebaliknya juga mandi di sana. Justru sangat segar kalau mandi di tempat seperti ini setelah turun dari perjalaan mendaki.

Situs-situs di Lereng Gunung Arjuna

Situs-situs yang terletak di lereng timur Gunung Arjuna memiliki arti yang sangat penting bagi orang Jawa yang percaya bahwa nenek-moyangnya dan Dewata berdiam di sana. Terdapat dua grup situs utama yaitu grup Sepila dan grup Indrokilo.

Ketika mengunjungi Sepilar (yang terletak pada ketinggian 2075m di atas permukaan laut) ada dua persatuan pendakian yang bernama SMA-sapala dan Djaladri yang sedang mendaki Gunung Arjua (lihat Gambar II-37). Mereka menggunakan situs-situsnya untuk berkemah. Perjalaannyua mulai dari Desa Tambakbatu dan selama perjalanan ke Sepilar, yang melewati banyak situs, ada banyak penziarah yang sedang berada di Gunung Arjuna. Grup Sepilar memiliki 12 situs yaitu:

1. Bhatara Guru;
2. Candi Madrin;
3. Patuk Lesung;
4. Candi Kembang;
5. Candi Lepek;
6. Rhatawu;
7. Hyang Semar;
8. Watu Ireng;
9. Rancang Kencana;
10. Candi Wesi;
11. Makutarama; dan
12. Sepilar.

Di berapa situs antara ini dibangun tempat inap dan makan untuk para penziarah. Di selatan Sepilar terdapat alas sukma ilang (hutan nyawa hilang). Di Makutarama ada bangunan tradisional yang didiami oleh Pak Makutarama (lihat Gambar II-38). Dia tetap tinggal di sana dan menerima bantuan dari pengunjung yang berzirarah ke Gunung Arjuna.

Pak Makutarama itu (dan memang kebanyakan penziarah di Gunung Arjuna) sangat senang membicarakan arti bangunan yang ada di Gunung Arjuna, pengalamannya dan filsafat Jawa. Pada zaman Majapahit Para Biksu yang tinggal di lingkungan alam pergunungan merupakan sumber ilmu bagi raja-raja dan di tempat itu dibahas masalah-masalah kejiwaan termasuk agama Siwa maupun Budha. Rupanya penggunaan itu berjalan terus sekarang. Ketika menanyakan agama Pak Maku dia berkata bahwa dia tidak dapat menyebutkan agamanya dan mengatakan “Selain Allah tidak ada Tuhan, selain aku tidak ada Kamu.”

Katanya bangunan yang ada di sana berasal dari kerajaan Hindu akan tetapi memiliki beberapa sifat kepercayaan asli Jawa yaitu bangunan berpundak. Di bangunan berpundak ini orang-orang bersembahyang dan bermeditasi. Bangunannya berorientasi kepada puncak gunung dan secara umum altar adalah batu susunan batu datar tanpa sandaran di bagian belakangnya (lihat Gambar II-35).

Menurut Pak Makutarama “Kalau nggak bersih nggak bisa pandang.” Yang berarti, kalau orang-orang tidak pergi ke tempat-tempat yang suci untuk mencari keterangan dalam mereka tidak dapat melihat kebenaran.

Antara orang yang berziarah ke sana ada yang memiliki kepercayaan bahwa para arwah nenek-moyang masih selalu melindungi para asli warisnya. Untuk keperluan itu para penziarah mengadakan sembahyang pumjaan roh di altar-altar - dengan harapan para arwah bermurah hati untuk melindungi mereka semua. Pada ketika upacara berlangsung roh leluhur diyakini turun dan berdiam sementara di altar-altar. Ketika bertakhta di altar tersebut arwah leluhur itu dianggap dapat berhubungan langsung dengan para pemuja. Altar juga berfugsi sebagai tempat menempatkan sesaji.

Grup situs Indrokilo merupakan pertapaan terbesar di Jawa. Orang-orang di sana sering berkata bahwa tempatnya pernah digunakan oleh “Bung Karno” sehingga memiliki arti yang lebih dalam bagi orang Jawa. Ada banyak legenda yang berkaitan dengan situs ini. Salah satunya adalah bahwa suatu rombongan pecinta alam bertiga mendaki melewati Indrokilo tanpa minta ijin dahulu. Akibatnya salah satunya mengalami patah kaki, satu menjadi buta san satu tewas. Juga orang-orang dapat makan dengan tangan kotor di wilayah Indrokilo oleh karena di sana tidak terdapat penyakit. Grup Indrokilo terdiri dari empat tempat utama yaitu:

1. Satria Manggung;
2. Indrikilo;
3. Candi Laras; dan
4. Gua Gambir.

Pada zaman dahulu orang dapat menyewa kuda tetapi sekarang tidak boleh dan harus berjalan sendiri. Kata orang di sana, “Sengsara susah, baru senang”. Yang berarti bahwa sebelum kita bangga kita harus benar-benar susah dahulu. Ada orang di situs-situs yang mencurigai orang asing tetapi setelah mereka tahu bahwa seorang akan menghormati para penziarah mereka langsung menerimanya.

Ketika mengunjungi Indrokilo ada dua penziarah yang berasal dari Sidoarjo. Di situs pertama Satria Manggung orang yang ingin berziarah ke Indrokilo harus minta ijin masuk dahulu (lihat Gambar II-39). Pada zaman dahulu ini merupakan pertapaan Eyang Satra Manggung (seorang penjaga). Menurut orangnya orang-orang tidak boleh masuk kalau tidak minta ijin dahulu. Yang pertama mereka harus duduk dan mengetuk tiga kali oleh karena mau masuk rumah roh-roh yang mendiami daerah ini. Apabila tidak minta ijin dahulu di situs ini kita dapat diusir. Mereka memohon kepadanya untuk ijin masuk. Orang-orang setempat tidak tahu persisnya siapa orang itu tetapi dikira dia berhubungan dengan Kerajaan Majapahit. Situs ini merupakan pintu masuk untuk masuk wilayah Indrokilo.

