Kamis, 01 April 2010

Makalah Farmakologi Antibiotik Makrolida

KATA PENGANTAR


Puji syukur ke hadirat Alloh SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Farmakologi Antibiotik Makrolida tepat pada waktunya.
Kami juga tidak lupa berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu terselesaikannya makalah ini. Kami mengucapkan terima kasih kepada :
1. Ibu Dra. Dewi Aminah, M.Kes. selaku Ketua Program Studi Keperawatan Sidoarjo.
2. Ibu Siti Fatimah, S.Kep. selaku Dosen Wali Kelas II-B.
3. Ibu Dra. Kiaonarni, Apt. selaku Dosen Mata Kuliah Farmakologi.
4. Staf dan karyawan perpustakaan Prodi Keperawatan Sidoarjo, Akademi Kebidanan Sutomo dan Akademi Keperawatan Sutomo.
5. Serta teman-teman dan pihak yang membantu terselesaikannya makalah ini.
Kami sebagai penulis menyadari sepenuhnya bahwa makalah kami ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu kami mengharapkan saran dan kritik dari para pembaca demi sempurnanya makalah ini. Mudah-mudahan makalah ini bisa bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya.


Sidoarjo, 28 Juni 2005



Penulis

DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii

BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 1
B. Tujuan 1
C. Perumusan Masalah 2

BAB II PEMBAHASAN 3
A. Farmakokinetik 3
B. Farmakodinamik 3
C. Efek Samping dan Reaksi yang Merugikan 3
D. Mekanisme Kerja 4
E. Farmakologi Klinis 5
F. Indikasi Penggunaan 8
G. Toksisitas dan Efek Samping 8

BAB III PENUTUP 10
A. Kesimpulan 10
B. Saran 11

DAFTAR PUSTAKA 12


BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Eritromisin, turunan dari bakteri seperti jamur, streptomyces erythaeus pertama kali diperkenalkan pada awal tahun 1950-an. Eritromisin menghambat sintesis protein. Dalam dosis rendah sampai sedang, obat ini mempunyai efek bakteriostatik dan dengan dosis tinggi efeknya bakteriostatik dan dengan dosis tinggi efeknya bakterisidal. Eritromisin dapat diberikan melalui oral atau intravena. Karena asam lambung merusak obat, berbagai garam eritromisin (contoh etilsuksinat, stearat dan estolat) dipakai untuk mengulangi disolusi (pecah menjadi partikel-partikel kecil) di dalam lambung dan memungkinkan absorbsi terjadi pada usus halus. Untuk pemakaian intravena, senyawa, eritromisin laktobionat dan eritromisin gluseptat, dipakai untuk meningkatkan absorbsi obat.
Eritromisin aktif melawan hampir semua bakteri gram positif, kecuali staphylococcus aureus, dan cukup aktif melawan beberapa gram negatif. Obat ini sering diresepkan sebagai pengganti penisilin. Obat ini merupakan obat pilihan untuk pneumonia akibat mikroplasma dan penyakit legionnaire.
Eritromisin dibuat oleh streptomyces erythreus dan secara kimiawi merupakan cincin lakton makrositik. Sering golongan antibiotika ini disebut sebagai makrolida. Ia mempunyai pka yang tinggi 8,8 dan senyawa induknya (basa/mungkin rentan terhadap keasaman lambung).

B. Tujuan
B.1. Tujuan Umum
a. Untuk meningkatkan kemampuan membuat makalah para mahasiswa.
b. Untuk meningkatkan perbendaharaan kata.
c. Untuk meningkatkan ilmu pengetahuan.
B.2. Tujuan Khusus
a. Agar mahasiswa lebih mengetahui dan memahami tentang farmakologi.
b. Agar mahasiswa mengetahui macam-macam antibiotik khususnya makrolida.
c. Agar mahasiswa lebih mengetahui efek obat-obatan.
d. Agar mahasiswa mengetahui kandungan yang terdapat dalam antibiotik makrolida.
e. Agar mahasiswa lebih mengetahui manfaat dan kerugian dari obat-obatan antibiotik khususnya makrolida.

C. Rumusan Masalah
C.1. Bagaimanakah farmakokinetik dari makrolida ?
C.2. Bagaimanakah farmakodinamik dari makrolida ?
C.3. Apakah efek samping dan reaksi yang merugikan dari makrolida ?
C.4. Bagaimana mekanisme kerja dari makrolida ?
C.5. Apakah farmakologi klinis dari makrolida ?