Yang menarik juga, orang diminta tidak berfoto setelah berangkat ke atas dari stius ini. Alasannya karena seorang harus menjaga suasana suci yang berada di wilayah ini. Ada pohon jeruk Bali yang menutupi situs ini dan ketika kami sampai ke sana ada satu buah yang jatuh. Ini dianggap sebagai tanda oleh penziarah dan mereka berhenti dan makan. Ternyata jeruk itu manis sekali dan ini diduga sebagai tanda yang baik olehnya.

Selekas-lekasnya setelah masuk wilayah Indokilo seorang akan menyadari bahwa tempat ini bukan tempat wisatawan. Sedangkan sulit untuk menjelaskan mengapa, orang-orang berkata bahwa mereka mengalami perasaan aneh ketika mendaki gunung ini. Mungkin ini alasannya puncak gunung-gunung dianggap tempat suci dan tempat kediamaan para roh dan nenek-moyang. Pikiran ini tidak hanya unik ke kepercayaan Timur, dengan bukti Gunung Olympus antara yang lain.

Tempat ini mengingatkan saya kepada cerita tentang cara memuja Jamaika Rastafari. Sering penganut kepercayaan itu return to the hills (kembali ke gunung-gunung) untuk aktivitas bermediatsi dan yang disebut olehnya reasoning (penjelasan). Masalah-masalah yang berhubungan dengan sifat manusia, filsafat, tempatnya Tuhan dan Kitab Injilnya didiskusi dan dijelaskan bersama-sama. Mungkin salah satu perbedaan penting antara aktivitas yang dilakukan di Arjuna dan Jamaika adalah bahwa di Jamaika mereka menggunakan ganja sebagai sakramen sedangkan di Arjuna kopi dan rokok kretek yang lebih disukai. Juga para Rastafari main musik untuk medekati Tuhan akan tetapi di Arjuna musik dianggap tidak sesuai dengan suasananya. Salah satu orang (dalam rombongan saya) yang membawa gitarnya diminta menitipnya dengan juru kuncinya yang tinggal di bawah.

Di setiap situs ada banyak tempat tinggal dan makann yang disediakan untuk penziarah semua. Pada malam hari ada yang bersemadi dan ada yang mangadakan pembicaraan yang berjalan sampai pagi. Mereka berdiskusi tentang masalah-masalah hidup dari pandangan Jawa. Ada pula yang bersemadi dan orang yang paling dihormati di Indrokilo ialah Ibu Santri. Dia bersemadi setiap hari dari jam 6 malam sampai jam 2 pagi.

Filsafat yang dipraktekkan di sana mengambil pikiran dari setiap agama. Apabila kita hidup sehat saja kita tidak menyadari bahwa kita hidup tetapi kalau kita sakit kita baru menyadari bahwa hidup itu terbatas dan kita akan mati pada satu hari yang tidak tertentu (kedengaran seperti ajaran Sang Budha). Wanita dianggap sebagai sesuatu yang paling bahaya bagi laki-laki dibuktikan oleh beberapa cerita sepanjang sejarah misalnya Samson, Sukarno (oleh karena “cewek Jepang”, Adam, dan Anthony antara yang lain. Pada pokoknya orang-orang mengambil unsur-unsur dari setiap agama. Saya diberi tahu bahwa orang yang berziarah mengikut jalannya Sang Budha – untuk melepaskan dirinya dari semua masalah duniawi. Katanya semua agama berasal dari beras tetapi kalau beras dimasak ada bermacam-macam aliran yaitu lontong, nasi dll.

Untuk beberapa orang candi dan tempat pemujaan merupakan symbol saja. Seperti konsepsi Islam – Allah adalah symbol saja supaya orang dapat meluruskan pikirannya, supaya kosentrasi tidak pergi ke tempat lain. Orang datang untuk mencuci pikiran dan menjadi tajam tetapi katanya mereka harus berhati-hati supaya tidak menjadi kejam. Katanya bukan ritual yang adalah guru utama melainkan pengalaman. Dupa mewakili api yang penting untuk kehidupan manusia. Juga terdapat patung nenek moyangnya yang dipuja dan seorang penziarah mengatakan bahwa patung itu merupakan simbol yang melandangkan nenek moyang kita (lihat Gambar II-36). Apabila dia bersemadi di depannya dia memikirkan kehidupannya kalau nenek moyangnya tidak hidup sebelumnya.

Kita dapat melihat bahwa situs-situs yang ada di lereng Gunung Penanggungan digunakan oleh banyak orang dengan bermacam-macam alasan oleh karena mereka memiliki kepercayaan masing-masing. Pada pokoknya, bukan riutal atau kelakuan ortodoks yang dianggap paling penting melainkan pengalaman.

Kabupaten Sidoarjo

Saya diantar ke situs-situs di Kabupaten Sidoarjo oleh seorang yang dahulu sering menunjunginya dengan organisasi PMR (Palang Merah Remaja) dalam rangka pendidikian di luar.

Candi Pari

Candi Pari, yang dibangun pada tahun 1371, terletak di Desa Candipari, Kecamatan Porong (lihat Gambar II-40). Candi ini agak besar dan dibuat dari batu bata merah. Di atas pintu masuk ada kayu yang ditambah orang Belanda dalam suatu proyek renovasi. Ruang yang di dalam candinya luas sekali dan terdapat patung dan altar dengan bahan-bahan pujaan.

Bapak juru kunci menceritakan bahwa pernah ada patung dicuri dari situs ini. Akan tetapi pencuri mulai bermimpi tentang patung dan akhirnya ada keinginan untuk mengembalikannya. Menurutnya orang yang datang biasanya merasa dalam hatinya bahwa mereka harus ke Candi Pari. Katanya “orang yang terpanggil dalam rasa – mendapat penunjuk”. Orang dari desa-desa di sekitarnya datang untuk mengadakan selamatan biasanya pada malam Jumat atau malam Senin. Setiap tahun ada selamatan utama yang diadakan pada bulan Sabar (tanggalan Jawa). Selamatan yang diadakan di sana berhubungan dengan Dewi Sri.

Candi Sumur

Candi Sumur terletak di tengah rumah dan ditutupi perancah di Desa Candipari, Kecamatan Porong (lihat Gambar II-42). Menurut juru kuncinya, walaupun pada zaman dahulu candi ini memiliki peran yang penting, sekarang jarang sekali ada orang yang memikirkan candi Sumur dalam arti keagamaan.



Candi Dermo

Terletak di Desa Pamotan, Kecamatan Wonosonyo, candi ini sangat mengejutkan oleh karena tingginya (lihat Gambar II-43). Suasananya tenang dan candinya ditutupi pohon-pohon dan ada anak-anak yang bermain di halaman di sekitarnya.

Candi ini agak runtuh sekarang dan terdapat dua patung di depannya yang sedikit rusak. Candi ini digunakan oleh orang setempat untuk mengadakan selamatan dan di depan candinya ada tempat untuk dupa dan daun bunga. Orang Hindu juga pernah datang untuk bersembahyang.

Selama saya berada di candi ada dua rombongan remaja yang datang dari Sidoarjo untuk berkunjung. Menurut Ibunya jarang sekali ada wisatawan asing yang datang ke Candi Dermo. Ada rombongan Pramuka yang mengunjungi candinya untuk belajar tentang sejarah.

Saya mendengar cerita dari yang menarik dari salah satu orang yang tinggal dekat candi itu. Katanya pada zaman Belanda neneknya berpacaran dengan orang Belanda. Pada suatu hari pacarnya mebawa mobil dengan maksud untuk mengambil patung-patung yang berada di candi. Ketika dia memasukkan patungnya dalam mobilnya, itu tidak mau hidup. Setelah patungnya dikeluarkan, mobilnya dapat dihidupkan lagi. Sekali lagi dia mencoba memasukkan patungnya dalam mobilnya dan sekali lagi mobilnya tidak dapat dihidupkan. Akhirnya patungnya dikembalikan ke tempatnya. Bapak itu juga mengatakan bahwa batu-bata pernah diambil dari lokasinya tetapi orang yang mengambilnya menjadi gila. Rohaniah hanya kembali setelah selamatan diadakan oleh orang-orang setempat.

Di belakang candi ini terdapat dua sumur air dan umurnya diduga sama dengan candi. Dahulu, sebelum ada air keran, orang desa memanfaatkan airnya untuk minum dan mandi. Juga ada satu sumur di belakang mushola yang digunakan oleh orang untuk solat – mungkin penggunaan ini tidak dapat dibayangkan oleh orang-orang yang membangunkan sumur itu pada zaman Majapahit.
Candi Pamotan

Candi ini yang terletak di Desa Pamotan, Kecamatan Porong, agak hancur dan hanya kakinya tertinggal dikelilingi parit yang berisi air kotor (lihat II-41). Halaman candi sama sekali tidak ada dan rumah yang sangat dekat. Bangunan ini tidak begitu mengesankan dan tidak ada yang menggunakannya dalam arti keagamaan menurut juru kuncinya.

Kabupaten Jombang

Candi Rimbi

Candi Rimbi terletak di gunung-gunung di sebelah tenggara Mojowarna di Desa Pulosari, Kecamatan Bareng, di sebelah jalan yang menuju ke Wonosari (lihat Gambar II-44). Lokasinya dikelilingi hutan dan pemandangannya bagus sekali. Candi Rimbi bersifat Siwa dan didirikan untuk memuliakan puteri Raja Raden Wijaya. Bagian atas candi ini telah runtuh tetapi kakinya masih dalam keadaan baik dan diahiasi dengan relief.

Orang setempat mengadakan selamatan di candi ini yang “pakai sajen gitu” Biasanya orang-orang minta restu kalau ada sunatan atau pernikahan dll. supaya tidak ada halangan. Ketika ditanya mengapa orang-orang membuat selamatan di candi ini seorang Ibu menjawab bahwa alasannya karena adat. Suasananya tenang dan halamannya digunakan oleh anak-anak muda setempat untuk bermain dengan layan-layannya.

Kabupaten Mojokerto

Termasuk dalam wilayah Kabupaten Mojokerto adalah beberapa tempat dan situs yang sangat penting dalam arti spiritual. Ada Gunung Penanggunan yang dipercaya sebagai tempat pendiaman Dewata dan roh-roh nenek-moyang oleh umat Hindu dan orang yang cenderung kepada kepercayaan Jawa (lihat Gambar II-45). Juga terdapat bekas Ibu kota Majapahit yang memiliki banyak situs purbakala dan tempat pemujaan. Mojokerto memiliki arti yang penting bagi orang Jawa Islam oleh karena terdapat beberapa makam di antaranya Makam Putri Champa yang dikira adalah isteri raja terakhir Majapahit. Kata orang setempat dia mengkonversikan raja terakhir itu. Setiap hari ada yang mengunjunginya dan bersembahyang.

Candi Bajang Ratu

Candi Banjang Ratu, terletak di Desa Temon, Kecamatan Trowulan, merupakan salah satu atraksi utama di Trowulain dan dibangun pada pertengahan abad ke-14 (see Gambar II-46). Bangunan dan lokasinya indah dan dikelilingi halaman yang berisi pohon-pohon dan bermacam-macam bunga. Candi ini memiliki kedekatan dengan alam dan ada kanal kurang lebih 200 meter di sebelah depan bangunan utama. Sebetulnya Bajang Ratu itu bukan candi melainkan gapura dibuat dari batu-bata merah. Bentuknya ramping dan tingginya kira-kira 16m.

Menurut Bapak juru kuncinya orang Bali datang untuk mengadakan upacara yang mereka menganggap suci. Yang menarik, candi ini tidak digunakan oleh orang Hindu Jawa dalam arti keagamaan. Ada bukti bahwa ada upacara di sana dengan adanya abu-abu, daun bunga dan dupa di tengah pintunya.

Candi Bangkal

Candi Bangkal terletak di Desa Candirejo, Kecamatan Ngoro, di tanah datar di bawah Gunung Penanggungan (lihat Gambar II-47). Situs ini dikelilingi rumah dan sawah. Pemandangan Gunung Penanggungan dan Gunung Kelud baik sekali dari lokasi ini. Candi ini terbuat dari batu-bata merah. Bagian kaki dan tubuh candi dihiasi pahatan relief-relief. Keadaan candi ini masih baik akan tetapi ada yang jatuh dari bagian atas.