BAB II
PEMBAHASAN


A. Farmakokinetik
Preparat eritromisin oral diabsorbsi dengan baik melalui saluran gastrointestinal. Obat ini tersedia untuk pemberian intravena, tetapi harus diencerkan dalam 100 ml salin atau dextrosa 5% dalam larutan air untuk mencegah plebitis atau rasa terbakar pada tempat suntikan. Obat ini mempunyai waktu paruh yang singkat dan efek pengikatnya pada proteinnya sedang. Obat ini diekstresikan ke dalam empedu, feses dan sebagian kecil dalam urine. Karenanya jumlah yang diekskresikan ke dalam urine sedikit, maka insufisiensi ginjal bahkan merupakan kontra indikasi bagi pemakaian eritromisin.

B. Farmakodinamik
Eritromisin menekan sintesis protein bakteri. Mulai terjadi preparat oral adalah 1 jam. Waktu untuk mencapai puncak adalah 4 jam dan lama kerjanya adalah 6 jam.

C. Efek Samping dan Reaksi Yang Merugikan
Efek samping dan reaksi yang merugikan dari eritromisin adalah gangguan gastrointestinal, seperti mual dan muntah, diare dan kejang abdomen. Reaksi alergi terhadap eritromisin jarang terjadi. Heptotoksisitas (toksisitas hati) dapat terjadi jika obat dipakai bersama obat-obatan hepatotoksik lainnya seperti asetaminofen (dosis tinggi), fonotiazin dan sulfonamid. Eritromisin estolat (ilosone), nampaknya lebih mempunyai efek toksik pada liver dibandingkan dengan eritromisin lainnya. Kerusakan hati biasanya bersifat reversible jika obat dihentikan. Eritromisin tidak boleh dipakai bersama klindomisin atau linkomisin karena mereka bersaing untuk mendapatkan reseptor.
Obat Dosis Pemakaian & Pertimbangan
Eritromisin basa
(E-mycin, ilotycin) D : PO : 250-500 mg/6 jam
A : PO : 30-50 mg/kg/hr dalam dosis terbagi (setiap 6 jam)
Tablet enterik-coated untuk mencegah asam lambung merusak obat. Dosis > tinggi diperlukan untuk infeksi yang berat.
Eritromisin stearat
(Erythromicin) Sama seperti E-mycin Stabil dalam asam. Tidak boleh dipakai bersama makanan. Dalam bentuk tablet salut

Eritromisin etilsuksimat (E.E.S., E-mycin E, pediamycin) Sama seperti E-mycin Tidak terpengaruh oleh makanan. Tersedia dalam bentuk cair, tablet kunyah dan tablet salut.

Eritromisin estolat (ilosone) Sama seperti E-mycin Tersedia dalam bentuk cair, tablet kunyah, tablet dan kapsul. Ada kaitan antara hepatotoksistas dengan garam estolat.

Eritromisin laktoblonat (Erythrocin lactobionate-I.V)
D : IV : 1-49/hr dalam dosis terbagi 4 (setiap 6 jam)
A : IV : 15-20 mg/kg/hr dalam dosis terbagi 4
Untuk pemberian intravena.
D : Dewasa A : Anak-anak
PO : peroral

D. Mekanisme Kerja
Eritromisin menghambat sintesis protein yang tergantung RNA. Pada sub unit ribosom 50 S menyekat reaksi-reaksi transpeptidasi dan translokasi. Terdapat bukti yang menggambarkan bahwa eritromisin dapat paling sedikit sebagian menempati suatu tempat pengikatan bersama-sama dengan klindamisin.
1. Spektrum aktivitas utama eritromisin melawan organisme-organisme gram positif meskipun beberapa jenis bakteri gram negatif mungkin rentan juga. Treponema, mycoplasma, chlamydia dan ricketsia dapat rentan.
2. Obat ini terutama bersifat bacteriostatik tetapi pada konsentrasi lebih tinggi dan terutama terhadap bakteri gram positif dapat bersifat bakteriosid.
3. Ia basa lemah dan secara bermakna lebih aktif pada pH alkali daripada pada pH netral atau asam.
4. Resistensi terhadap eritromisin dapat terjadi oleh mekanisme berikut ini :
a. Ketidakmampuan antibiotika untuk menembus mikroba.
b. Perubahan tempat reseptor pada ribosom 50 S.
c. Metilasi adenin.