Orang desa setempat mengadakan selamatan di sana dan menurut orang setempat danyang yang dipuja tidak memiliki nama atau cerita sendiri. Anak-anak di desa setempat menggunakan halaman candi ini untuk bersepeda dan main bola.
Candi Brahu

Candi Brahu terletak di Desa Bejojong, Kecamatan Trowulan (lihat Gambar II-47). Lokasinya di tengah ladang akan tetapi agak panas oleh karena tidak adanya pohon. Candi ini mengesankan oleh karena tingginya akan tetapi agak sederhana. Unsur-unsur hiasan tidak ada.

Candi ini penting bagi orang Hindu oleh karena dikira bahwa beberapa raja Majapahit dikremasi di sana. Mereka datang dan mengadakan upacara berkatian dengan pemujaan nenek-moyangnya. Menurut orang setempat tidak lagi ada orang Jawa yang menggunakan situs ini dalam arti agama. Dekat candi ada rumah-rumah Hindu dan memang terdapat komunitas Hindu yang tinggal di Trowulan.

Candi Jedong

Candi Jedong terletak di Desa Jedong, Kecamatan Ngoro (lihat Gambar II-50). Bangunan di situs ini sebetulnya bukan candi melainkan gapura. Menurut juru kuncinya gapura ini digunakan sejak awal abad ke-14 dan diduga gapura ini merupakan gapura masuk suatu percandian atau bangunan suci lain. Candi Jedong terletak dekat wilayah industri Ngoro dan untuk mencapai ke lokasi ini harus melewati daerah industri tersebut. Pemandangan sangat baik dengan memandang Gunung Penanggungan ke arah utara dan tanah datar ke arah selatan.

Menurut juru kuncinya tidak ada orang Hindu yang datang ke situs ini dalam arti keagamaan oleh karena situs ini bukan candi. Dia juga mengatakan bahwa dahulu lokasi ini merupakan pintu gerbang perpisahan antara Kerajaan Majapahit dan Singosari. Ada pasangan yang berkencan di tempat itu. Mereka duduk di bawah pohon besar yang ada di sebelah gapura dan menurut salah-satunya mereka datang ke sana oleh karena suasana yang sepi dan pemandangan yang indah sekali.

Candi Kasiman Tengah

Candi ini terletak di tengah sawah dekat Desa Kasiman Tengah, Kecamatan Pacet (lihat Gambar II-51). Ini adalah candi yang indah sekali dalam arti baik lokasi dan kesenian bangungan. Pemandangan dari candi ini luar biasa dan tidak dapat dibayangkan bahwa pemandangan tersebut tidak berkatian dengan lokasi candi. Ke arah selatan terlihat Gunung Kelud, ke arah bagian tenggara ada Gunung Kawi, Gunung Arjuna dan Gunung Welirang dan ke arah timur ada Gunung Penanggungan. Sedikit sulit untuk mencapai ke candi ini karena tidak ada jalan dan harus melewati sawah dengan berjalan selama 15 minet. Suasana di candi ini sangat tenang dan bukti kehidupan modern jauh dari lokasinya. Mungkin situs ini merupakan salah satu candi yang terindah di Jatim. Di sekitarnya hanya ada warna hijau dan sungai di mana orang setempat mandi dan mencuci pakaian.

Candi ini dikunjungi para Biksu dari Pusat Meditasi Trawas. Menurut seorang petani yang ditemui orang setempat kadang-kadang mengadakan selamatan. Katanya ada danyang yang dapat ditemui kalau ada keinginan atau supaya desa dan pertanian yang ada di sekitarnya selamat.

Candi Minak Jinggo

Candi ini terletak di Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan di sebelah rumah dan sawah (lihat Gambar II-52). Pemandangan Gunung Welirang dan Gunung Penanggungan baik dari lokasi ini. Kebanyakan bangunan di sana runtuh akan tetapi kelihatan seperti lebih banyak penggalian dapat dilaksanakan oleh karena ada batu-bata dan batu besar yang dapat dilihat di bawah gundakan tanah.

Menurut Bapak juru kunci lokasi ini masih digunakan oleh orang setempat untuk mengadakan selamatan. Orang setempat yang beragama Islam bersyukur dan minta selamat. Orang Hindu juga berziarah ke situs ini dan mereka biasanya berasal dari Bali. Kadang-kadang mereka menunjukkan tari-tarian tetapi hari kedatangannya tidak tertentu.






Candi Kedaton

Candi Kedaton terletak di Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, dan diduga bahwa ada istana di sana pada zaman dahulu. Ada suasana keagamaan di situs ini dan tempatnya digunakan oleh beberapa agama. Juru kuncinya bercerita tentang beberapa legenda yang berkaitan dengan situs ini. Katanya, raja terakhir Majapahit Brawijaya menghilang di situs ini daripada menghadapi kekalahan. Setelah itu, dia pergi ke kerajaan gaib yang ada di puncak Gunung Lawu.

Situs ini memiliki banyak sekali kaki batu-bata. Sebetulnya ada tiga candi yang merupakan situs Candi Kedaton. Yang terbesar adalah Candi Sumur Upas, kemudian ada Candi Kuno (lihat Gambar II-52) dan sebuah terowongan Sanggar Pamelengan. Kompleks agak besar akan tetapi sekarang ini kebanyakannya runtuh. Terdapat atap yang memiliki dua tujuan, pertama untuk proyek renovasi dan kedua untuk orang yang bermeditasi supaya mereka dilindungi dari hujan.

Menurut juru kuncinya orang Hindu sering menggunakan tempatnya untuk mengadakan upacara khususnya pada hari Jumat Legi. Tempat ini digunakan oleh orang dari setiap agama untuk meditasi. Di Sumur Upas terdapat daun bunga dan tikar untuk orang-orang yang bersemadi. Biasanya orang datang pada malam hari untuk meditasi. Air dari Sumur Kuno masih dipercaya dapat meyembuhan berbagai macam penyakit dan sering orang, baik orang setempat dan orang dari di luar, mandi dengan menggunakan air itu atau membawahnya pulang. Orang Hindu menggunakan airnya dalam upacaranya.

Candi Tikus

Candi Tikus terletak 900 meter ke arah tenggara dari Candi Bajang Ratu (lihat Gambar II-53). Dahulu situs ini merupakan petirtaan pada masa Majapahit. Pemandangan bagus dari sana dengan melihat Gunung Penanggungan dan pergunungan ke arah selatan.

Masih digunakan oleh orang Hindu baik Jawa dan Bali dan situs ini memiliki sifat yang penting dalam upacara Hindu oleh karena dalam upacara tersebut ada air suci. Kolam masih digunakan oleh anak-anak muda untuk mandi. Dalam arti keagamaan Candi Tikus hanya digunakan oleh orang Hindu.

Ada cerita tentang pertama kali candi ini digali yang berkatian dengan namanya. Pada tahun 1914 daerah di sekitarnya diserang tikus dan setiap kali diadakan pengejaran, tikus tersebut selalu masuk ke sebuah lubang yang teletak di atas sebuah gundukan. Setelah lubang dibongkar terdapat Candi Tikus. Kata orang setempat air dari Candi Tikus digunakan oleh petani Trowulan dan seluruh Jatim. Apabila mereka mempunyai masalah oleh karena diserangi tikus mereka dapat menyirami sawahnya dengan air dari Candi Tikus dan tikus-tikus itu tidak berani lagi makan pananannya.

Candi Wringin Lawang

Candi ini terletak di Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan (lihat Gambar II-54). Candi ini terbuat dari batu-bata merah dan tingginya kurang lebih 15 meter. Bangunan ini bukan candi melainkan gapura. Ada pemandangan yang indah ke Gunung Penanggunan dan sawah-sawah di sekitarnya.

Selamatan dikeramatkan orang setempat di sana. Ada upacara besar di mana orang sedesa membawa ayam untuk roh-roh yang mendiami tempatnya dan menjaga desa Sentonorejo. Biasanya orangnya memotong dan membulu ayam dan menempatkannya di sebuah altar yang berada di tengah gapura. Upacara ini diadakan setahun sekali pada bulan Ruwa. Tidak ada yang berani makan kaki atau kepala ayamnya karena itu dimasak khususnya untuk roh itu. Mereka biasanya berdoa dalam campuran bahasa Jawa dan Arab. Upacaranya diadakan supaya desanya selamat. Orangnya percaya bahwa roh ini berasal dari kerajaan dahulu akan tetapi dia tidak diberi nama. Ada cerita bahwa pada satu tahun dahulu upacara ini tidak diadakan. Candi ini terletak tidak jauh dari jalan raya dan tahun itu ada banyak sekali kecelakaan di daerah candi. Setelah orang setempat mengadakan upacaranya kecelakaan-kecelakaan berakhir. Kata Bapak juru kuncinya upacara makan waktu selama satu malam dan merupakan pesta tandaan dimana orang-orang “senang-senanglah.” Biasanya ada tari-tarian dan musik dan ada suasana perayaan.

Petirtaan Jolotundo

Terletak dekat Desa Seloliman, Kecamantan Trawas, di lereng timur Gunung Penanggun adalah Petirtaan Jolotundo. Situs ini dikira berkatian dengan Raja Airlangga (lihat Gambar II-55). Situs ini adalah peninggalan yang tertua di Gunung Penanggungan. Suasana sangat tenang dan sepi dan udaranya sejuk dan bersih. Petirtaannya di kelilingi hutan lebat.

Orang Hindu, Budha dan orang dari setiap agama datang ke sana untuk mandi dan bersemadi. Ini merupakan salah satu tempat permulaan untuk berziarah ke situs-situs yang terletak di Gunung Penanggungan dan orang Hindu biasanya mulai penziarahan di sana. Ada bukti bahwa masih ada pemujaan di tempat ini oleh karena adanya dupa dan daun bunga di atas batunya. Ada ikan-ikan besar di kolam yang paling bawah akan tetapi pemancingan tidak diperbolehkan di kolam ini.

Candi ini tidak jauh dari Pusat Pendidikian Lingkungan Hidup (PPLH) suatu lembaga pendidikan tentang lingkungan hidup. Sering ada rombongan sekolah yang medapat pelajaran di PPLH dan mereka sering di antar ke Jolotundo. Menurut orang setempat Bung Karno pernah bersamadhi di sana. Malam Jumat Legi banyak orang Jawa datang ke sana untuk bersembahyang dan bermeditasi.

Ada seorang pelukis dari Ambon yang tinggal di Trawas. Katanya komunitas seniman yang ada di Trawas menggunakan situs-situs yang ada di sekitar Jolotundo untuk meditasi dan sebagai sumber inspriasi. Dia belajar meditasi di Pusat Meditasi Trawas. Menurutnya terdapat “sesuatu” yang tidak dapat dikatakan di situs-situs tersebut. Dia biasanya bermeditasi dari jam 1 pagi sampai jam 5 kemudiaan mandi di Jolotundo sebelum melukis. Dia meyakini bahwa hasilnya lebih kreatif setelah penyemadian itu.

Candi Siti Inggil

Terletak di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan tidak jauh dari Candi Brahu. Ada dua bangunan utama yaitu makam yang didirikan di atas satu kaki candi dan bangunan lain yang didirkan di atas bangunan kedua (lihat Gambar II-56). Salah satunya dikira merupakan makam Rada Raden Wijaya – raja pertama Majapahit sehingga situs ini memiliki arti yang dianggap suci dan penting. Situsnya terletak di tengah tanah pertanian.

Menurut orang setempat situs ini merupakan tempat penziarahan bagi orang Jawa dan Bali. Banyak orang dari semua kepercayaan berziarah ke situs ini. Orang Budha datang untuk bersemadi dan dekat candi ini terdapat Vihara. Orang Hindu mangadakan upacara di sana. Orang Islam juga datang ke sana dan ada Mushola yang terletak di lokasi. Menurut orang setempat mereka datang untuk bersembahayang dan mendekatkan dirinya kepada Tuhan oleh karena di sana mereka merasa dekat dengan Tuhan.