E. Farmakologi Klinis
V.1. Kerentanan
Kerentanan in vitro untuk patogen yang tersering diisolasi diperlihatkan dalam tabel. Terlihat aktivitas yang selalu tinggi terhadap S. neumoniae dan strepptococcus grup A, meskipun kadang-kadang dapat ditemukan isolat-isolat yang resisten. Aktivitas in vitro terhadap S. aureus (meskipun dapat terbukti rentan dengan tes in vitro) dapat menghasilkan seleksi resitensi. Resistensi ini dikenal sebagai “resistensi yang tidak berhubungan”, memilih sebagian kecil populasi yang resisten.
Organisme-organisme lain yang rentan terhadap eritromisin meliputi Listeri monocytogenes, Coryne bacterium aphtheriae, Actinomycin dan Clostridium perfringes. Bakteri gram negatif yang rentan terhadap eritromisin meliputi Neiseria, Meningitidis, Mgonorgoweae, Bacterioides pertusis, Hemphilus influenzae. Kerentanan B. Fragilis berubah-ubah.
Mikroba-mikroba rewel yang rentan terhadap eritromisin meliputi : legionella, pneumophilla, t. pallidium, mycoplasma pneumonia dan rickettsia.

Kerentanan mikroba patogen yang biasa terhadap eritromisin
Konsentrasi Penghambat Minimum

Organisme Batas Median
B. fragilis 0,1 – >100 2,5
B. Pertussis 0,02 – 1,6 0,3
C. Diphteriae 0,006 – 3,1a 0,02
Ce. Perfringes 0,1 – 6a 0,8
Enterokokus 0,1 – >100 1,5
H. Influenzae 0,1 – 6 3,1
L. Monocytogenes 0,1 – 0,3 0,2
Mycoplasma Pneumonae 0,001 – 0,02 0,005
N. Gonorrhoeae 0,005 – 0,4a 0,1
N. Meningitidis 0,1 – 1,6 0,4
S. Aureus 0,005 – >100 0,4
S. Epidermidis 0,2 – >100 0,6
S. Pyogenes 0,005 – 0,2a 0,04
S. Viridans 0,02 – 3,1a 0,06

Kadar darah dan jaringan diperlukan dalam tabel basa stearat dan etilsussinat paling baik diabsorbsi bila lambung kosong.
a. Nyeri pada penyuntikan IM menghalangi pemberian dengan jalur ini. Plebitis dapat terjadi pada infus IV. Obat ini harus diencerkan dengan baik sebelum diberikan IV.

Kadar darah rata-rata eritromisin pada orang dewasa :
Bentuk Jalur Dosis (mg) Puncak
(jaringan setelah dosis)
Mg/ml
- Basa Oral 250
500 4 0,3 – 0,5
0,3 – 1,9

- Estolat Oral 250
500
2 – 4
3,5 – 4 1,4 – 1,7
4,2a (1,1)b
- Etilsuksinat Oral 500
0,5 – 2,5 1,5a (0,6)b
- Gluseptat IV 250
1000
Segera
1 3,5 – 10,7
9,9
- Laktobionat IV 200
500
Segera
1 3 – 4
9,9
- Stearat Oral 250 (puasa)
500 (puasa)
500 (puasa) 3
3
3 0,2 – 0,7
0,4 – 1,8
0,1 – 0,4

b. Kira-kira 40% obat terikat. Ia menetap di dalam jaringan lebih lama daripada di dalam darah.
c. Jika konsentrasi darah rata-rata yang diambil sebagai 1,0 maka konsentrasi pada tempat-tempat tubuh lainnya sehingga empedu 30; telinga tengah 0,7; cairan prostat 0,4; cairan serebrospinalis (tanpa peradangan) < 0,01; cairan serebrospinalis (dengan peradangan) < 0,1.
d. Eritromisin dipekatkan oleh hati dan diekskresi ke dalam empedu. Terdapat sirkulasi enterohepatik. Jumlah obat antik yang dapat ditemukan dalam urine kurang dari 15%.
e. Waktu paruh serum ± 1½ jam dengan kadar serum yang adekuat, tersedia selama sampai 6 jam biasanya tidak diperlukan penentuan dosis pada kegagalan ginjal.
f. Eritromisin tidak dapat dikeluarkan oleh dialisis peritoneal maupun kemodialisis.