BAB III: Isu-isu yang Muncul

Situs-situs purba digunakan oleh berbagai golongan masyarakat di Jatim dan ada beberapa isu yng muncul oleh karena penggunaan itu. Kita dapat melihat bahwa arti peninggalan purbakala sangat berbeda bagi golongan tersebut. Ada yang melihat bangunan-bangunan itu sebagai tempat suci dan ada yang melihatnya dalam arti yang tidak spiritual. Rupanya isu-isu spiritual yang muncul jauh lebih banyak oleh karena sifat bangunannya sebagai tempat pemujaan. Akan tetapi juga terdapat ketegangan antara pengguna spiritual dengan orang yang memanfaatkannya dalam arti yang berbeda. Misalnya di Gunung Arjuna penziarah mencurigai orang asing dan pendaki sebagai orang yang dapat merusakkan suasananya yang ada di sekitar tempat pemujaan itu.

Agama Islam

Ketika membicarakan sejarah peninggalan purbakala dengan seorang penduduk Sidoarjo dia mengatakan bahwa candi dan arca dari kerajaan dahulu dibuat supaya masyarakat di masa depan akan tahu tentang adanya kebudayaan dan kepercayaan yang berkatian dengan situs-situs itu. Sebaliknya, candi dan arca itu diratakan tanah supaya orang pada masa depan tidak akan tahu tentang kebudayaan dan kepercayaan itu. Memang kita dapat melihat bahwa pada masa dahulu Kerajaan Islam memiliki peran utama dalam proses Islamisasi Jawa. Selama abad ke-16 dan ke-17 kerajaan tersebut mengatur pekerjaan menghancurkan wihara dan candi yang bersifat Siwa-Budha dan menggantinya dengan masjid-masjid. Walaupun begitu, kepercayaan yang berkaitan dengan bangunan-bangunan ini masih terus berjalan dalam kehidupan dan kepercayaan sekarang.

Apabila berdiskusi tentang agama Islam dan peninggalan purbakala di Jawa kita harus membagi umatnya dalam dua golongan utama. Golongan pertama bersifat ortodoks dan di dalamnya ada yang melihat adat Jawa sebagai sesuatu yang harus dihancurkan kalau tidak sesuai dengam “Islam”. Bagi orang ini peninggalan purbakala merupakan tempat yang menyesatkan. Dalam pidanto di Borobudur Menteri Agama Indonesia mengatakan bahwa arus informasi dan globalisasi telah mengubah tatanan hidup di Indonesia dan menimbulkan beberapa masalah. Dia membicarakan fanatisisme di Indonesia di mana muncul faham “…yang paling benar dan paling baik, sementara yang lain adalah sesat”. Kita dapat melihat bahwa bangunan-bangunan seperti Candi Gambar Wetan dan Arca Boro di Blitar pernah dirusakkan oleh minoritas yang diduga beragama Islam ortodoks. Agak ironis bahwa minoritas itu tidak percaya akan roh-roh yang mendiami bangunan-bangunan purbakala akan tetapi merasa diancam oleh bangunan-bangunan dan roh-roh tersebut. Di setiap desa di mana selamatan atau upacara lain diadakan di situs-situs purbakala ada yang mengikut dan ada yang harus melihat tetapi menganggapnya sebagai sesuatu yang salah dalam pengertian agama Islamnya yang benar.

Arti peninggalan-peninggalan itu juga diancam oleh karena orang muda tidak menganggap kepercayaan itu sebagai sesuatu yang serius. Menurut Beatty, “Without the exegesis that draws adherents deeper into the complex world of mystical knowledge, the signs and symbols can retain only a magical significance or serve as reminders of harmless platitudes”. Sekarang orang muda biasanya lebih dipengaruhi oleh Islam yang bersifat ortodoks. Kepercayaan dan pemujaan yang dilakukan di situs-situs purba dianggap sebagai sesuatu yang kuno atau telah ketinggalan zaman. Orang muda itu tetap menghormati baik kepercayaan tradisional maupun orang yang memegang kepercayaan itu akan tetapi mereka lebih cenderung kepada konsep Islam yang lebih “modern”.

Agama Hindu

Umat Hindi Bali dan pada khususnya Jawa sangat bangga bahwa situs yang paling suci dalam kepercayaannya terletak di dalam negaranya sendiri. Sering perkataan Majapahit muncul dan dianggap sebagai “…a claim to substance – important for a minority religion – and a touchstone of authenticity”. Perpustakaan Jawa kuno, tantu panggelaran, mencatat bahwa Gunung Mahameru dibawa dari India ke Jawa. Puncaknya jatuh menjadi Gunung Penanggungan sedangkan Gunung Mahameru menjadi Gunung Semeru. Gunung-gunung tersebut dianggap suci oleh umat Hindu baik Jawa dan Bali dan sering menjadi fokus dalam penziarahannya.

Memang ada beberapa perbedaan antara umat Hindu dalam penggunaan situs purbakala yang terdapat di Jatim dan pada khususnya umat Hindu Jawa dan Bali. Dalam konversasi dengan seorang Hindu di Trowulan berberapa perbedaan disebutkan antara umat Hindu Jawa dan Bali dan pada khususnya perdedaan dalam arti ritual dan filsafof. Katanya perkembangan umat Hindu Jawa dalam keberanian, kebanggaan dan intelektualitas bagus sekali. Akan tetapi ada yang tidak mengerti makna dari upacara yang mereka lakukan di candi purbakala. Tujuannya benar, yaitu “untuk menyentuh Tuhan” akan tetapi mereka malukukan ritual sesuai dengan keyakinan masing-masing.