F. Indikasi Penggunaan (Tabel 5.3.)
Indikasi primer dan sekunder penggunaannya disajikan dalam tabel :
1. Guna utama sebagai pengganti penisilin.
2. Penggunaan lainnya meliputi terapi legionella pneumophilla (penyakit legionnaire) dan mycoplasma pneumoniae.
3. Penerapan klinis modifikasi kimia eritromisin sama seperti yang dijelaskan untuk eritromisinnya sendiri.
Indikasi dan dosis eritromisin
Indikasi Dosis orang dewasa
• Primer
Difteria
(LP)
mycoplasma pneumoniae
batur • Stadium pembawa (carrier) 500 mg IV diikuti dengan oral 10 hari
- 0,5 – 1,09 qid PD atau IV
- 0,5 gm tid – qid PO atau IV
- 0,5 qid PO
• Sekunder
Infeksi dan anaerob bionkopulmonum infeksi streptokokus grap a, b, c, g
Gonore
Genital
Diseminata
Profilaksis endokarditis bakterialis (pada tindakan gigi)
Profilaksis demam reumatik
Infeksi streptococcus pneumoniae
Sifilis • Arggid
- 250 – 500 mg qid PO 10 hari
- 1,5 qid PO diikuti dengan 500 mg qid selama 4 hari
- 500 mg setiap 6 jam IV (3 hari) / PO (5 hari)
- 1 PO 1 – 2 jam sebelum tindakan kemudian 500 mg qid PO selama 4 dosis
- 250 mg qid PO
- 250 – 500 mg qid PO 10 hari

G. Toksisitas dan Efek Samping
Eritromisin salah satu antibiotika terlama yang digunakan saat ini. Yang berikut ini harus diperhatikan :
1. Iritasi : mual, muntah, diare yang berhubungan dengan dosis memperbaiki gejala-gejala ini.
2. Alergi.
3. Hepatitis kolestatik terjadi dengan estolat.
4. Peningkatan SGOT positif palsu.
5. Stenosis pilorus hipertrofik pada bayi.
6. Super infeksi kolon dan vagina.



BAB III
PENUTUP


A. Kesimpulan
a. Farmakokinetik
Preparat eritromisin oral diabsorbsi dengan baik melalui saluran gastrointestinal. Obat ini tersedia untuk pemberian intravena, terapi harus diencerkan dalam 100 ml salin atau dextrosa 5% dalam larutan air untuk mencegah plebitis atau rasa terbakar pada tempat suntikan.
b. Farmakodinamik
Eritromisin menekan sintesis protein bakteri.
c. Efek samping dan reaksi yang merugikan
Efek samping dan reaksi yang merugikan dari eritromisin adalah gangguan gastrointestinal, seperti mual dan muntah, diare dan kejang abdomen.
d. Mekanisme kerja
Eritromisin menghambat sintesis protein yang tergantung RNA pada sub unit ribosom 50 S menyekat reaksi-reaksi transpeptidasi dan translokasi.
e. Farmakologi klinis
1. Kerentanan
2. Kadar darah dan jaringan yang diperlukan
f. Indikasi penggunaan
Indikasi primer dan sekunder penggunaannya disajikan dalam tabel.
1. Guna utama sebagai pengganti penisilin.
2. Penggunaan lainnya meliputi terapi legionella pneumophilla (penyakit legionnaire) dan mycoplasma pneumoniae.
3. Penerapan klinis modifikasi kimia eritromisin.

g. Toksisitas dan efek samping
1. Iritasi
2. Alergi
3. Hepatitis kolestatik terjadi dengan estolat
4. Peningkatan SGOT positif palsu
5. Stenosis pilorus hipertrofik pada bayi
6. Super infeksi kolon dan vagina

B. Saran
1. Diharapkan pembaca dapat menambah sedikit pengetahuan mengenai antibiotik makrolida dalam makalah ini.
2. Diharapkan pembaca mencari literatur lain selain dari makalah ini karena makalah ini masih jauh dari kesempurnaan guna menambah pengetahuan tentang “Antibiotik Makrolida”.
3. Diharapkan pembaca dapat memberikan masukan terhadap kekurangan dari makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA


- Kee, Joyce L. 1996. Farmakologi Pendekatan Proses Keperawatan. EGC : Jakarta.
- Katzung, B.G. 1989. Farmakologi Dasar dan Klinik. EGC : Jakarta.

1 Comments:

Anjar Subiantoro mengatakan...

Download Gratis dengan mencopy paste!

Comments