Memang orang itu sekarang berusaha untuk mencoba mengerti agama Hindu dalam arti filsafat daripada mengikuti ritual saja. Katanya Tuhan tidak terbentuk. Tuhan itu sesuatu yang terlalu “besar” untuk dimengerti manusia sehingga manusia boleh memujiNya dalam bentuk apa saja yang diinginkan. Kebanyakan umat Hindu suka memujiNya dalam bentuk inkarnasi misalnya Siwa atau Ganesa. Candi purbakala merupakan pusat pemujaan dimana orang-orang dapat memikirkan Tuhan. Menurutnya tidak ada satu ritual Hindu yang lebih benar daripada yang lain. Katanya kebanyakan aktivitas keagamaan di Bali lebih mementingkan ritual daripada filsafof.

Kadang-kadang komunitas Hindu merasa terancam oleh karena mereka merupakan pulau di tengah laut Islam. Saat ini jumlah umat Hindu yang tercatat, baik Hindu Jawa dan Bali, sekitar 400,000 orang di Jatim. Di luar beberapa rumah di Trowulan dipasang tanda yang mencerminkan perasaan tersebut. Tanda itu ditulis dengan Undang-undang Repuklik Indonesia yaitu:

1. Setiap orang bebas memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kerpercayaannya itu.
2. Negara menjam kemerdekaan setiap orang memeluk agamannya masing-masing dan beribadat menurut kepercayaannya.
- Undang-undang Repulik Indonesia, 1999, HAM Pasal 22.

Ketika ditanya tentang alasan untuk memasang tanda tersebut orangnya mengatakan bahwa pernah ada orang yang merusakkan puranya (tempat pemujaan Hindu yang terdapat di rumah). Katanya penggunaan peninggalan-peninggalan purbakala kadang-kadang dilihat sebagai ancaman oleh orang yang mengikut agama lain di sekitarnya.

Agama Budha

Pada pokoknya umat Budha menggunakan peninggalan untuk mempraktekkan meditasi dan kesadaran Dharma. Kebanyakan orang Budha yang diwawancarai mengunjungi candi-candi oleh karena mereka dapat berlatih meditasi maupun sekedar mendekatkan diri pada alam.

Kita harus mengingat bahwa agama Buddha di Jawa tidak dapat dilepaskan dari kepercayaan asli Jawa. Banyak umat menjalani agama yang memiliki unsur-unsur Jawa asli. Ada yang masih tetap percaya pada adanya danyang dan roh nenek-moyangnya yang masih berdiam di tempat-tempat suci. Ketika saya mengunjungi situs-situs di Gunung Arjuna saya bertemu dengan umat Buddha yang mengikuti rombongan orang yang berkepercayaan agami Jawa (agama Jawa).

Menarik bahwa agama Budha yang menarik masuk tidak mengalami masalah dengan agama lain seperti agama Hindu yang tidak menarik masuk secara aktif. Sering di Jawa orang dari setiap agama (termasuk agama Islam ortodoks) belajar tentang meditasi. Kita dapat melihat bahwa tokoh-tokoh Buddha di Indonesia sangat dihormati misalnya kehormatan yang ditunjukkan ketika seorang Bhiksu wafat.

Pada pokonya, peninggalan-peninggalan purbakala merupakan tempat suci bagi umat Buddha. Sebetulnya, sifat candi-candi itu tidak begitu penting. Yang lebih penting adalah keinginan untuk memperkuatkan pikirannya dan saya dapat melihat umat Buddha yang berziarah ke bangunan-bangunan Hindu. Candi dan patung-patung Buddha dan arca Dewata yang terdapat di dalamnya digunakan untuk menginspirasikan dan membantu orangnya dalam ketaatan dan kesadaran. Dalam kerajaan Majapahit kedudukan Dewa Budha dianggap tidak berbeda dari Siwa. Persamaan antara umat Budha dan Hindu masih dapat dilihat dalam penggunaan peninggalan purbakala sekarang. Misalnya di Candi Boyolangu di Tulungagung umat Budha dan Hindu merayakan hari Waisak bersama-sama.


Bab IV: Kesimpulan

Peninggalan-peninggalan purbakala masih memiliki peran dan arti bagi berapa golongan dalam masyarakat Jawa dan Bali dan pada khususnya dalam arti keagamaan. Pada pokoknya terdapat lima macam bangunan purbakala di Jatim yaitu candi, punden berundak, pitirtaan, gapura (termasuk candi bentar) dan stupa. Bagi tiga aliran agama dan kepercayaan utama di Jawa bangunan ini memiliki peran yang penting yaitu agama Islam yang cenderung kepada kepercayaan asli Jawa, agama Hindu baik Jawa dan Bali dan agama Budha.

Bagi umat Islam peninggalannya dianggap sebagai tempat di mana arwah nenek moyang, makhluk halus dan Dewata dapat dipuja supaya komunitasnya selamat dan bebas dari bahaya. Selamatan dan upacara lain sering diadakan di bangunan suci terutama di daerah perdesaan Jatim. Bangunan yang terdapat di gunung-gunung dianggap sebagai tempat di mana penziarah dapat memikirkan kehidupannya dan memuja para arwah nenek moyangnya dalam suasana yang cocok.

Bagi umat Hindu peninggalan purbakala dianggap sebagai tempat di mana Dewata berdiam selama suatu upacara dilakukan. Di lereng gunung-gunung di Jatim terdapat bangunan suci yang merupakan tempat penziarahan umat Hindu. Bangunan-bangunan purbakala merupakan suatu hubungan antara umat Hindu sekarang dengan nenek moyangnya dan sejarahnya sendiri.

Umat Budha berziarah ke bangunan suci sebagai tanda kehormatan dan untuk mempraktekkan ajaran Budha yaitu mengenal dan mengasah pikirannya. Seperti halnya dengan umat Hindu, umat Budha juga melihat bangunan-bangunan dalam arti kesejarahan. Pada hari besar Budha, misalnya Hari Waisak, bangunannya menjadi fokus untuk perayaan dan penyemadian

Penggunaan peninggalan purbakala lain termasuk rekreasi dan turisme. Di gunung-gunung situs-situs dan fasilitas yang dibangun oleh penziarah digunakan untuk penkemahan. Candi-candi digunakan sebagai tempat bermain oleh anak-anak atau di mana pasangan dapat berkencan dalam suasana sepi.

Penggunaan situs-situs purbakala mengakibatkan beberapa isu yang muncul oleh karena ada perbedaan dan persamaan dalam arti yang berkaitan dengan situs-situs itu. Ada yang melihatnya sebagai semacam ancaman bagi agamanya sendiri. Ada yang melihatnya sebagai sesuatu yang menghubungkan agamanya dengan agama lain. Ada yang melihatnya dalam arti keagamaan dan ada yang mencurigai orang yang melihatnya dalam arti lain.

Kita dapat melihat bahwa peninggalan-peninggalan purbakala memiliki arti yang sangat penting bagi beberapa golongan dalam masyarakat Jawa dan Bali. Bangunan tersebut merupakan sumber perbedaan dan persamaan bagi orang yang memanfaatkannya baik dalam arti keagamaan maupun arti yang tidak spiritual.


Daftar Pustaka

Arwana, I. Mengenal Peninggalan Majapahit di Daerah Trowulan, Koperasi Pegawai Republik Indonesia, Trowulan, 1988.

Beatty, A. Varieties of Javanese Religion An Anthropological Account, Cambridge University Press, Cambridge, 1999.

Daltan, B. Indonesia Handbook, Moon Publications, Singapore, 1980.

East Java Government Tourism Service, Memories of Majapahit, 1998, http://www.eastjava.com/books/majapahit/, (terakhir dibuka 29 Mei, 2002).

Geertz, C. The Religion of Java, The University of Chicago Press, Chicago, 1960.

Hefner, R. ‘A Gentle Blend of Islam and Adat’, dalam Java, ed. E. Oey, Periplus Editions, Singapore, 1991, h. 66-69.

Irsam, List of Majapahit Archeological Remains, 2000, http://majapahit.virtualave.net/Candi/list.htm, (terakhir dibuka 2 April, 2002).

Kusen, Sumijati, A. & Inajati, A. ‘Agama dan Kepercayaan Masyarakat Majapahit’, dalam 700 Tahun Majapahit, Suatu Bunga Rampai, ed. S. Kartodirdjo, Dinas Pariwisata Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur, Surabaya, 1993, h. 90-115.

Ling, T. A History of Religion East and West, Macmillan, London, 1979.

Maas, D. Antropologi Budaya, Penerbit Karunika, Jakarta, 1986.

Miksic, J. ‘Ancient Sites in the Brantas River Valley’, dalam Java, ed. E. Oey, Periplus Editions, Singapore, 1991, h. 324-329.

Oetomo, Dede, ‘Holy Graves and Mountain Springs’, dalam Java, ed. E. Oey, Periplus Editions, Singapore, 1991, h. 306-307.

Piyasilo Jalan Tunggal Studi Perbandingan Mengenai Mahayana dan Theravada, Yayasan Penerbit Karaniya, Bandung, 1995.

Rosadi, B. ‘Di Balik Kegiatan Dharma Santi Pandaan Umat Hindu di Jatim Kurang Dapat Bimbingan’, 2002, http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2002/4/22/bd1.htm, (terakhir dibuka 29 April, 2002).

Soekmono, R. Pengantar Sejarah Indonesia 2, Penerbit Kanisus, Yogyakarta, 1973.

Soekmono R. & Romli I. ‘Peninggalan-peninggalan Purbakala Masa Majapahit’, dalam 700 Tahun Majapahit, Suatu Bunga Rampai, ed. S. Kartodirdjo, Dinas Pariwisata Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur, Surabaya, 1993, h. 66-88.

Stokes, G. Buddha, Penerbit Erlangga, Jakarta, 2000.

Sunyoto, A. Wisata Sejarah Kabupaten Malang, Lingkaran Studi Kebudayaan, Malang, 2000.

Susasifitri, I. Altar Punden Berundak di Gunung Penanggungan dan Gunung Arjuna, Skripsi, UGM.

Wahyono, W. Kapita Selekta Agama Budha II, Departemen Agama dan Universitas Terbuka, Jakarta, 1994.

Yayasan Dhammadipa Arama, Kitab Suci Dhammapada, Yayasan Dhammadipa Arama, Jakarta, 2001.



Lampiran A: Situs-situs Purbakala di Jatim


1. Kabupaten Blitar 6. Kabupaten Probolinggo
Candi Penataran Candi Jabung
Candi Sumberjati 7. Kabupaten Pasuruan
Candi Boro Candi Gunung Gangsir
Candi Kalicilik Candi Jawi
Candi Sumbernanas Petirtaan Belahan
Candi Gambar Wetan Grup Situs Sepilar/Indrokilo
Candi Bacem 8. Kabupaten Sidoarjo
Candi Sawentar Candi Pari
Candi Kotes Candi Sumur
Candi Wringin Branjang Candi Dermo
Candi Plumbangan Candi Pamotan
2. Kabupaten Kediri 9. Kabupaten Jombang
Candi Surowono Candi Rimbi
Candi Tegowangi 10. Kabupaten Mojokerto
3. Kabupaten Tulungagung Candi Bajang Ratu
Candi Boyolangu Candi Bangkal
Candi Dadi Candi Brahu
Candi Penampian Candi Jedong
Candi Sanggrahan Candi Kasiman Tengah
Candi Mirigambar Candi Minak Jinggo
Candi Ngampel Candi Kedaton
4. Kabupaten Nganjuk Candi Tikus
Candi Ngetos Candi Wringin Branjang
Candi Lor Petirtaan Jolotundo
5. Kabupaten Malang Candi Siti Inggil
Candi Jago
Candi Kidal
Candi Singosari
Candi Sumbeawan
Candi Badut
Candi Songgoriti
Lampiran B: Candi Berantakan

Lampiran C: Padahal Jadi Jugaan Tokoh dan Artis untuk Mandi Suci

Lampiran D: Surat Undangan Hari Waisak

Lampiran E: Arus Informasi dan Globalisasi Menumbuhkan Fanatisisme Sempit

Lampiran F: Bentuk Petinya Ikuti Postur Mudra

Lampiran G: Surat Ijin Penelitian

Theme For Nokia S60 3rd

Comments